Covid-19 juga Ganggu Kesehatan Mental Masyarakat

0
15.247 views
Ilustrasi virus corona. Foto Pixabay.

USAI pengumuman pemerintah Indonesia mengenai tanggap darurat bencana wabah Covid-19, ternyata tidak semua masyarakat mampu menyikapi dengan positif. Ada sebagian yang menjadi panik dan cemas, misalnya ada yang melakukan aksi borong kebutuhan pokok.

Kenaikan aktivitas belanja atau lebih populer dengan istilah panic buying  juga terjadi di sejumlah negara.  Beberapa masyarakat menjadi panik dan berasumsi negatif jika wabah makin menyebar, pertokoan tutup, toko kekurangan stock, atau aktivitas dibatasi sehinga terjadi panic buying.

Menurut Senior Manager Business Development Sequis Yan Ardhianto Handoyo, membeli kebutuhan pangan untuk berjaga-jaga adalah tindakan yang baik karena akan membantu mengurangi aktivitas di luar rumah. Tetapi, jika sampai menumpuk barang akan menimbulkan permasalahan baru, seperti utang ikut menumpuk karena memaksakan membeli barang yang belum dibutuhkan saat ini atau tidak memiliki uang tunai karena telah habis dibelanjakan.

“Ini belum termasuk dampak mental, seperti kepanikan  takut ada yang belum ditumpuk dan kepanikan bagi orang sekitar sehingga ikut memborong apa saja yang belum tentu perlu,” ujar Yan Ardhianto Handoyo dikutip dari siaran pers, Selasa (7/4).

Selain meningkatnya panic buying, merebaknya Covid-19 di hampir seluruh dunia berimbas juga pada   terganggunya kesehatan mental masyarakat karena informasi mengenai virus Covid-19 telah tersebar luas di media massa bahkan di media sosial dengan tak terkontrol. Walaupun tujuan awal pemberitaan atau informasi di media sosial mengenai virus dimaksudkan untuk memberikan kabar terkini dan membangun kewaspadaan, tetapi tidak semua melakukan dengan benar dan tidak semua dapat menyikapi sesuai yang diharapkan sehingga menimbulkan  rasa was-was, rasa cemas hingga ketakutan dalam masyarakat.

Seperti halnya terjadi di Italia, lanjut dia, karena tingginya kasus Covid-19 hingga negara ini harus menerapkan kebijakan  lockdown. Pada akhirnya, beberapa warga mengalami gangguan kecemasan dan memicu ketakutan yang tidak terkendali akibat terganggunya rutinitas normal, seperti yang disebutkan dalam pemberitaan Channel  News Asia (Corona virus fear takes mentall toll in Italy). Perasaan-perasaan negatif semacam ini tentu dapat memicu kecemasan permanen. Untuk itu, penting untuk segera mempersiapkan langkah penanganan yang tepat bilamana terjadi ketakutan dan kecemasan, terutama bagi mereka yang sebelumnya memang sudah memiliki gangguan kecemasan (anxiety disorder) dan Obsessive Compulsive Disorder (OCD). 

 Menurut World Health Organization (WHO) yang telah merilis beberapa saran untuk melindungi kesehatan mental selama masa pandemi Covid-19 dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti berempati pada mereka dari negara mana pun yang terkena dampak, tidak menyebut pasien sebagai orang yang “berpenyakit”, “Covid-19 cases”, “victims”, atau “Covid-19 families”. Penyebutan yang direkomendasikan oleh WHO adalah “people who have Covid-19” atau “orang yang memiliki Covid-19”.

Saran lainnya oleh WHO, agar masyarakat memilah informasi, yaitu pilihlah informasi yang memberikan pengetahuan tentang langkah-langkah praktis untuk melindungi diri dan disarankan hanya dari situs terpercaya, seperti dari WHO, Pemerintah, media tepercaya agar terhindar dari informasi bohong (hoaks).

WHO juga  menganjurkan untuk menyebarkan informasi positif mengenai pulihnya sebagian orang dari virus Covid-19. Dengan demikian, pikiran dan mental kita jauh lebih tenang dan sehat.

“Kita juga dapat memberi dukungan kepada petugas kesehatan yang telah menolong orang-orang dengan Covid-19  agar kita memiliki empati pada penderitaan orang lain,” katanya.

Hal lainnya, lanjut Yan, informasi yang tidak benar dalam bentuk hoax, teori konspirasi, ideologi seseorang, teori tanpa pembuktian yang kerap disebarluaskan di media sosial dapat menimbulkan berbagai masalah. Hoaks dan penyelewangan informasi (false information) terkait Covid-19 yang menyesatkan dapat memperburuk pandemi, yaitu meningkatkan dampak negatif bagi fisik dan mental, seperti terganggunya jam tidur dan selalu merasa cemas, terjadi gangguan  sosial, seperti tindakan rasisme kepada pihak lain,  dan gangguan ekonomi, misalnya panic buying karena termakan isu lockdown yang tersebar media sosial yang belum tentu tidak valid kebenarannya.

“Inilah fenomena era digital, yaitu mudahnya informasi bohong diposting dan hanya dalam hitungan detik dan bisa menyebar melalui berbagai platform media sosial yang menjadi lalu lintas penyebaran hoaks, seperti Facebook, Twitter, Youtube, Tiktok, Instagram, dan Whatsapp. Makin banyak disebar dan menyebar semakin sulit melakukan filter. Ini belum termasuk kemampuan masyarakat kita yang masih rendah memilah informasi dan tingginya keinginan untuk menyebarkan informasi yang mereka dapat,” ungkap Yan.

Menurutnya, penggunaan media sosial dalam situasi pandemi Covid-19 sebenarnya tidak salah karena terdapat banyak informasi yang update. Namun, menggunakan media sosial memerlukan kesadaran bahwa mengunggah, menyebarkan atau berbagi informasi harus lengkap, disertai bukti dan berani bertanggung jawab karena berpotensi disalahgunakan oleh orang lain. (aas)