CILEGON – Kasus penganiayaan oleh guru terhadap murid kembali terjadi di Kota Cilegon. Kali ini menimpa, MF (9) pelajar kelas 3 salah satu sekolah negeri di Kota Cilegon yang mengalami memar pada bagian lehernya akibat cubitan M, guru di sekolahnya. “Saya dicubit guru gara-gara saya lambat nulis arabnya,” ungkap MF kepada sejumlah awak media, Selasa (24/2/2015).

Dikatakan MF, selain dirinya, perlakuan yang sama juga kerap dipraktikkan guru agama itu ke teman-temannya. “Kadang kalau lagi marah, bu guru juga suka sebor-seborin air,” jelasnya.

Tidak terima atas perlakuan oknum guru terhadap anaknya, Hasan Saidan, ayah MF melaporkan perbuatan oknum guru itu ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Cilegon. “Sebenarnya saya sudah mengadukan persoalan ini ke pihak sekolah. Tapi tidak digubris, dan tadi pagi malah pihak sekolah menelpon saya, bilang kalau hal ini adalah persoalan sepele dan tidak perlu diperpanjang,” katanya.

Selama ini, kata dia, perlakuan guru itu sudah pernah ia dengar dari wali murid lain. Namun, ia baru mempercayai hal itu setelah belakangan anak kandungnya sendiri mengalami hal serupa. “Intinya pelaporan yang kami sampaikan ini guna memberikan efek jera kepada guru dan pihak sekolah agar tidak terjadi lagi,” jelasnya.

Ia menduga, penganiayaan yang dialami putranya itu bertentangan dengan amanat Undang Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Sementara itu, Kanit PPA Polres Cilegon Iptu Eka Fanny Pradita yang dikonfirmasi terkait laporan itu belum bersedia memberikan keterangan apapun. “Yang pasti laporan itu sudah kita terima dan akan kita proses,” ujarnya singkat. (Devi Krisna)