BNN Cilegon saat melakukan tes urine kepada pegawai Pemot Cilegon, beberapa waktu lalu.

CILEGON – Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Cilegon mengingatkan bahwa Kota Cilegon saat ini berstatus waspada narkoba. Berdasarkan pengamatan, masing-masing kelurahan dan kecamatan di Kota Cilegon memiliki potensi bahaya narkoba.

Kepala BNN Kota Cilegon Asep M Jaelani mengatakan, status waspada narkoba disematkan karena terdapat sejumlah titik daerah yang rawan peredaran narkoba. Jumlah kasus yang terungkap pun cukup banyak. “Tiga bulan ini sudah 16 orang yang kita rehabilitasi. Itu kasus yang terungkap, yang tidak kemungkinan lebih banyak,” kata Asep, kemarin.

Asep mencontohkan, di Kecamatan Ciwandan, potensi rawan narkoba di wilayah Tegalratu. Sementara, Merak potensi kerawanan narkoba di sekitar Madaksa. Kemudian di Citangkil, jumlah kos-kosan yang mencapai 1.400 pintu menjadi potensi kerawanan yang besar.

Kos-kosan yang mayoritas dihuni oleh pendatang menurut Asep menjadi potensi besar untuk peredaran serta penyalahgunaan narkoba. Tahun ini, dalam satu hari pada Februari lalu, 11 orang penghuni kos-kosan diamankan BNN karena kedapatan menggunakan narkoba. “Itu razia saat gelaran MTQ kemarin,” katanya.

Banyaknya kasus narkoba yang ditemukan, lanjut Asep, BNN merasa bahwa Kota Cilegon sudah seharusnya memiliki tempat rehabilitasi. Selama ini rehabilitasi masih dilakukan oleh BNN Kota Cilegon bekerja sama dengan Yayasan Badar Jalali. “Pemerintah perlu menyiapkan tempat rehablitasi agar proses rehabilitasi bisa berjalan dan terkontrol dengan baik,” katanya.

Untuk sementara, rehabilitasi yang dilakukan BNN Kota Cilegon tidak di tempat rehablitiasi khusus, melainkan di rumah pengguna narkoba dengan pengawasan satu minggu selama satu kali. “Untuk sekarang tidak perlu tempat khusus, bisa difasilitas yang sudah ada, misalnya di RSUD (rumah sakit umum daerah), yang penting ada,” kata Asep.

Hal tersebut menurut Asep sudah disampaikan ke Pemerintah Kota Cilegon, bahkan BNN sudah berupaya membangun kerja sama dengan RSUD Kota Cilegon. Namun, kerja sama itu belum bisa berjalan karena terkendala oleh ketentuan. Asep meminta Pemerintah Kota Cilegon untuk bertindak cepat agar tempat rehabilitasi bisa segera ada.

Untuk mencegah peredaran narkoba serta menekan angka pengguna barang haram tersebut, saat ini BNN Kota Cilegon terus melakukan sosialisasi, salah satunya dengan menyasar aparat kelurahan serta kecamatan. “Saat ini sosialisasi kita berikan kepada kasi trantib, dengan harapan mereka bisa menyebarluaskan kepada masyarakat yang ada di setiap kelurahan,” katanya.

Menurut Asep, upaya pencegahan narkoba perlu dilakukan oleh seluruh kalangan. Jadi, perlu ada upaya inisiatif masyarakat untuk mencegah peredaran dan penggunaan barang tersebut. “Kami siap men-support kegiatan masyarakat,” katanya.

Kasi Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNN Kota Cilegon Candratika Ari Putranto menambahkan, narkoba sudah menyasar semua kalangan. Bahkan, di Kota Cilegon narkoba sudah menyasar pelajar. “Anak berprestasi terjebak narkoba. Pamitnya mau bancakan ngerayain ulang tahun, pas pulang dalam keadaan linglung, idiot. Kabarnya sampai sekarang belum ada perubahan,” kata Candra.

Saat ini narkoba telah bervariasi dan dampaknya sangat berbahaya bahkan mengancam nyama penggunanya. “Anak SMP SMA di Cilegon mabuknya mabuk obat-obatan. Tramadol, macam-macam, sekarang mereka berkreasi sendiri,” tuturnya.

Menurut Candra, mereka terjerumus karena tidak tahu bahayanya seperti apa. Mereka tahu narkoba berbahaya, tapi efeknya seperti apa mereka tidak tahu sehingga penasaran dan mencoba. “Karena itu, pengawasan bersama perlu dilakukan,” tuturnya.

Kasi Trantib Kecamatan Ciwandan Edi Qudratullah mengaku, mendukung langkah BNN Kota Cilegon untuk menggandeng elemen masyarakat dalam pencegahan narkoba. BNN diharapkan bisa melakukan sosialisasi lebih sering dan langsung menyentuh kepada masyarakat. “Monitoring pun perlu lebih diperketat,” ujarnya. (mg09/ibm/dwi/RBG)