Dampak Demo, Pengusaha Rugi Rp1,7 Miliar

0
591 views

SERANG – Sejumlah pelaku industri di wilayah Serang Timur, Kabupaten Serang, mengaku mengalami kerugian lima hari ke belakang. Itu lantaran aksi unjuk rasa yang dilakukan buruh dan mahasiswa menolak UU Omnibus Law Cipta Kerja di berbagai daerah.

Manajer Pabrik PT Tridharma Kencana, Paulus Pongki Praditya, mengatakan, aksi unjuk rasa sangat berdampak pada dunia industri. Mulai dari proses pengiriman barang yang terhambat hingga target produksi yang menurun.

“Kami terjadi delay untuk proses delivery barang, sehingga otomatis sangat mengganggu kondisi keuangan perusahaan,” ungkap Pongki kepada Radar Banten melalui sambungan telepon seluler, Kamis (15/10).

Pongki mengatakan, kerugian juga terjadi pada penurunan target produksi. Selama lima hari ke belakang, pihaknya mengalami penurunan produksi sebesar 40 persen. “Kerugian omzet mencapai Rp1,7 miliar, kita kehilangan revenue selama lima hari,” ucapnya.

Dikatakan Pongki, di masa pandemi Covid-19 dunia industri dibayang-bayangi kebangkrutan. Jangan sampai, kata dia, ada persoalan lain yang makin memperparah kondisi. “Kita masih terus mencoba bertahan karena kita tidak mau ada PHK besar-besaran. Kita tetap berkomitmen supaya tetap berupaya menjaga stabilitas ekonomi di masa pandemi ini,” katanya.

Ia berharap semua pihak untuk memahami terlebih dahulu maksud dari Undang-Undang Cipta Kerja. Sehingga, tidak termakan isu yang bisa merugikan seluruh stakeholder. “UU Cipta Kerja banyak memberikan benefit buat karyawan. Jangan sampai UU ini jadi komoditi politik yang berakibat merugikan kita semua,” ucapnya.

Hal senada disampaikan Manajemen PT Japfa Comfeed, Igantius Eko. Kata dia, aksi unjuk rasa pasti berdampak pada dunia industri. “Dampak demo gak baik, tapi saya belum bisa menyampaikan persisnya karena belum konfirmasi ke bagian produksi,” katanya.

Sementara itu, Humas PT Nikomas Gemilang, Alex Rahman, mengatakan, secara umum memang dunia industri terdampak dengan maraknya unjuk rasa. Namun, pihaknya sudah mengantisipasi hal tersebut.

Ia mengatakan, saat aksi buruh besar-besaran, pihak manajemen mengambil kebijakan meliburkan semua karyawan. “Hari itu kita tidak produksi, karena bukan hanya mengantisipasi demo saja, tapi kita menghindari Covid-19, itu kan berkerumun,” katanya.

Akibat diliburkan aktivitas produksi, target produksi di bulan ini berkurang. Akan tetapi, kata dia, target akan tertutupi dengan produksi di hari berikutnya. “Kalau soal distribusi barang belum ada laporan terhambat,” ucapnya. (jek/alt)