Dampak Isu Erupsi GAK, Pengelola Wisata Pantai Merugi

Gunung Anak Krakatau. Foto: Krakatoa Tour

SERANG – Isu erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada puncak malam tahun baru menyebabkan pengunjung wisata Anyar-Cinangka menurun. Pengelola pantai terbuka di kawasan itu mengaku merugi karena banyak wisatawan yang membatalkan bookingan.

Pengelola wisata Pantai Pasir Putih Sirih, Desa Kamasan, Kecamatan Cinangka Asep Saepi mengatakan, kunjungan wisatawan pada liburan tahun baru tidak sesuai dengan ekspektasi. Pihaknya menyebutkan kunjungan wisata masih jauh dari harapan. “Sepi, kalau dibanding tahun kemarin memang masih mending, tapi kalau tahun baru biasanya tahun ini terhitung sepi,” katanya kepada Radar Banten, Kamis (2/1).

Asep mengatakan, pada libur tahun baru kunjungan wisatawan ke pantainya hanya sekitar 1.000 wisatawan saja. Padahal, pihaknya menargetkan kunjungan wisatawan sampai tembus 5.000 orang. “Kalau tahun baru biasanya, itu sampai 10.000 wisatawan, tahun ini hanya 10 persennya saja,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, banyak juga wisatawan yang membatalkan bookingan untuk penginapan. Dari 30 persen kamar yang sudah dipesan, 20 persen di antaranya membatalkan. “Pengunjung yang datang rata-rata berasal dari wisatawan lokal dari sekitar Serang-Cilegon. Dari luar daerah banyak yang batal,” ucapnya.

Dikatakan Asep, para wisatawan banyak yang takut terkait isu ancaman bencana dari erupsi GAK. Padahal, kondisi di kawasan wisata Anyar-Cinangka masih terbilang aman. “Tahun ini mah kita rugi,” katanya.

Sebelumnya, beredar informasi terkait erupsi GAK menjelang puncak pergantian tahun baru. Informasi itu juga tersebar di portal media online dan media sosial. Padahal, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan status GAK masih dalam kondisi aman dari ancaman bencana.

Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api pada PVMBG Hendra Gunawan mengatakan, tingkat ancaman dari erupsi GAK saat ini belum menunjukan peningkatan. Dampaknya juga hanya terjadi pada radius 2 kilometer. “(Wilayah pesisir-red) aman, dampak letusan hanya radius 2 kilometer dari kawah saja,” katanya katanya.

Sementara itu, pada malam perayaan tahun baru lalu, tingkat hunian sejumlah hotel di kawasan Selat Sunda mengalami peningkatan dari hari biasa. Tingkat hunian atau okupansi hotel ini mencapai 75 hingga 85 persen. “Ini khusus di kawasan Anyer Cinangka,” kata Ketua Umum PHRI Banten Achmad Sari Alam saat dikonfirmasi via telepon selularnya. 

Ia juga merasa senang meskipun tengah kondisi banjir di sejumlah daerah di Ibukota Jakarta dan sekitarnya, okupansi hotel di kawasan wisata mengalami peningkatan. Ini merupakan hal yang baru untuk terus mendorong peningkatan wisatawan di Selat Sunda pasca bencana 22 Desember 2018. “Ini ada peningkatan dan mudah-mudahan terus membaik,” katanya.

Ia berharap, kedepan 2020 semua sadar untuk pariwisata di Banten yang terus ditingkatkan bersama dengan pemda. “Ini untuk meningkatkan promosi karena penderitaan industri di pesisir Pantai Selat Sunda jangan sampai terus menderita sekarang,” harapnya.

Menurutnya, pasca tahun baru, okupansi mengalami penurunan yang signifikan karena banyak tamu yang melakukan pembatalan karena terjadi bencana banjir di sejumlah daerah. “Mudah-mudahan kondisinya pulih,” tuturnya.

General Manager Aston Anyer Beach Hotel Doddy Faturahman mengatakan, okupansi pada perayaan tahun hanya mencapai 72 persen karena ada penurunan. “Ini disebabkan banyak tamu yang melakukan pembatalan karena terjadinya banjir di Jakarta dan sekitarnya,” katanya.

Meskipun tidak tercapai target, ia merasa senang karena okupansi mengalami kenaikan dan kawasan wisata di Anyer mulai bangkit lagi. “Mudah-mudahan terus mengalami peningkatan dan kembali ramai,” katanya. (jek-skn/zee)