Dampak Polusi Udara, Air Hujan di Desa Anyar Menghitam

Fenomena air hujan menghitam akibat limbah industri di Kecamatan Anyar, Kamis (30/4)

ANYAR – Warga Kecamatan Anyar mengeluhkan pencemaran lingkungan berupa fenomena air hujan yang berubah menjadi warna hitam pekat dan berminyak, Kamis (30/4). Perubahan warna air hujan diduga berasal pencemaran udara salah satu perusahaan di wilayah Cilegon.

Pantauan Radar Banten, air hujan di wilayah Desa Anyar yang sudah berada di tanah berwarna hitam pekat. Air hujan juga berminyak dan berbau asap pembakaran. Diduga, air hujan bercampur asap yang keluar dari cerobong salah satu perusahaan di sekitar kawasan Pasar Anyar.

Anggota DPRD Kabupaten Serang asal Kecamatan Anyar, Suja’i A Sayuti mengaku, menerima keluhan dari masyarakat di wilayahnya terkait pencemaran udara. Katanya, air hujan di wilayahnya berubah warna menjadi hitam pekat dan berminyak, serta menimbulkan bau asap. Warga menduga, air hujan menghitam dampak dari campuran asap yang keluar dari cerobong salah satu perusahaan yang menjadi sumber pencemaran.

“Saat hujan, asap yang keluar dari cerobong milik perusahaan terkena air hujan, semuanya jadi hitam. Air juga berminyak dan menimbulkan bau,” ungkap Suja’i kepada Radar Banten melalui sambungan telepon seluler, Kamis (30/4).

Akibat pencemaran itu, kata politikus Partai Gerindra itu, pemukiman warga di kawasan wisata Anyar menjadi kotor. Kondisi itu juga berdampak pada hasil tangkapan ikan nelayan berkurang. “Nelayan Kecamatan Anyar juga merugi, hasil tangkapan mereka berkurang drastis,” keluhnya.

Berdasarkan informasi yang diterima Suja’i, kondisi air menghitam sering terjadi setiap turun hujan. Namun, kondisi terparah terjadi pada Kamis (30/4). “Ini (air hujan menghitam-red) banyak dikeluhkan masyarakat. Saya wajib menyampaikan aspirasi masyarakat ini,” ujarnya.

Ia mengaku, sudah menyampaikan persoalan tersebut kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Banten. Namun, sampai saat ini belum ada respons. “Saya harap ini segera ditindak lanjuti oleh pemerintah daerah,” harapnya.

Menurut Suja’i, wilayahnya kerap menjadi imbas dari pembuangan limbah perusahaan. Namun, corporate social respinsibility (CSR) perusahaannya lebih dominan ke wilayah Cilegon. “Pemkab Serang juga dapat apa, lebih banyak ke Cilegon,” kesalnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang, Sri Budi Prihasto mengaku, pihaknya sudah berkoordinasi dengan DLH Cilegon. Informasi yang ia terima, terjadi gangguan pada peralatan perusahaan yang mengganggu pembakaran sehingga menimbulkan kepulan asap hitam. “Berdasarkan informasi saat ini sudah tertangani,” ujarnya. (Rozak)