Dari 54 Cabor, 12 Cabor Banten Gagal Melaju ke PON XIX

Hengky S Bremeer
Hengky S Bremeer. (Foto: Andre AP)

SERANG – Sebanyak 12 cabang olahraga (cabor) dipastikan gagal berlaga pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat 2016. Dari 54 cabor yang diikuti pada pra-PON, Banten hanya mampu meloloskan 39 cabor. Jumlah cabor kemungkinan masih akan bertambah lantaran hingga saat ini sepak bola masih belum menggelar pra-PON.

Ke-12 cabor yang gagal menembus persaingan di Pra-PON, yakni catur putra, voli pasir, voli indoor, futsal, balap sepeda, bola basket, bridge, tenis lapangan, hoki indoor, tenis meja, panjat tebing, dan selam.

Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres) KONI Banten Hengky S Bremeer mengatakan, ke-12 cabor yang tidak lolos PON XIX tidak semuanya gagal meraih tiket di pra-PON pada beberapa waktu lalu. “Ada beberapa cabor yang lolos PON menurut pengurus besar (PB), tapi cabor tersebut tidak lolos menurut target KONI Banten. Dari awal KONI sudah menegaskan bahwa yang akan diberangkatkan menuju PON XIX adalah peringkat lima nasional di pra-PON,” kata Hengky kepada Harian Radar Banten, Rabu (3/2/2016).

Hengky menambahkan, dari 39 cabor yang lolos, Banten meloloskan 310 atlet menuju PON XIX. Dibandingkan dengan jumlah atlet yang lolos PON XVIII Riau 2012, jumlah tersebut jauh menurun. “Tapi, perlu dicatat bahwa yang lolos di PON lalu tidak ada target dari KONI. Semua atlet yang lolos di pra-PON menurut PB diberangkatkan. KONI tidak menargetkan lima besar makanya jumlah atlet yang lolos PON XVIII lebih banyak,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Umum KONI Banten Rumiah Kartoredjo menyatakan bahwa KONI hanya memberangkatkan atlet yang mampu bersaing di posisi lima besar nasional di pra-PON bukan tanpa tujuan. Hal itu diberlakukan untuk memperbaiki posisi dan prestasi Banten di PON XIX Jawa Barat 2016. “Saya tekankan bahwa PON XIX Jawa Barat bukan ajang rekreasi, tapi prestasi. Mau sampai kapan prestasi Banten di PON dipandang sebelah mata. Kita harus bisa berada di ranking yang lebih baik dari PON-PON sebelumnya. Bagi pengurus provinsi (pengprov), yang atletnya tidak diberangkatkan, meski berada di posisi keenam atau ketujuh agar tidak berkecil hati. Jadikanlah kegagalan sekarang sebagai motivasi untuk memperbaiki kualitas atlet ke depan,” ucapnya.

Mantan Kapolda Banten itu berharap, dengan memberangkatkan atlet peraih posisi lima besar nasional, peluang Banten untuk memperbaiki prestasi terbuka lebar. “Target di PON nanti tidak muluk-muluk. Target kita adalah finis di peringkat yang diawali angka satu. Tapi, tidak juga di posisi 19 atau 18. Atlet yang berada di posisi kelima nasional masih memiliki peluang untuk meraih medali perunggu. Kalau atlet yang berada di ranking ke enam atau ke tujuh dan seterusnya, peluang meraih medali terbilang tipis,” tandasnya.

Sebagai gambaran, semenjak Provinsi Banten terbentuk pada tahun 2000, Banten telah mengikuti tiga kali PON, yakni PON 2004, 2008, dan 2012. Namun, kontingen Banten belum mampu bersaing di papan atas pada multievent terbesar Indonesia tersebut.

Pada PON XVI Sumatera Selatan 2004, Banten bertengger di posisi 20 klasemen akhir dengan raihan tujuh medali emas, sembilan medali perak, dan 31 medali perunggu. Berikutnya, pada PON XVII Kalimantan Timur 2008, prestasi Banten menurun dan hanya mampu finis pada peringkat ke-22 dengan torehan lima medali emas, 12 medali perak, dan 30 medali perunggu. Terakhir pada PON XVIII Riau 2012, Banten naik satu tangga ke ranking ke-21 dengan capaian empat medali emas, delapan medali perak, dan 18 medali perunggu. (RB/dre/air/dwi)