DBD Renggut 10 Nyawa di Banten

0
1.090 views

SERANG – Demam Berdarah Dengue (DBD) menyerang kabupaten kota. Hingga kemarin, sudah ada sepuluh warga yang meninggal karena virus yang disebabkan oleh gigitan nyamuk aedes aegypti. Mereka tersebar di kabupaten kota di Banten.

Di Kota Serang, sejak Januari hingga Februari 2020 ditemukan ada 109 kasus DBD. Dua di antaranya meninggal.  Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang Ratu Ani Nuraini mengungkapkan data itu berdasarkan dari 16 puskemas di Kota Serang.  Pasien yang meninggal, kata Ratu Ani, ditemukan di Puskemas Banjaragung, Kecamatan Cipocokjaya, dan Puskesmas Taktakan.  “Kami mengimbau warga untuk meningkatkan kebersihan. Ini penting agar dapat terhindar DBD,” katanya kepada Radar Banten, Kamis (19/3).

Kepala Dinkes Kota Serang M Ikbal mengakui, terjadi peningkatan penemuan kasus DBD di awal tahun 2020 dibandingkan awal tahun 2019.  “Tentu kita harus waspada,” terangnya.

Untuk mengantisipasi DBD, Ikbal mengajak masyarakat melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) sehingga jentik nyamuk tidak berkembang biak.  “Kalau yang paling efektif itu PSN. Fogging dilakukan setelah ada yang terjangkit. Masyarakat harus membiasakan pola hidup bersih dan sehat,” tandasnya.

Sementara di Kabupaten Serang, sejak Januari hingga 13 Maret 2020 ada 111 kasus dengan tiga orang meninggal. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Kabupaten Serang Agus Sukmayadi mengatakan, yang meninggal dari Kecamatan Petir, Tanara, dan Tirtayasa.

Kata Agus,  untuk pencegahan DBD melalui pemberantasan sarang nyamuk dengan menutup tempat-tempat berair yang menjadi sarang nyamuk dan menguras tempat air. Kemudian membuang barang-barang bekas atau mendaur ulang barang bekas itu. “Untuk pengobatan tergantung dari daya tahan tubuh dan cepat atau lambatnya pemulihan gejala sakit, rata-rata perlu rawat inap selama lima sampai tujuh hari,” ujar Agus.

Sementara Dinkes Lebak mencatat 52 orang positif DBD. Dari 52 kasus itu dua orang meninggal  yakni warga Kecamatan Cipanas dan Warunggunung. Kepala Bidang Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Lebak Firman Rahmatullah mengatakan,  jumlah DBD pada Januari 10 orang, Februari 24 orang, dan Maret 17 orang.

“Di Lebak ada 52 kasus positif DBD dan dua di antaranya meninggal dunia, yakni di Cipanas dan Warunggunung. Sementara yang suspect DDB 160 orang lebih,” kata Firman.

Dinkes Lebak, lanjutnya, memberikan arahan kepada puskesmas, pemerintah kecamatan, dan desa untuk lebih intens melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Materi sosialisasi yakni 3 M plus, yakni menguras bak mandi, mengubur barang-barang yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, dan menutup bak mandi.  “Pemerintah desa dan pengurus RT diharapkan melakukan gotong- royong secara rutin. Upaya tersebut untuk mencegah peningkatan kasus DBD di Lebak,” harapnya.

Firman menambahkan, daerah yang endemis DBD di antaranya Kecamatan Rangkasbitung, Maja, Cipanas, Warunggunung, Cihara, dan Wanasalam.

Hal serupa juga terjadi di Kota Cilegon. Di Kota Baja itu, ada 125 kasus DBD dengan satu orang meninggal. Kepala Dinkes Kota Cilegon Arriadna mengatakan, sejak Januari hingga pekan kedua Maret, DBD tersebar di delapan kecamatan di Cilegon. Pada Januari 2020, sebanyak 59 warga menderita DBD satu di antaranya meninggal  yaitu warga di Kecamatan Cilegon. Sedangkan Februari sebanyak 55 warga, dan pada Maret 11 kasus.  “Kasus DBD paling banyak di Kecamatan Citangkil, sebanyak 29 kasus,” ujarnya, Kamis (19/3).

Arriadna mengaku tak pernah bosan mengingatkan kepada masyarakat untuk melakukan upaya pemberantasan sarang nyamuk serta melaksanakan pola hidup bersih dan sehat agar terhindar dari penyakit tersebut.  Karena, lanjutnya, upaya fogging tidak cukup untuk mencegah perkembang biakan nyamuk penyebab penyakit DBD.

MENURUN

Hal berbeda  terjadi di Kabupaten Tangerang. Selama Januari-Maret 2020 hanya ada 72 kasus. Jumlah tersebut diklaim menurun jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2019 sebanyak 189 kasus.

Kepala Bidang P2P Dinkes Kabupaten Tangerang Hendra Tarmizi mengatakan, Kabupaten Tangerang merupakan daerah endemis DBD dan setiap tahun selalu ada. “Sebaran kasus DBD ini hampir merata di seluruh kecamatan,” katanya.

Hendra menerangkan, ada tiga kecamatan dengan jumlah kasus DBD terbanyak yaitu Kecamatan Kronjo 16 kasus, Jambe 14 kasus, dan Cisoka 13 kasus. “Selain itu di Kecamatan Solear ada 9 kasus dan di kecamatan lain ada yang lima, empat dan satu kasus,” terangnya.

Selain karena sebagai daerah endemis, adanya kasus DBD ini dipengaruhi musim pancaroba yang sedang terjadi. Hendra meminta, di tengah adanya wabah corona, masyarakat harus melakukan pemberantasan sarang nyamuk.

Di tempat berbeda, Kabid P2P Dinkes Kota Tangerang Indri Bevy mengatakan, sejak Januari hingga Maret 2020 ada 34 warga Kota Tangerang yang terjangkit DBD. “Warga yang terjangkit Januari dan Februari sudah sembuh, untuk Maret ada delapan orang,” katanya.

Bevy mengungkapkan, untuk meminimalisasi DBD yakni melalui aksi eliminasi demam berdarah (Siminda) yang dilakukan serentak di 37 puskesmas di Kota Tangerang saat Sapa Sehat Ceria. “Kami melakukan Girij (Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik). Jadi setiap rumah sada satu pemantau jentik, kalau ada jentik dibasmi,” ungkapnya.

Di Tangsel, ada  87 warga sejak Januari hingga Maret terserang DBD dan dua warga meninggal. Sementara 10 orang dirawat intensif di RSU Tangsel. Plt Direktur RSU Tangsel dr. Umi Kulsum menyatakan awal Maret ada 17 pasien rujukan  dari puskesmas.

Umu merinci pada  Januari 2020 ada 29 kasus dan   Februari ada 41 kasus. “Pasien yang dirujuk ke kami kondisinya semakin membaik,” tukasnya

Sebelumnya, Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie mengunjungi RSU Tangsel yang merupakan rumah sakit rujukan penanganan DBD, Selasa (10/3). Ia menjelaskan dari 87 warga yang terkena DBD, dua orang meninggal. ”Dua warga meninggal dunia di bulan Februari, satu anak-anak dan dewasa tapi diakibatkan penyakit penyertanya,” terangnya.

HARUS JADI PERHATIAN

Pengamat Kesehatan dr Avenzoar mengatakan, kasus DBD di Banten harus mendapatkan perhatian dari pemerintah dan masyarakat. Kasus DBD dan virus corona sama-sama dua kasus yang tidak bisa dianggap remeh. Saat ini, jumlahnya cukup banyak di Banten sehingga perlu diwaspadai agar tidak menyebabkan korban lebih banyak.

“Untuk itu, masyarakat perlu mewaspadai dan meningkatkan kesadaran diri untuk menjaga kesehatan agar terhindar dari penyakit yang berbahaya seperti DBD maupun virus corona,” kata pria yang juga Direktur Poltekkes Aisyiyah Banten.

Ia mengungkapkan, DBD siklus karena pasca musim panas dan kini musim penghujan. Salah satu penyebabnya ada air yang tergenang sehingga membuat nyamuk berkembang biak. “Jika tidak tertangani dengan baik, bisa berakibat fatal,” katanya.

Ia mengimbau, masyarakat untuk berperilaku hidup sehat dengan membersihkan lingkungan baik dalam maupun di luar rumah. Selain itu, jangan lupa menguras bak mandi seminggu dua kali agar nyamuk tidak berkembang biak.  (fdr-jek-tur-skn-bam-one-you-mg04/alt)