Debat Pilkada Cilegon Panas

0
709

Mumu dan Helldy Serang Ati, Iye Lakukan Blunder

CILEGON – Debat calon Walikota dan Wakil Walikota Cilegon putaran dua yang diselenggarakan Sabtu (28/11) di salah satu stasiun televisi nasional berjalan lebih panas dibandingkan dengan debat putaran pertama yang diselenggarakan sepekan sebelumnya.

Tiga pasangan calon (paslon) Walikota dan Wakil Walikota Cilegon yaitu paslon nomor urut satu Ali Mujahidin-Firman Mutakin, nomor urut dua Ratu Ati Marliati-Sokhidin, dan nomor urut empat Helldy Agustian yang hadir tanpa Calon Wakil Walikota Cilegon Sanuji Pentamarta, terlibat adu serang.

Serangan berupa kritikan serta sindiran diamanatkan oleh paslon nomor urut satu dan empat kepada paslon nomor urut dua yang notabene adalah pasangan petahana.

Hal itu terjadi sejak sesi pertanyaan yang telah disiapkan oleh panelis untuk kandidat hingga sesi closing statement. Mengingat paslon nomor urut dua adalah petahana, serangan pun menggunakan embel-embel pemerintahan.

Kritikan itu pun dibalas oleh Ati dengan sejumlah program pemerintahan yang telah berjalan selama ini.

Pantauan Radar Banten, serangan terhadap petahana dimulai sejak sesi pertanyaan untuk paslon nomor urut satu yang berkaitan dengan masjid, madrasah, dan pondok pesantren. Calon Walikota Cilegon Ali Mujahidin menyampaikan jika selama ini keberpihakan APBD Kota Cilegon kepada sektor tersebut belum optimal.

Ia juga menyinggung terkait keberadaan taman yang teletak tepat di depan salah satu masjid di Kota Cilegon tapi taman tersebut kerap menjadi tempat berkumpulnya kelompok lesbian, gay, biseksual, transgender (LGBT), serta sejumlah orang yang pulang dari tempat hiburan malam.

Tak hanya itu, pria yang kerap disapa Mumu itu menilai saat ini keberpihakan pemerintah terhadap kesejahteraan guru maupun elemen yang berperan aktif pada pendidikan moral dan agama masih rendah. Pemerintah dianggap lebih mementingkan pembangunan infrastruktur.

“Honor guru agama akan ditingkatkan dari Rp450 ribu menjadi Rp1 juta, kalau dikalikan jumlah guru agama, RT, RW dan sebagainya, 5 ribu kali Rp1 juta, berarti Rp5 miliar dalam sebulan, berarti satu tahun hanya Rp60 miliar, lebih kecil dari program JLU (Jalan Lingkar Utara yang 36 km rencananya Rp1 triliun, jadi kesejahteraan lebih penting dari pembangunan,” papar Mumu.

Pada bagian ini, calon Walikota Cilegon Helldy Agustian pun ikut melontarkan kritikan. Menurutnya, berdasarkan hasil temuan di lapangan masih ada pesantren yang belum pernah mendapatkan bantuan. Kemudian banyak guru madrasah mengeluhkan honor yang dibayarkan setiap enam bulan sekali.

Ia menyoroti tentang fasilitas Masjid Agung Cilegon yang belum ramah terhadap penyandang difable atau disabilitas. “Kota santri jangan hanya dibibir saja, tapi harus diimplementasikan,” ujarnya.

Serangan kepada Ati sebagai petahana berlanjut pada pembahasan konsep Smart City. Pada bagian ini Ati menyebut pemerintah telah mengimplementasikan konsep Smart City, salah satunya dengan telah dipasanganya ratusan titik WiFi gratis untuk menunjang aktivitas masyarakat.

Komenter itu pun ditanggapi oleh Helldy dengan kritikan. Menurutnya, konsep Smart City tidak hanya sebatai wifi, namun akses bagi masyarakat agar mengetahui seluruh informasi secara menyeluruh.

“Di dalam keterbukaan informasi publik, harusnya kita mengetahui, sekarang lagi ada covid, Cilegon (anggaran penanganan Covid-19) Rp74,5 miliar, tapi dana covidnya kita gak tau, berapa dan siapa penerimanya, kita tidak bisa mengakses,” ujar Helldy.

Helldy menilai Cilegon masih jauh dalam mengimplementasikan konsep Smart City. Baginya, konsep tersebut diimplementasikan dalam bentuk pemanfaat sistem IT, akuntabel, transparan, dan responsif.

Begitu juga dengan Mumu, ia menyebut keterbukaan informasi pemerintah sangat buruk, hal itu dilihat dari sulitnya masyarakat untuk mengakses informasi tentang APBD, serta sistem informasi publik masuk dalam urutan terakhir dibandingak kabupaten dan kota lain di Provinsi Banten.

SINDIRAN MENOHOK

Sindiran pada Ati semakin menohok pada sesi tanya jawab. Pada kesempatan itu Mumu menyinggung Ati dengan isu nepotisme serta korupsi. Isu itu disinggung Mumu pada sesi tanya jawab.

Pada kesempatan itu, Mumu secara langsung bertanya pada Ati tentang upaya dalam menyikapi persoalan nepotisme dalam penempatan unsur birokrasi di pemerintahan Kota Cilegon. Pertanyaan itu bernada sindirian karena beberapa waktu terakhir mencuat ada salah satu anggota keluarga Ati yang terpilih dalam lelang jabatan.

Sedangkan isu korupsi dilontarkan Mumu pada kesempatan bertanya pada paslon nomor urut tiga Iye Iman Rohiman-Awab. “Dua kali Cilegon punya kepala daerah dua kali ditangkap KPK, bagaimana paslon nomor tiga menjamin ke depan tidak ada lagi hetrik atau korupsi yang melibatkan kepala daerah,” tanya Mumu.

Pertanyaan itu pun seolah menjadi singgungan untuk Ati, di mana dua kepala daerah yang dimaksud oleh Mumu adalah ayah dan adik Ati.

Sesi bertanya dimanfaatkan untuk menyerang Ati pun digunakan oleh Helldy. Ia mempertanyakan indikator kesuksesan yang diklaim Ati, karena menurutnya banyak program strategis pemerintah yang gagal.

BALAS SERANGAN

Paslon nomor urut dua Ratu Ati Marliati-Sokhidin tak membiarkan serangan berupa kritikan serta sindiran yang dialamatkan paslon lain.

Ati menyebut segala serangan yang dialamatkan pada sesi menjawab pertanyaan dari panelis merupakan bentuk ketidaktahuan paslon lain terhadap program-program yang telah dilaksanakan oleh pemerintah.

Misalnya pada bagian konsep Smart City. Menurut Ati selama ini pemerintah telah mengimplementasikan konsep tersebut dengan beragai macam aplikasi yang mengintegrasikan pemerintah kota dengan pemerintah kecamatan dan kelurahan, serta berbagai macam aplikasi lainnya yang mengarah pada semangat keterbukaan informasi publik.

Bahkan menurut Ati sejumlah aplikasi mendapatkan penghargaan dari pemerintah pusat. “Ada layanan yang sudah kita lakukan mungkin paslon lain tidak tahu,” ujar Ati.

Balasan menohok disampaikan oleh pasangan tersebut. Ati balik menyindir Mumu dengan menyinggung tentang yayasan untuk kepentingan politik. Diketahui, Mumu menjabat sebagai Ketua PB Al-Khairiyah sekaligus mengelola kampus Al-Khairiyah, Citangkil.

Kemudian pada sesi closing statement, Ati juga menyinggung dengan mengajak masyarakat agar tidak memilih pemimpin yang selalu menyalahkan orang yang sudah cukup banyak memberikan kontribusi dalam pembangunan Cilegon.

“Bukan pemimpin yang selalu menyalahkan seluruh pejuang kota Cilegon yang sudah cukup banyak membantu dari sisi segala aspek, tetap kita menajga kesinambungan ini,” kata Ati.

Sedangkan balasan menohok untuk Helldy Agustian disampaikan oleh Calon Wakil Walikota Cilegon Sokhidin. Secara tegas Sokhidin menilai Helldy tak memberikan jawaban konkrit tentang sikap dalam memperhatikan penyandang disabilitas.

“Pertanyaannya kan apa langkah yang akan diambil ketika menjadi walikota? saya belum dapat jawaban ini, ini bukan langkah tapi apa yang sudah ada, saya ingin mendapatkan jawaban konkret, jadi jangan melemparnya jangankan yang disablitas yang normal saja masih susah, saya pikir itu bukan solusi,” ujar Sokhidin.

BLUNDER IYE

Paslon Walikota dan Wakil Walikota Cilegon Iye-Awab sendiri selama debat berlangsung sempat melontarkan kiritikan kepada petahana dengan embel-embel sikap pemerintah, misalnya saat menyinggung tentang belum adanya sekolah jenjang SMP di Kecamatan Purwakarta.

Namun intensitas serangan paslon tersebut tak segencar Paslon nomor urut satu dan empat, begitu juga dengan respons paslon nomor urut dua.

Terlepas aksi serang menyerang, selama debat, Paslon nomor urut tiga ini melakukan sejumlah blunder.

Paling tidak ada tiga blunder yang dilakukan oleh Calon Walikota Cilegon Iye. Pertama, ia tidak bisa mengoptimalkan waktu pada sesi bertanya, di mana ia belum bisa menyelesaikan pertanyaan kepada paslon nomor urut dua akibat kehabisan waktu.

Kemudian pada closing statement, alih-alih mengucapkan tagline Lepaskan Masa Lalu Menuju Cilegon Maju ia justru mengatakan Lepaskan Masa Lalu Menuju Cilegon Malu, pada kesempatan itu juga saat mengajak masyarakat untuk mencoblosnya, Iye justru menunjukkan gestur dua jari. (bam/alt/air)