Debat Publik Kedua: Embay Serang WH-Andika

0
533 views
Dari kiri - Wahidin Halim, Andika Hazrumy, Rano Karno, dan Embay Mulya Syarief bergandengan tangan usai debat kedua meskipun sempat terjadi saling serang pertanyaan saat acara.

JAKARTA – Debat putaran kedua pasangan calon (paslon) cagub-cawagub Banten Wahidin Halim-Andika Hazrumy (WH-Andika) dan Rano Karno-Embay Mulya Syarief (Rano-Embay), berlangsung lebih panas dibandingkan debat pertama. Kedua paslon memanfaatkan kelemahan pasangan lawan untuk tampil lebih unggul dalam debat publik yang digelar di gedung Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (29/1) sore.

Satu jam sebelum debat publik dimulai, hujan sempat turun di sekitar lokasi adu visi misi dan program peserta Pilgub Banten. Beruntung, kedua paslon sudah tiba di lokasi. Sementara, ratusan pendukung kedua paslon tetap antusias ‎memenuhi lokasi debat meskipun tidak semuanya bisa masuk ke dalam gedung tempat debat digelar.

Kericuhan sempat terjadi saat beberapa pendukung nomor dua menyanyikan yel-yel sambil membawa atribut berupa leaflet. Pendukung nomor satu tidak terima karena sesuai aturan debat, pendukung paslon tidak diperbolehkan membawa atribut apa pun kecuali yang menempel di badan.

Ketegangan berhasil diredam setelah KPU dan perwakilan tim pemenangan nomor satu dan dua sepakat untuk mematuhi tata tertib debat dan menertibkan pendukungnya masing-masing.

Setelah kondusif, moderator mempersilakan Ketua KPU Banten Agus Supriyatna menyampaikan sambutannya sebelum tim pakar menyerahkan pertanyaan kepada moderator sesuai tema debat kedua tentang upaya memajukan dan menyelesaikan masalah di Banten dalam empat hal, demokrasi, hukum, good governance dan pemberantasan narkoba.

Setelah menerima amplop yang berisi pertanyaan dari tim pakar, Dwi Anggia ‎kemudian membacakan profil kedua paslon yang akan berdebat. “Debat kedua berlangsung dalam enam segmen. Segmen pertama dimulai dengan penyampaian visi misi dan program masing-masing paslon, dimulai dari paslon nomor satu,” kata Anggia sebelum m‎embuka segmen pertama.

‎Usai dipersilakan moderator, Wahidin yang diberikan kesempatan pertama langsung menyampaikan visi misi dan program kerjanya sambil berdiri.

“Demokrasi dimulai dari desa,” kata Wahidin memulai paparannya.

Selanjutnya, giliran Rano Karno yang memaparkan visi misi dan program kerjanya. “Tempat ini sangat bersejarah, Usmar Ismail adalah seniman besar yang bernaung di bawah NU,” ungkap Rano sebelum menyampaikan visi misinya.

Usai kedua paslon menyampaikan visi misinya, moderator meminta paslon nomor satu memberikan tanggapan tentang visi misi dan program kerja nomor dua. Bukannya menyampaikan tanggapan, Wahidin justru memberikan pertanyaan pada paslon nomor dua. ‎Moderator pun langsung mengingatkan Wahidin untuk menyampaikan tanggapan bukan memberikan pertanyaan.

Sontak suasana debat kembali riuh, pendukung nomor dua langsung merespons apa yang dilakukan Wahidin. Sadar dengan situasi yang kurang menguntungkan, Andika langsung memberikan tanggapan terkait program kerja paslon nomor dua.

Seperti memanfaatkan kelengahan paslon nomor satu, Rano pun langsung memanfaatkan situasi setelah dipersilakan moderator memberikan tanggapan. “‎Saya makin bingung, Pak WH malah memberikan pertanyaan sebelum waktunya,” kata Rano sambil senyum mengakhiri debat segmen pertama.

Masuk segmen kedua, moderator menyampaikan pertanyaan yang disusun tim pakar. Pertanyaan untuk cagub terkait kebijakan, sementara untuk cawagub terkait kesenjangan pembangunan Banten Utara dan Selatan.

Rano yang mendapat kesempatan pertama menjawab soal kebijakan pemprov memaparkan soal implementasi janji politik yang bukan sekadar retorika untuk menarik simpati masyarakat. “Janji harus dibuktikan. Kita akan membangun infrastruktur, misalnya, alhamdulillah infrastruktur di Provinsi Banten tinggal 20 persen lagi. Dari total 758 kilometer. Dalam waktu dua tahun lagi, akan selesai semuanya,” kata Rano sambil duduk.

“Kami tidak berani janji yang tidak sanggup kami lakukan. Kami berjanji apa yang sudah kami kerjakan,” sambung Rano.

Sementara itu, Wahidin sambil berdiri menjawab pertanyaan moderator dengan menyambungkan jawaban Rano.

“Janji boleh, tapi bisa dibuktikan. Saya berjanji untuk membangun sekolah dan saya buktikan. Ketika dipillih oleh masyarakat, kita harus bisa menjawab harapan masyarakat‎,” tegas Wahidin.

Sementara itu, Andika menjawab soal kesenjangan yang terjadi antara Banten Utara dan Selatan.

“Saya memiliki gagasan dengan Pak Wahidin, dengan melakukan koordinasi yang baik antara Pemprov dan kabupaten kota terkait perencanaan pembangunan. Kami berdua akan memperkuat tatanan sistemnya. Tentu saja dengan melibatkan partisipasi publik, membuka akses terkait anggaran pembangunan melalui e-budgeting dan e-planning. Dengan begitu, pemerataan pembangunan bisa dilakukan di Provinsi Banten,” tutur Andika.

Sementara itu, Embay menjawab persoalan kesenjangan Banten Utara dan Selatan dengan lugas. Menurutnya, sejak Rano memimpin Banten dalam 1,5 tahun, pembangunan jalan di Banten Selatan sangat pesat. Jalan dari Saketi-Malingping sudah selesai dibangun. “Dulu ke Selatan waktu tempuhnya bisa enam hingga tujuh jam, sekarang bisa ditempuh dalam dua jam,” katanya.

Debat mulai memanas memasuki segmen ketiga, di mana pertanyaan moderator tentang pencegahan korupsi di Banten.

Wahidin kembali mendapat sorotan dari pendukung nomor dua saat memaparkan soal komitmennya memberantas korupsi di Banten.

Menurut Wahidin, korupsi harus diberantas mulai dari pemimpinnya. “Korupsi itu kayak penyakit kurap, kami bertekad untuk memberantas korupsi di Banten. Selama ada moralitas dari pemimpin, korupsi bisa dicegah,” kata WH yang mendapat sambutan kurang baik dari pendukung nomor dua.

“Anda enggak percaya? berarti Anda tidak mendukung pemberantasan korupsi,” timpal WH merespons sikap pendukung nomor dua.

Sementara itu, Rano dengan percaya diri memaparkan dengan lebih santai soal pencegahan korupsi. “‎Kalau ini harus saya jawab, saya telah mengundang KPK untuk membantu kami memberantas korupsi di Banten. Bukan hanya korupsi, tapi juga verifikasi aset dan administrasi.‎ Sejak 2013, Banten binaan KPK.‎ KPK bahkan berkantor di Provinsi Banten. Alhamdulillah, 2015 Banten bangkit dari disclaimer jadi WDP dari BPK,” jelasnya.

Tidak mau kalah dengan isu korupsi, WH menyerang balik Rano saat pertanyaan moderator tentang pemberantasan narkoba.

“‎Antinarkoba harus ada pada diri kita, keluarga dan masyarakat.‎ Narkoba sudah jadi komoditas. Aturan harus ditegakkan. Jangan pandang bulu apakah anak siapa itu, harus ditindak,” sindir WH.

Soal narkoba, Embay yang menyampaikan jawaban.‎ “Banten darurat korupsi dan narkoba. Ada bandar, pengedar, dan korban. Bandar dan pengedar saya setuju ditembak mati, tapi ‎korban harus direhabilitasi,” jelasnya.

Segmen ketiga mulai panas. Puncaknya di segmen keempat saat paslon nomor dua bertanya ke paslon nomor satu. “Pak WH, saya ingin bertanya, saat anda sosialiasi pernah menyatakan perang terhadap komunis. Hal itu membuat masyarakat resah. Saya ini aktif di sejumlah organisasi angkatan 46, dan sejak tahun 2002 saya aktif memimpin gerakan anti komunis. Saya ingin tanya, siapa sebenarnya yang dianggap komunis oleh Pak WH?,” tanya Embay.

WH pun menjawab dengan santai. “Tidak perlu dipertanyakan soal siapa yang komunis. Yang jelas semangat antikomunis harus terus disuarakan agar ideologi itu tidak kembali berkembang,” tegas WH.

“Kita sepakat perang terhadap komunis, tapi ‎data itu ada di koramil dan kodim. Pak WH jangan sampai asal tuduh. Berarti menuding aparat tidak bekerja‎,” timpal Embay.

“Siapa yang bilang saya menuduh aparat,‎ kita antikomunis.‎ Saya juga hafal soal data, saya mantan camat dan kades.‎ Saya antikomunis, kenapa diperkarain?” jawab WH.

Suasana studio menjadi riuh, sampai moderator mengingatkan pendukung untuk tertib dan melarang interaktif dengan paslon saat debat‎.

Embay kembali menyerang dengan pertanyaan kepada Andika di segmen keenam terkait isu korupsi. “Kepada Andika. Dalam pencegahan pemberantasan korupsi, jika ada keluarga saya yang terlibat korupsi, saya akan dorong penegak hukum untuk menindaknya. Itu sesuai perintah nabi. Sekarang bagaimana sikap anda jika ada keluarga anda ada yang terlibat korupsi?” tanya Embay.

Dari pertanyaan itu Andika tak secara spesifik menjawabnya. “Tentu hukum harus ditegakan. Maka saya dan Pak WH ke depan dalam mengelola pemerintahan, kita akan adopsi unsur akuntabilitas dan transparansi, agar ke depan masyarakat bisa melihat dan mengakses anggaran yang kita susun. Seperti yang Pak Rano tadi katakan, penganggaran kita harus e-planning dan e-budgeting (perencanaan dan penganggaran secara eletronik-red). Kita akan buat ke depan penganggaran seperti itu, sehingga tertutup celah korupsi di Provinsi Banten dengan peran aktif masyarakat untuk memantau dan mengawasinya,” tegas Andika.

Rano Karno yang mendapat kesempatan menimpali jawaban Andika pun langsung mengkritik. “Maaf nih, kalau Pak WH dan Andika baru mau buat e-planning dan e-budgeting, kalau kita sudah buat. APBD 2017 ini sudah e-planning dan e-budgeting. Artinya sistem ini sudah kita buat, bukan nanti. Sehingga tidak ada proyek siluman, program yang menggantung,” tegasnya.

Andika pun menanggapi bahwa e-planning dan e-budgeting tentu harus diimbangi dengan akses. “Saya setuju dengan Bapak, bahwa sistem yang baik tidak akan membuat celah korupsi. Dengan sistem yang baik tentu akan membuat Banten menjadi lebih baik ke depan,” katanya.

Pada segmen akhir pun Embay masih menyerang. Saat moderator Dwi Anggia mempersilakan masing-masing pasangan calon untuk menyampaikan apa kelebihannya, dan apa kelebihan pasangannya, Embay lagi-lagi menyinggung WH, terlebih kepada Andika.

“Saya amati pasangan WH-Andika ini seperti kakek dan cucunya. Makanya Pak WH lebih cocok jadi walikota saja. Kalau Andika, masih muda, masih perlu banyak memperbaiki diri dulu, jangan sampai nanti malah terjebak korupsi. Seperti pepatah mengatakan, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Jadi Andika lebih cocok untuk menyiapkan diri untuk jadi pemimpin masa depan,” kata Embay.

Suasana sempat gaduh ketika perkataan Embay soal pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Karena kalimat itu terkesan menyindir Andika, dimana ibunya tersangkut kasus hukum dan kini mendekam di penjara. Namun, kegaduhan pun mereda ketika Dwi Anggia meminta agar pendukung diam. “Harap tenang, saya harap hadirin di studio tenang. Saya tidak akan lanjutkan acara ini jika masih ada suara. Jadi saya harap ikuti tata cara, tenang, petugas keamanan tolong direda,” ujar Dwi.

Andika tidak tinggal diam, mendapat kesempatan bicara, Andika langsung membela diri. “Terimakasih Pak Embay. Sebagai orangtua itu harusnya memberi contoh yang baik kepada yang muda. Tapi kalau begini saya melihat Pak Embay malah memberikan contoh yang tidak baik kepada generasi muda ke depan. Baik, saya lihat Pak Rano incumbent, tentunya memiliki kelebihan soal pembangunan Banten. Dan Pak Embay tokoh, yang jujur saya teladani. Pak Rano yang saya hormati dan Pak Embay yang saya teladani, percayakanlah pembangunan Banten ke depan kepada WH-Andika karena kami bisa membawa pembangunan lebih baik,” ujar Andika seraya menyerukan yel-yel. “Siapa kita, WW-Andika. WH-Andika, nomor satu. 2017, menang, menang, menang”.

Di sisa waktu itu, WH membela Andika. “Saya rasa tidak ada anak yang berdosa karena orangtuanya. Presiden saja kalau anaknya dibully (dihina-red), sebisanya akan membela,” katanya.

Usai acara, Rano mengaku debat kedua berlangsung dinamis dan pihaknya sudah memberikan yang terbaik. “Saling serang itu biasa, itu seni dalam debat. Yang pasti kami sudah menyampaikan program dengan konkret,” kata Rano didampingi Embay.

Rano pun mengucapkan terima kasih kepada netizen Banten karena namanya bersama Embay menjadi trending topic di Twitter dengan hastag #RanoEmbayUntukBanten. (Deni S/Radar Banten)