Debu Vulkanis Hujani Cilegon, Warga Diimbau Gunakan Masker

Debu vulkanis menghujani sejumlah daerah di Kota Cilegon. Debu berwarna hitam itu terlihat menempel di kendaraan dan rumah warga.

CILEGON – Debu vulkanis dari Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda telah menyebar dan menghujani sejumlah daerah di Kota Cilegon. Hal itu pun membuat masyarakat heboh.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, debu berwarna hitam itu mulai diketahui menghujani Kota Cilegon pada Rabu (26/12) sore. Debu diketahui menempel pada kendaraan, rumah, dan lingkungkan masyarakat.

Terkait hujan debu tersebut, pengamat Gunung Api Anak Krakatau Windi Cahya menjelaskan, debu yang menghujani Kota Cilegon itu sangat dimungkinkan merupakan debu dari Gunung Anak Krakatau, mengingat gunung tersebut saat ini masih aktif.

“Kemungkinan iya, karena Gunung Anak Krakatau masih mengalami erupsi secara terus menerus dan arah serta kecepatan angin mengarah ke arah Kota Cilegon dan sekitarnya,” ujar Windi kepada Radar Banten, Rabu (26/12).

Prakirawan Cuaca Stamet Serang Trian Asmarahadi menjelaskan, dari pantauan BMKG, arah angin permukaan dari arah selatan-barat sehingga debu vulkanis bergerak menuju utara-timur dari Gunung Anak Krakatau. “Kami hanya bisa menginformasikan tentang pergerakan debunya saja,” ujar Triana.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Cilegon Arriadna mengaku, telah mendapatkan laporan terkait turunnya hujan debu vulkanis dari gunung berapi yang belum lama ini menyebabkan tsunami Selat Sunda tersebut. Karena itu, ia mengimbau kepada masyarakat untuk menggunakan masker.

Kata Arriadna, penggunaan masker dianjurkan karena debu tersebut bisa menyebabkan gangguan pernapasan. “Imbauan kita sampaikan melalui camat dan lurah-lurah,” ujar Arriadna.

Arriadna pun menganjurkan agar masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruang karena paparan debu vulkanis bisa menimbulkan keluhan pernapasan, terutama pada orang yang sudah menderita penyakit paru. “Paparan abu vulkanis dapat memperparah kondisi kesehatan,” ujarnya.

Selanjutnya, ia pun menganjurkan masyarakat untuk menutup jendela, pintu, perapian atau tungku kayu dan minimalkan penggunaan pemanas udara atau air conditioner untuk mencegah masuknya debu ke dalam rumah.

Basahi atau percikan air sebelum membersihkan lingkungan dari debu atau abu vulkanis untuk menghindari berbagai partikel yang terbang dan mengakibatkan iritasi. Hindari mengemudi, menggunakan kacamata di luar ruangan dan saat membersihkan debu, serta menjaga kulit tetap tertutup untuk menghindari iritasi akibat kontak dengan debu.

Prakirawan Statemet BMKG Klas I Serang Widia Khairunnisa mengatakan, untuk kemarin diperkirakan cuaca di wilayah Serang, Kota Cilegon, dan Pandeglang berawan dengan peluang intensitas hujan sedang hingga lebat. “Untuk wilayah Kota Serang tergolong aman. Dengan kecepatan angin 5-20 kilometer per jam,” ujarnya.

Untuk gelombang, kata perempuan yang akrab disapa Widi itu, ketinggian di wilayah Selat Sunda bagian utara 0,5 sampai satu meter. Sedangkan untuk Selat Sunda bagian selatan itu diperkirakan dengan ketinggi 1,25 sampai 2,5 meter. “Terkait gelombang, khususnya di wilayah Selat Sunda bagian selatan agar tetap menjauhi pesisir pantai radius 500 meter hinga satu kilometer,” terangnya.

“Termasuk juga waspada terhadap curah hujan yang tinggi di kawasan selatan,” sambung Widi.

Disinggung terkait dengan pengaruh erupsi Gunung Anak Krakatau, pihaknya terus melakukan pemantauan bersamaan dengan pihak vulkanologi. Itu dilakukan karena erupsi ini terjadi berbarengan dengan musim hujan. “Ini berpengaruh terhadap intensitas hujannya makin lebat,” katanya. (Bayu M-Fauzan D/RBG)