Dekat Proyek Listrik, Warga Desa ini Belum Dapat Fasilitas Listrik Maksimal

Kawasan proyek pembanguan PLTU Jawa 7 di Desa Terate, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Minggu (15/4). Proyek listrik ini untuk memasok kebutuhan listrik secara nasional.

SERANG – Banten dikenal sebagai salah satu pusat pembangunan pembangkit listrik nasional. Terbaru, pada Oktober 2017, Banten kembali menjadi lokasi pembangunan tiga unit pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) sekaligus.

Tiga PLTU yang diresmikan Presiden Jokowi pada Kamis (5/10/2017) itu adalah PLTU Jawa 7, 9 dan 10, berkapasitas total 4 ribu megawatt (MW). Peresmian dipusatkan di lokasi proyek PLTU Jawa 7 di Desa Terate, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang. Selain itu, ada juga pengoperasian PLTU pengembang listrik swasta (independent power producer/IPP) Banten berkapasitas 660 MW. PLTU Jawa 9 dan 10 masing-masing berkapasitas 1.000 MW, dibangun bersebelahan dengan PLTU Suralaya di Suralaya, Kota Cilegon.

Dekat dengan pembangkit listrik, lalu bagaimana kondisi warga sekitar proyek? Penelusuran Radar Banten di Desa Terate menunjukkan kebalikannya. Masih banyak warga Terate yang ternyata belum mendapatkan fasilitas listrik secara maksimal. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya rumah warga yang hanya menikmati aliran listrik dengan menumpang sambungan dari tetangganya.

Pantauan Radar Banten, kondisi ini bisa terlihat di sepanjang permukiman warga di Kampung Krangdan, Desa Terate, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang. Rumah-rumah warga mayoritas mengandalkan sambungan listrik dari tetangga. Padahal, permukiman yang tergolong padat penduduk itu tidak terlalu jauh, bahkan bersebelahan dengan lokasi kawasan PLTU Jawa 7.

Menurut Ketua RT 02 Kampung Krangdan, Jahruni (52), kondisi ini sudah lama dialami warga. Ia mengaku, warga di kampungnya terpaksa menumpang listrik dari tetangga  lantaran terbatasnya biaya untuk memasang secara mandiri aliran listrik. Petugas PLN sudah sering melakukan pendataan terhadap warga yang belum memiliki listrik. Namun, realisasinya tidak pernah dilaksanakan.

“Di sini, listrik di satu rumah biasanya buat dua sampai tiga rumah lain. Ya, kita mah mau gimana lagi. Masang listrik kan mahal. Terus kalau mau masang sendiri, jauh sama tiang listriknya,” kata Jahruni saat ditemui Radar Banten di kediamannya, Kampung Krangdan, Desa Terate, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Minggu (15/4) sore.

Kendati demikian, ia menegaskan bahwa aliran listrik di rumahnya hanya diperuntukkan bagi kebutuhan keluarganya tanpa disalurkan lagi ke rumah tetangga yang lain. “Kalau yang itu iya (sembari menunjuk rumah tetangganya-red). Biasanya, mereka nyambungin pakai kabel lagi yang panjang,” tutur Jahruni.

Ditemui terpisah, Kepala Desa Terate, Irfan, tidak menampik kondisi warga di wilayahnya. Banyak warga yang belum memiliki aliran listrik karena keterbatasan ekonomi yang dimiliki warga. Padahal, ia mengaku sudah beberapa kali mengajukan permohonan agar rumah-rumah warganya mendapatkan aliran listrik dengan layak.

“Bahkan ada yang sempat datang ke saya gara-gara rumahnya enggak punya listrik. Kebanyakan memang masih numpang ke rumah orang. Untuk jumlah persisnya saya kurang hapal, tapi kira-kira lebih dari 20 rumah,” jelasnya.

Ia berharap keberadaan PLTU Jawa 7 di desanya dapat memberikan dampak positif bagi lingkungannya yang notabene berdekatan dengan proyek yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada Oktober tahun lalu tersebut. “Ya minimalnya bisa ngasih listrik gratis buat warga,” harapnya.

Sementara di Labuan, Kabupaten Pandeglang, yang juga menjadi lokasi PLTU 2 Labuan menunjukkan hal yang sama. Kepala Desa (Kades) Bama, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang, Rismawan mengakui, keberadan PLTU 2 Labuan di wilayahnya belum berpengaruh bagi masyarakat.

Kata dia, selain kerap padam listrik, sampai saat ini dari 740 kepala keluarga (KK) masih ada 170 rumah yang belum teraliri listrik. “Di desa kami (Bama-red) masih ada 170 rumah yang belum teraliri listrik secara optimal. Enggak memiliki kWh, dan listriknya menyalur dari tetangga,” katanya.

Menurut Rismawan, kondisi terparah dialami Dariah (65) janda tua beranak lima dengan pekerjaan kuli serabutan. “Dia hanya menikmati satu bohlam hasil penyalur dari warga. Bantuan tidak pernah dapat dari PLTU,” katanya.

Rismawan menerangkan, Desa Bama yang ia pimpin temasuk salah satu penyangga PLTU 2 Labuan dari desa lainnya yakni Desa Margagiri, Margasana, Kecamatan Pagelaran, dan Desa Cigondang, Desa Sukamaju, Kecamatan Labuan. “Namun daerah kami hanya mendapatkan dampaknya saja seperti pada malam hari dihujani debu pembakaran abu batu bara,” katanya.

Rismawan berharap pihak PLTU 2 Labuan selain dapat membantu kebutuhan warga soal listrik, juga listrik jangan sering padam. “Soalnya kami juga heran, salah satu daerah penyangga bisa seminggu tingga kali padam listrik. Kami harap, selain tidak kerap padam listrik, juga ada bantuan seperti kWh, dan bantuan CSR untuk kepentingan masyarakat. Misalkan salah untuk program perbaikan rumah yang tidak layak huni,” katanya.

Sedangkan di Kota Cilegon, berdasarkan data Pemkot Cilegon 2016, dari delapan kecamatan, yang benar-benar sudah mendapatkan pasokan listrik hanya Kecamatan Pulomerak. Sedangkan tujuh kecamatan lainnya masih ada sejumlah permukiman warga yang belum teraliri listrik. Berdasarkan data tersebut, dari tujuh kecamatan, terdapat 27 kelurahan yang rumah warganya masih belum teraliri llistrik.

Pantauan Radar Banten, di wilayah Kelurahan Suralaya, Kecamatan Pulomerak, listrik sudah masuk ke permukiman warga di sekitar kawasan PLTU Suralaya. Sekretaris Kelurahan (Seklur) Suralaya Rojah membenarkan, jika warga di sekitar PLTU Suralaya tidak ada rumah warga yang belum teraliri listrik. “Kalau di kita tidak ada,” katanya.

Warga Suralaya Sahruji mengaku, sampai saat ini belum ada keluhan warga Suralaya terkait listrik. “Setahu saya di Suralaya sudah dipasang listrik semua. Tapi enggak tahu kalau ada warga yang baru bikin rumah. Setahu saya juga listrik di sini enggak pernah byar pet nyalanya,” terang tokoh masyarakat Suralaya ini.

Sedangkan Sekretaris Kecamatan Pulomerak Oman Fathurrohman mengklaim di Suralaya tidak ada rumah warga yang belum teraliri listrik. “Semuanya sudah. Cuma yang belum pasang yang baru bikin rumah saja. Mungkin itu ada. Tapi berapa jumlahnya saya tidak tahu,” ujar Oman.

Berbeda dengan Kecamatan Ciwandan, masih terdapat rumah warga yang tidak teraliri listrik. Ketua Karang Taruna Kelurahan Kepuh, Kecamatan Ciwandan Marhani membenarkan, jika di Kepuh masih ada rumah warga yang belum mendapatkan listrik. “Masih ada. Tapi bukan berarti rumahnya gelap,” kata Marhani.

Marhani menjelaskan, ada sejumlah rumah warga di Kepuh, yang belum dipasang listrik. Tapi rumah warga tetap menyala. Lantaran mereka numpang ke rumah tetangganya untuk mendapatkan listrik. “Jadinya sistemnya pake sistem nyolok ke rumah tetangganya,” tandasnya.

Kata Marhani, rumah-rumah warga yang belum teraliri listrik rata-rata yang tinggal di pedalaman. Sedangkan untuk lingkungannya di antaranya ada di Lingkungan Keserangan dan Lor Sabrang. “Sampai sekarang masih banyak yang belum teraliri listrik,” imbuhnya. (Umam-Herman-Rifat/RBG)

BAGIKAN