Delapan Perusahaan di Kabupaten Serang Bangkrut

Ribuan buruh keluar dari pintu gerbang pabrik pada jam pulang kerja di salah satu industri sepatu wilayah Kecamatan Cikande beberapa waktu lalu.

11.148 Karyawan Dipecat, 1.214 Orang Dirumahkan

SERANG – Sebanyak delapan perusahaan di wilayah Kabupaten Serang gulung tikar dampak dari pandemi Covid-19. Kedelapan perusahaan kesulitan mendapatkan bahan baku, selain sudah tidak mampu lagi mengeluarkan biaya operasional.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Serang, R Setiawan kepada wartawan di gedung DPRD Kabupaten Serang, Senin (3/8). “Iya, ada delapan perusahaan yang tutup di wilayah Serang Timur,” ungkap Setiawan. (selengkapnya lihat grafis).

Dijelaskan Setiawan, kedelapan perusahaan sudah tidak lagi beroperasi akibat pandemi Covid-19. “Perusahaan kesulitan mendapatkan bahan baku, sehingga produksinya tidak mencukupi,” jelasnya.

Kata Setiawan, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan tenaga kerja dan keberlangsungan industri. Salah satunya melakukan upaya mediasi jika terjadi perselisihan. “Di mediasi kita carikan solusi yang terbaik,” katanya.

Senada, Kepala Bidang (Kabid) Jaminan Sosial dan Hubungan Industrial pada Disnakertrans Kabupaten Serang Iwan Setiawan mengatakan, delapan perusahaan yang tutup akibat dampak dari pandemi Covid-19 berada di Kecamatan Ciruas, Cikande, dan Kecamatan Kopo. “Mereka tutup secara permanen per Juli 2020,” ungkapnya.

Iwan menyebutkan, kedelapan perusahaan yang tutup merupakan industri listrik, bata ringan, plastik, sepatu, textile, granit, popok bayi dan dewasa, hingga industri bahan bangunan. “Dari delapan perusahaan itu, ada 2.748 karyawan. Semua hak-hak karyawan sudah dipenuhi,” klaimnya.

Diungkapkan Iwan, dari sejak pandemi Covid-19 sudah 8.400 karyawan yang terkena putus hubungan kerja (PHK) dari 25 perusahaan. Mulai dari perusahaan industri hingga perhotelan. “Jadi, yang di PHK 8.400 karyawan, ditambah perusahaan yang tutup 2.748 karyawan di PHK, total semuanya jadi 11.148 karyawan. Karyawan yang dirumahkan 1.214 orang,” ungkapnya.

Namun, lanjut Iwan, pihaknya belum menerima laporan lanjutan dari perusahaan yang merumahkan karyawannya. Termasuk sektor perhotelan yang saat ini sudah kembali ramai. “Seharusnya mereka (perusahaan-red) melaporkan ke kita perkembangan perusahaannya,” ujarnya.

Iwan menambahkan, pihaknya sudah mengimbau seluruh perusahaan agar tidak mengambil langkah PHK, melainkan mencari solusi lain agar tenaga kerja dan keberlangsungan industri tetap berjalan. “Misalkan mengatur jam kerja, merumahkan karyawan, atau dibagi shift kerja,” sarannya. (jek/zai)