Demi Pendidikan, Dua Jam Jalan Kaki Sering Ketemu Babi Hutan

Sejumlah anak dari Kampung Mulyasari sedang melintasi jalan yang dipenuhi reruntuhan pohon dan batu menuju SD Cikedung, Senin (22/8) pagi.

Meski terjal mengadang, langkah anak-anak Desa Cikedung, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang, tak patah arang meneruskan jenjang pendidikannya. Mereka begitu bersemangat mengejar cita-cita. Alasannya, ingin keluar dari kungkungan hidup di kampung terisolasi.

Laporan: SUPRIYONO

Senin (22/8) pagi, puluhan anak mengenakan seragam merah putih tampak ceria mengayunkan langkah kaki. Senyum merekah meski harus berjalan sekira lima kilometer dari Kampung Mulyasari menuju SD Cikedung yang terletak di Kampungbaru.

Akses jalan setapak harus mereka lewati. Termasuk jalan berbatuan. Ditambah, reruntuhan pohon dan batu besar pascabanjir masih malang melintang di jalan tersebut.

Tak ayal, kondisi ini membuat mereka harus menempuh waktu dua jam berjalan kaki dari rumah menuju pintu sekolah. Lelah, itu pasti. Apalagi mereka juga diburu agar tidak terlambat masuk kelas pada pukul 08.00 WIB.

“Capeklah. Namanya juga jalan kaki jauh,” seru Ahmarudin yang mengaku masih duduk di kelas IV ini.

Bukan hanya soal akses jalan, kampung mereka yang membelah Cagar Alam Rawadanau, Gunung Tukung Gede memungkinkan berpapasan dengan kawanan babi hutan atau binatang buas lain. Apalagi, dari informasi dari warga setempat tidak hanya kawanan babi hutan yang lewat.

Kadangkala, harimau melintas di jalan yang mereka dlewati. “Kadang masih ada harimau lewat. Tapi sejauh ini enggak pernah ada kasus sampai menyerang orang atau makan kambing milik warga,” kata Ketua RT Kampung Pasirmenteng, Rukman.

Menurutnya, harimau itu memiliki loreng seperti harimau dari Sumatera. “Kalau jumlahnya berapa, saya enggak tahu pasti,” ujarnya santai.

Bocah-bocah itu tak ada satu pun yang pernah menjumpai harimau. Namun, berjumpa dengan babi hutan sudah bukan hal yang aneh. “Iya di sini suka ada babi lewat. Takut, tapi biarkan saja enggak ganggu kita, kok,”  kata Ahmarudin sembari menunjuk ke arah belakang jalan yang mereka lalui.

Selain babi hutan, sekolompok monyet biasa mereka jumpai. Kata Ahmarudin, monyet biasanya bergelantungan di pohon-pohon di tepi jalan yang mereka lalui. Beberapa lagi, ada yang turun sampai ke tepi jalan. “Kalau monyetmah kita soraki saja,” katanya dengan logat Sunda.

Terlepas dari pengalaman perjalanan mereka ke sekolah, kehadiran mereka ke sekolah membawa segudang cita-cita. Misalnya, seperti yang disampaikan Nia Sari. Bocah berusia sembilan tahun ini dengan lantang mengaku ingin menjadi dokter. “Ingin jadi dokter, biar bisa mengobati orang sakit, kata pak guru,” katanya polos.

Kisah yang lebih heroik juga dialami Dila Kurniawan. Meski sempat melemah, remaja kelahiran 22 tahun silam ini masih bertahan melanjutkan studinya hingga bangku perkuliahan. Sejak lulus dari SMK KS Cilegon pada 2011, Dila kini sudah masuk semester VI di salah satu kampus swasta di Kota Serang. Sesuai dengan cita-citanya menjadi pengusaha, Dila mengambil kelas karyawan jurusan ekonomi. “Awalnya saya ingin jadi polisi. Makanya sempat tertunda kuliah setahun. Karena tiga kali ikut tes polisi gagal, ya sudah kuliah saja biar jadi pengusaha. Lagian, lulusan SMA buat cari kerja susah,” katanya.

Sebelum akhirnya bertahan hingga masuk kuliah, Dila hampir saja tidak melanjutkan belajarnya ketika masih duduk di bangku SMP. Kata dia, dari 13 temannya yang mendaftar SMP, hanya menyisakan dirinya saja. “Sempat enggak semangat sekolah sendirian. Tapi akhirnya jalan sampai sekarang,” ujar Dila yang sehari-hari bekerja serabutan untuk ikut membantu biaya kuliahnya.

Menurutnya, perjalanannya sejak SMP sampai SMA jika ditulis tidak kalah dengan kisah Laskar Pelangi. Apalagi jika musim penghujan mulai turun. Dila yang sudah membawa motor sejak SMP kadang harus kembali pulang karena jalannya tidak bisa dilewati. “Itu kalau hujan harus menunggu orang lewat buat ngedorong motor. Kadang-kadang malah ada pohon tumbang yang terpaksa harus balik lagi,” kenangnya.

Selama tiga tahun duduk di bangku SMP, Dila melewati masa-masa ini. Jika ada pelajaran tambahan ia terpaksa harus menginap di rumah temannya. Bahkan, terlambat datang ke sekolah sudah menjadi langganan buatnya. “Terlambat sudah biasa. Meski ada guru yang ngomelin, ada juga guru yang tahu rumah saya jauh,” katanya.

Masa-masa sulit Dila di SMP sedikit berkurang ketika dia melanjutkan sekolah di SMK KS Cilegon. Saat itu, oleh ayahnya dia dititipkan di rumah saudaranya. Dila yang tidak harus bolak-balik ke kampung pun lebih punya waktu untuk mengikuti kegiatan ekstrakuler.

Voli adalah kegiatan yang dipilihnya. Ia mengaku, saat ikut tim bola voli sekolah, ikut membawa sekolahnya sebagai juara dua perlombaan se-Kota Cilegon. “Kalau tidak salah tahun 2009 saya masuk tim dan ikut lomba. Waktu itu kalau enggak salah cuma runner up,” kata Dila.

Semangat yang sama juga dimiliki oleh Heri Irawan. Meski satu kampus dengan Dila, Heri memilih jurusan teknik industri sebagai bekal mengejar cita-citanya. Apalagi, Heri yang berusia 21 tahun ini.

Heri mengaku melanjutkan kuliah karena ingin mengubah garis hidupnya. “Inginnya mah jadi orang sukses. Enggak cuma bertani saja di kampung,” kata lajang yang juga bekerja sebagai staf di Pemerintah Desa Cikedung ini. (*)