Demi Wujudkan Anak Jadi Pengacara, Ibu di Cilegon Rela Mengemis

0
2177

CILEGON – Rosdiah (36) warga Jombang Kali, Kecamatan Jombang, Kota Cilegon nekat mengemis di simpang empat Alun-alun Kota Cilegon demi mewujudkan mimpi anak sambunganya, Suci Ajeng Mulia (16), yang ingin menjadi pengacara.

Sudah tiga kali Rosdiah mengemis. Selain di simpang empat alun-alun kota Cilegon, ia juga mengemis di simpang empat Damkar, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon.

Sesekali, aksi berharap belas kasihan dari pengguna jalan tersebut ditemani suaminya, Gita Bahari (51). Di leher Rosdiah terkalung spanduk dengan tulisan memohon bantuan untuk daftar sekolah anaknya di SMK.

Ditemui di Taman Geger Cilegon, Rosdiah menjelaskan, jika ia baru kali ini mengemis di jalan. “Sebelumnya gak pernah,” ujar Rosdiah, Selasa (18/5).

Itu terpaksa dilakukan demi anak sambungnya bisa terus mengenyam pendidikan setelah lulus dari Madrasah Tsanawiyah (Mts) di Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang.

“Di Anyer ikut sama neneknya, sekolah di sana,” ujarnya.

Rosdiah mengaku terpaksa mengemis Karena usaha jasa duplikat kunci yang biasa dikerjakan suaminya sepi selama tujuh bulan terakhir.

Pada kesempatan yang sama, Gita Bahari (51) menjelaskan, ia tinggal tak jauh dari kantor Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon, tepatnya di Kelurahan Ramanuju, Kecamatan Purwakarta.

“Saya sekarang tinggalnya di Deket hotel Cilegon City, ada lapak kunci duplikat, kalau (alamat) KTP masih di Jombang Kali,” ujarnya.

Gita menjelaskan, akibat kesulitan ekonomi, Suci anaknya selama ini tinggal bersama neneknya, untuk menebus ijazah MTs pun mendapatkan kiriman dari saudaranya.

“Saya bingung mau lanjutkan sekolah dimana, gimana keinginan anak saya saja,” ujar Gita.

Menurut Gita, upaya mengemis hanya untuk mendaftar sekolah saja, jika sudah berhasil mendaftar, ia dan istrinya pun akan berhenti mengemis.

Aksi yang dilakukan oleh Rosdiah dan Gita Bahari menarik perhatian anggota DPRD Kota Cilegon Faturohmi saat melintas di perempatan alun-alun Kota Cilegon.

Politisi Partai Gerindra itu mengaku prihatin saat melihat tulisan yang menyatakan jika aksi ngemis itu untuk biaya daftar sekolah SMK.

“Saya tanyakan kenapa sampai bisa melakukan hal demikian sementara di kota Cilegon banyak sekali sekolah termasuk SMA,” ujar Faturohmi.

Setelah mengetahui alasannya, Faturohmi mengaku memberi bantuan alakadar, selain itu ia pun akan menindaklanjuti dengan pemerintah.

“Saya akan berbicara dengan pemerintah daerah, ya untuk bagaimana hal-hal yang seperti ini bisa diminimalisir, kedua mendapat perhatian dari pemerintah daerah meskipun kewenangan di jenjang SLTA itu kewenangan provinsi tetapi saya yakin pemerintah kota Cilegon bisa menindak lanjuti dan mencari solusi yang terbaik untuk ini,” ujarnya. (Bayu Mulyana)