Foto ilustrasi : pixabay

Semua berawal ketika Kupret (43), nama samaran, memutuskan menikah dengan Lala (40), bukan nama sebenarnya. Status sosial kedua keluarga yang jauh berbeda membuat hubungan mereka tak semulus sutra. Kupret berasal dari keluarga berada, sedangkan Lala hanya anak petani biasa di pedalaman Pandeglang.

Memang tabiatnya manusia, hanya karena urusan harta, keluarga Kupret tidak pernah menyetujui pernikahan mereka. Bahkan, sebelum ditetapkan tanggal pernikahan, sempat terjadi keributan. Namun karena Kupret anak bungsu dari lima bersaudara yang punya sikap keras kepala, akhirnya meski terkesan terpaksa dan berlangsung sederhana, pernikahan berlangsung juga.

“Dulu kata Kang Kupret, pas kakak dan saudara yang lain nikahan mah diadakan besar-besaran sampai ngundang pejabat. Pas kita sih ya biasa saja, pokoknya sederhana banget,” curhat Lala kepada Radar Banten.

Di awal pernikahan, Kupret sempat bekerja di diler mobil. Walau masih sederhana, mereka hidup bahagia. Ya, saat itu sih keadaan masih aman. Keluarga Kupret tidak pernah mengusik rumah tangga mereka. Wajarlah ya, sikap Kupret yang keras dan selalu ingin menang sendiri membuat kakak dan saudara tak berdaya.

“Waktu itu Kang Kupret memang selalu enggak mau kalah, semakin dilarang semakin membantah. Apalagi kalau terkait kepentingan saya, pasti dia bela. Pokoknya saya merasa terlindungi gitu, Kang,” kenang Lala.

Setahun menjalani bahtera rumah tangga, lahirlah anak pertama membuat Kupret dan Lala semakin mesra. Hubungan mereka begitu harmonis. Bahkan, seminggu sekali terkadang mereka jalan-jalan bersama anak tercinta, memberi hiburan agar Lala tidak bosan di rumah.

Hingga suatu hari, cobaan datang tanpa permisi. Kebahagiaan itu sirna saat Kupret dipecat dari tempatnya bekerja. Apa mau dikata, akhirnya ia menganggur dan mulai sulit mencari nafkah. Tiga bulan pasca pemecatan sih masih aman karena ada uang tabungan, tapi setelah empat bulan kemudian, mulailah ia merasa kesulitan. Ujung-ujungnya, minta deh ke mama! Waduh, galak-galak kok masih minta ke mama?

“Ya, dia memang gitu. Bisa dibilang sedikit manja sih. Kalau lagi kepepet, pasti lari ke mamanya. Ya, namanya juga anak bontot!” Curhat Lala.

Beruntungnya, mungkin karena naluri seorang ibu, mamanya sih oke-oke saja memberi uang kepada Kupret, tapi tidak bagi kakak dan saudaranya yang lain. Mereka selalu menyindir dan menghina jika sang adik kedapatan minta uang. Sebagai seorang istri, Lala hanya mampu menguatkan suami. Ya ampun, memang mereka pada ngomong apa, Teh?

“Kalau enggak nurut ke mama, jangan minta uang. Malu dong sama anak istri lu!” kata Lala meniru omongan kakak Kupret.

Merasa dihina, Kupret tak bisa memendam amarah. Tak peduli ada ayah dan sang ibu, amukannya mengaum seolah ingin menerkam sang kakak. Beruntung masih ada saudara dan sang istri yang menenangkan, kalau tidak, mungkin sudah terjadi perang saudara. Wih, seram juga nih Kang Kupret.

Enam bulan menganggur, Kupret tak bisa berbuat apa-apa. Kebiasaan di masa muda yang selalu mengandalkan orangtua, terbawa hingga dewasa. Dalam kondisi stres luar biasa, ia mulai mencari pelarian atas derita hidupnya. Sering pulang malam, mabuk-mabukan, menjadi kebiasaaannya setiap hari.

Dan akhirnya, merasa seperti orang yang tak berguna, Kupret mencoba mengikuti saran temannya agar merantau dan bekerja di luar kota. Awalnya Lala tidak setuju, kepergian sang suami tentu akan membuatnya menderita, tapi setelah Kupret berjanji untuk pulang sebulan sekali, akhirnya ia menyetujui. Pergilah Kupret meninggalkan istri dan anaknya.

Seminggu setelah kepergian, Kupret sempat menelepon, menanyakan kabar dan menyampaikan rindu pada anaknya. Tiga minggu kemudian, Kupret kembali menelepon, menyampaikan bahwa ia tidak bisa pulang di bulan pertama. Meski begitu, Lala masih mengerti dan memahami. Di bulan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, Kupret mulai sulit dihubungi. Membuat Lala pusing setengah mati.

Parahnya, bukannya menenangkan dan memberi dukungan, tetangga di samping rumah malah mengompori. Menceritakan kisah orang lain yang ditinggal pergi suami tak kembali dan malah kawin lagi, tentu membuat Lala semakin frustrasi. Jadilah ia sering menagis setiap malam meratapi kepedihan. Ya ampun, sabar Teh!

“Yang ada di benak saya waktu itu, kenapa hal kayak begini terjadi ke saya, sudah dibenci keluarga, suami malah pergi entah ke mana. Masa, saya harus minta uang ke ibu mertua, kan enggak mungkin,” curhatnya. Terus waktu itu siapa yang kasih makan Teh Lala dan anak?

“Beberapa kali ibu saya bawain makan sih, tapi cuma sekali dua kali. Selebihnya mah utang ke warung,” tuturnya. Oalah.

Namun benar kata Alquran, Tuhan tidak memberi cobaan melebihi batas kemampuan hambanya. Di malam sunyi ketika Lala sedang mengasuh sang anak sambil menahan perihnya perut dua hari belum makan, terdengar langkah kaki dan suara orang di sekitar rumah. Tak lama kemudian, suara pintu diketuk terdengar seraya mengucap salam, Lala pun membukanya.

Antara percaya dan tidak, tampak seluruh keluarga Kupret berdiri di ambang pintu. Tanpa basa-basi, sang ibu memeluk erat Lala sambil menitikkan air mata. Tak hanya sang ibu, kakak, dan saudara lainnya pun melakukan hal serupa. Tak lama setelahnya, sang ibu mengabarkan bahwa Kupret tengah berada di salah satu rumah sakit di Jakarta. Ia mengalami kecelakaan kerja. Astaga, terus bagaimana keadaannya, Teh?

“Katanya sih sudah baikan, dia sudah lama dirawat, baru kasih tahu keluarga dan minta ajak saya ke sana,” katanya.

Keesokan harinya, Lala beserta keluarga berangkat ke ibukota. Saat melihat sang suami terbaring di suatu ruangan dan tersenyum bahagia, Lala langsung memeluknya. Ibu dan keluarga pun tak kalah rindu, pecahlah tangis mereka mendapati Kupret dalam keadaan baik dan sehat.

Hebatnya, setelah Kupret dan Lala kembali menjalani kehidupan seperti biasa, hubungan kakak dan keluarga terhadap sang istri menjadi harmonis. Mereka tak lagi membenci Lala, Kupret pun semakin semangat mencari nafkah, mereka menjadi keluarga bahagia. Alhamdulillah. (daru-zetizen/zee/dwi/RBG)