Derita Sutiah, TKI Asal Carenang Selama di Arab Saudi

TKI dianiaya
Sutiah, mantan TKI berbincang dengan wartawan di rumahnya, Rabu (8/6). (Foto: Irfan M)

Irfan Muntaha – Carenang   

Sutiah (35), perempuan asal Kampung Walikukun, Desa Walikukun, Kecamatan Carenang pernah menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) selama 1,5 tahun di Arab Saudi. Kini ia kembali ke kampung halaman dengan kondisi mata tidak bisa melihat.

Niat baik Sutiah untuk mengubah nasib keluarganya dari kemiskinan justru berakhir dengan kepedihan. Selama bekerja di Arab Saudi, ia diperlakukan seperti bukan manusia yakni dipukul hingga punggung memerah. Bahkan, penganiayaan yang sampai saat ini membekas yaitu disemprot dengan menggunakan air pembersih kaca.

“Bekerja pun tidak mengenal istirahat. Saat saya mau istirahat sudah ada perintah, itu harus saja dilakukan. Jika tidak, kena pukulan dari majikan. Perlakuan kasar itu terjadi tidak lama sejak datang ke Arab,” ujarnya dengan raut muka sedih hingga meneteskan air mata, Rabu (8/6).

Akibat disemprot air pembersih kaca, Sutiah kini mengalami kebutaan. Kepedihan yang dialami Sutiah tidak cukup sampai di situ, ia selama bekerja kurang lebih 1,5 tahun di Arab Saudi hanya digaji majikan selama 3 bulan dengan nilai 600 real per bulan.

“Alasan mereka (majikan-red) tidak membayar lantaran rekening yang saya miliki tidak benar. Namun setelah saya cek, ternyata benar. Saya pernah meminta agar gaji dibayar, tetapi janjinya doang, hingga saya pulang pun gaji itu tidak dibayar,” tuturnya.

Perlakuan itu membuat Sutiah semakin merasa terpukul, hingga akhirnya niat untuk bertahan mencari keuntungan dihentikan dan merencanakan pulang ke kampung halaman. Ternyata, penderitaan yang dialami Sutiah juga dirasakan TKI lain yang secara kebetulan pulang bareng.

Sutiah bekerja di arab Saudi sejak akhir 2014, dan merencanakan kepulangan dari Arab Saudi ke kampung sejak Maret lalu setelah mengalami kebutaan. Namun baru diberangkatkan pada Mei kemarin. “Saya tidak menyangka jika nasib buruk dialami saya hingga mata saya enggak bisa melihat dengan baik. Paling terlihat warna putih,” ujar Sutiah di rumahnya.

Sutiah kini hanya berharap, nasib yang menimpanya tidak dialami warga lain. Terlepas dari itu, Sutiah juga berharap ada yang mau membantu kesembuhan matanya yang kini tidak bisa melihat secara sempurna. “Kata tetangga saya, biaya yang dibutuhkan sekitar Rp80 juta. Itu untuk biaya operasi,” katanya.

Kepala Bidang Pengawasan Ketenagakerjaan pada Disnakertrans Kabupaten Serang Sugihardono mengaku, baru mengetahui ada TKI yang mengalami kebutaan setelah pulang dari Arab Saudi. “Kemungkinan ilegal, nanti kita cek. Jika memang butuh bantuan, kami berikan, tetapi nanti dilihat terlebih dahulu,” katanya. (*)