Derita Warga Cikedung, Rumah dan Sawah Hancur Tertimbun Lumpur

SERANG – Masyarakat di Desa Cikedung, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang yang terkena longsor sudah mendapat bantuan pemerintah berupa makanan cepat saji seperti mie rebus dan menerjunkan alat berat serta sejumlah petugas.

Namun, ternyata ada hal lain yang menjadi beban pikiran masyarakat. Bukan hanya hal yang masih terjadi saat ini, saat kampungnya masih terisolir akibat tertutup material longsor, tapi tempat mencari nafkah dan tempat tinggal (rumah).

Jumalisi, seorang guru di SD Cikedung bercerita. Persoalan besar yang dihadapi masyarakat bukan hanya jalan yang tertutup material longsor yang membuat kampungnya terisolir, tapi juga ladang pertanian dan perkebunan milik masyarakat yang juga tertimbun material longsor.

“Sawah yang tertimpa longsor, gimana kali itu. Gimana cara membuangnya? Mata pencaharian masyarakat di sini bertani dan berdagang, mayoritas bertani, berdagang pun banyak yang hasil pertanian. Sawah ada yang hendak panen dan baru tanam tertimbun. Tapi masalah besarnya bukan itu, yang kesulitan adalah membuang lumpur itu, ke mana masyarakat harus membuang? Dengan apa?” papar Jumalisi kepada Radar Banten Online saat dijumpai di Posko Bencana di SD dan SMP Satu Atap Bulakan, Kamis (28/7).

Jumalisi, mewakili masyarakat berharap pemerintah bisa mencarikan solusi tersebut, agar masyarakat bisa kembali bercocok tanam dan mendapatkan nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Soal rumah yang hancur akibat amukan alam tersebut, Sekretaris Desa atau masyarak tempat tersebut memanggilnya “carik”, Saniran menuturkan, pendataan sementara, ada 19 rumah masyarakat yang hancur. Ada yang rata dengan material longsor, ada juga hanya beberapa bagian rumah.

“Rumah ada 19 yang rusak, ini hasil pendataan sementara, paling banyak di Kampung Babakan sekira 12 rumah, ada juga pabrik padi yang rusak,” ujar Saniran saat ditemui disalah satu rumah warga di Babaklan.

Secara pribadi, Saniran sendiri merasa pesimis jika pemerintah mau membantu masyarakat untuk kembali membangun rumah. Meskipun konon katanya pemerintah mempunyai anggaran untuk renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dan bantuan sosial tak terduga.

“Ini kan akibat bencana alam, harusnya dapet (bantuan), tapi lah, waktu dulu ada bencana angin puting beliung, tahun 2013, rumah saya hancur, katanya mau dapet bantuan, saya buat proposal, tapi bantuannya gak ada, saya terpaksa gadein SK saya,” ujarnya.

Kendati mempunyai pengalaman yang mengecewakan terkait bantuan tersebut, Saniran berharap untuk bencana saat ini bantuan itu ada untuk meringankan beban masyarakat.

Untuk diketahui, pada Senin (25/7) pukul satu dini hari bencana longsor menghantam Desa Cikedung, setidaknya ada enam kampung terisolir. Selain menutup jalan, material longsor pun menimbun sejumlah lahan pertanian, dan menghancurkan sejumlah rumah penduduk. Sekolah pun terpaksa diliburkan selama satu pekan.

Alat berat baru diturunkan pemerintah kemarin, Rabu (27/7), jumlahnya satu unit, setelah enam kampung tersebut dibarkan terisolir selama tiga hari, baru hari ini pengerukan material lumpur dilakukan. (Bayu)