Desa Jambe Hasilkan Tujuh Ton Padi Unggulan

0
184 views
Kepala Desa Jambe Didi Rudi

TANGERANG –Kepala Desa Jambe, Kecamatan Jambe Didi Rudi berhasil membangun desanya lewat sejumlah potensi yang ada. Di antaranya membangun infrastruktur, perekonomian, maupun swadaya masyarakat Desa Jambe yang semkain menggeliat.

Bahkan perubahan pertama terlihat diawal masa jabatannya sebagai kepala desa pada 2013 lalu. Dimana Didi melakukan beberapa program pemberdayaan masyarakat seperti potensi pertanian, peternakan dan bidang menjahit untuk pemberdayaan warganya. “Saya terus mengajak warga Jambe agar mau mengolah potensi pertanian yang begitu besar ini. Mari kita terus tingkatkan lumbung padi di Desa Jambe agar lebih gemilang,” katanya.

Dia menambahkan, pihaknya juga mengajak warga untuk mengolah lahan persawahan seluas 50 hektare yang dahulu milik sebuah perusahaan, tetatpi tak dikelola dan akhirnya dibeli. “Saya beli lahan tersebut supaya bisa di garap sama petani disini,” tambahnya.

Tak hanya mengistruksikan, Didi juga bersama warga iktu terjun langsung menggarap sawah tersebut. Prinsipnya untuk hidup merakyat, menjadi alasan utama ia mengelola langsung persawahan itu. Bahkan padi hasil panennya juga dibagikan secara gratis kepada seluruh warga Desa Jambe.

Perlu diketahui, dari 26 hektare sawah padi unggul yang digarap oleh Rudi bersama petani dapat menghasilkan enam sampai tujuh ton padi unggulan. Untuk itu, Pemerintah Desa Jambe belum lama ini juga memberikan bantuan tiga mesin diesel pompa air yakni di tahun 2016, dan tahun 2018.
Selain potensi pertanian, program pemberdayaan lainnya yang ada di Desa Jambe adalah budidaya ayam petelor dan perternakan sapi. Budidaya tersebut sudah berlangsung sejak 2018 lalu.

Selain peternakan, ada juga pelatihan menjahit bagi pemuda dan ibu rumah tangga. Pelatihan dikhususkan untuk pembuatan tas dan dompet dari kulit ular dan sapi yang dilakukan usaha kecil menengah (UKM) milik Ucup Supriyadi dengan memberikan bantuan berupa mesin jahit, mesin skiving (mesin seset kulit-red) dan bahan baku (kulit ular dan sapi-red). “Ini salah satu usaha dan potensi desa yang menjanjikan. Setidaknya bisa menyerap tenaga kerja di Desa Jambe,” jelasnya.

Sementara itu, Ucup Supriyadi saat diwawancarai wartawan koran ini mengaku telah mendirikan UKM ini sejak tahun 2006 lalu . Hingga kini ada sekira lima orang pekerja yang membantu proses pembuatan tas dan dompet kulitnya. Dengan rata-rata penghasilan Rp10 juta per bulan. Selain itu, jika ada pesanan dengan jumlah cukup banyak, Ucup memborongkan pekerjaan tersebut ke warga di desa lain seperti Desa Tenjo.

“Allhamdulillah semenjak mendapat bantuan dari Pemerintah Desa Jambe, kami bisa menyetok barang. Dan memberikan pekerjaan untuk warga Jambe dan desa lainnya,” tutur Ucup.

Melirik ke program pembangunan, hingga tahun ini, infrastruktur Desa Jambe sudah terealisasi sekira 60 hingga 70 persen.(pem/rb)