Desa Kadu Fokus Berdayakan Masyarakat

Sekdes Kadu Anhar Qurni (kiri) mengunjungi tempat pengelolaan sampah menjadi pupuk organik di Kampung Pasirrandu, RT 02, RW 03, Kamis (21/3).

TANGERANG – Pemerintah Desa (Pemdes) Kadu, Kecamatan Curug, memfokuskan program pembangunannya, tahun ini pada bidang pemberdayaan masyarakat.

Demikian diungkapkan oleh Sekretaris Desa (Sekdes) Kadu Anhar Qurni. ”Pembangunan (fisik-red) masih tetap kita lanjutkan. Masih ada beberapa titik pembangunan paving block dan jalan beton. Tetapi, tahun ini, kami juga akan fokus melakukan pemberdayaan masyarakat,” ujar Qurni kepada Tim Saba Desa Radar Banten di ruang kerjanya.

Pria yang menjabat sebagai Sekdes Kadu sejak 1994 itu mengungkapkan, pihaknya telah melakukan pemberdayaan masyarakat bidang pengelolaan sampah pada 2017. Sampah rumah tangga di desa ini diolah menjadi pupuk organik.

”Pengolahan pupuk organik ini bertujuan untuk meminimalisir sampah yang menumpuk di beberapa titik, khususnya pinggir jalan, sebelum diangkut oleh petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang. Tujuannya juga untuk memberdayakan masyarakat agar memiliki keahlian,” ungkap Qurni.

Ia menambahkan, Pemerintah Desa Kadu pun tengah menyiapkan program pemberdayaan untuk pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), khususnya perajin akar kayu. ”Kita rencanakan untuk perajin hiasan akar kayu ini akan kita bantu Rp25 juta untuk modal dan pelatihan. Kami juga akan membantu untuk pemasaran,” jelas Qurni.

       Sementara itu, Kepala Urusan (Kaur) Perencanaan Desa Kadu Muhammad Agus Hidayat menambahkan, pemerintahan desanya juga berencana menggulirkan program pemberdayaan masyarakat pada perempuan dan petani. ”Untuk sementara ini, yang akan kita berdayakan itu yang sudah kelihatan adalah perajin hiasan akar kayu atau yang biasa disebut handicraft. Sisanya, kami masih mencari lagi, UMKM mana yang pas untuk diberdayakan,” papar Agus.

Perajin akar kayu Nur Salim mengaku, baru tiga bulan menggeluti pekerjaannya. Ia belajar memahat dan mengukir akar kayu secara otodidak. ”Ini belum ada yang dijual, soalnya bingung mau masarinnya ke mana. Ya semoga, pihak Desa Kadu bisa segera membantu,” pungkas Nur Salim. (pem/rb/sub)