Kepala Desa Lembangsari Eliyah bersama petani.

RAJEG – Ide-ide kreatif tak jarang muncul dari sebuah kondisi dengan fasilitas minim. Pun demikian dengan Pemerintah Desa Lembangsari di Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang. Keterbatasan alam membuat kepala desa dan aparaturnya menggulirkan program pertanian yang cukup inovatif. Sawah tadah hujan di desa di Kecamatan Rajeg ini tetap bisa menghasilkan panen dua kali setahun.

Kepala Desa Lembangsari Eliyah mengakui, inovasi pertanian ini menjadi program unggulan desanya dalam mengatasi keterbatasan sumber air untuk sawah. ”Debit air dari irigasi tidak sampai ke persawahan. Untuk mempertahankan hidup petani, tentu tanaman harus diganti sesuai musim. Kalau musim hujan, sawah ditanami padi. Nah, pas kemarau, baru ditanami palawija,” katanya.

Eliyah menyebutkan, ada 40 lebih warganya yang menjadi petani. Petani di desa hasil pemekaran Desa Rancabango ini, ada yang menanam padi dan ada yang menanam palawija di sawahnya. Antara lain, timun, sawi, kangkung, cabai, palawija dan lainnya.

”Tanaman palawija ini juga menjadi tema utama dalam Program Inovasi Desa 2018. Tanaman dipanen secara bertahap untuk menjaga harga jual tetap stabil. Biasanya, kalau semua berbarengan panen, harga pasti anjlok. Hasil panennya, didistribusikan ke pasar-pasar tradisional di Kabupaten Tangerang, salah satunya ke Pasarkemis serta menjadi pemasok sayuran di Kabupaten Tangerang,” ungkap Eliyah.

Palawija tidak hanya digiatkan kepada para petani. Anggota Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Lembangsari pun ikut menanam palawija. Serta, digiatkan pula untuk membuat apotek hidup. ”Anggota PKK dilibatkan untuk terampil menanam palawija dan tanaman apotek hidup. Maka itu, di sekitar kantor desa kami sediakan khusus kebun percontohan tanaman PKK,” tutur perempuan berusia 49 tahun itu.

Inovasi pertanian ini, diakui Eliyah, tidak menghadapi kendala. Permasalahan muncul, menurutnya, justru karena pengadaan pupuk. Petani di desa dengan luas wilayah 208 hektare ini juga kesulitan mendapatkan obat tanaman.

”Di sini (Desa Lembangsari-red), kalau petani mau beli pupuk atau obat, sering ngeluh karena jaraknya jauh. Maka itu, kami berharap ada bantuan pupuk dan obat untuk para petani kecil di desa dari pemerintah,” ungkapnya.

Program tahun 2019, Pemerintah Desa Lembangsari berencana membentuk badan usaha milik desa (BUMDes). Badan usaha ini diharapkan bisa menjadi salah satu wadah untuk membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Lembangsari. ”Selain petani, nanti, kami juga akan merangkul warga yang memiliki usaha kecil. Misalnya, usaha kerai anyaman bambu dan perajin bunga,” pungkas Eliyah. (pem/rb/sub)