Desa Lengkong Kulon Punya Banyak Potensi untuk Dikembangkan


TANGERANG – Desa Lengkong Kulon punya banyak potensi yang bisa dikembangkan, khususnya bidang pariwisata. Desa seluas 189 hektare ini terletak di Kecamatan Pagedangan.

    Potensi yang bisa dikembangkan menjadi objek wisata itu, antara lain, makam salah satu anggota Tigaraksa atau tiga utusan Kesultanan Banten pendiri Kabupaten Tangerang. Yakni, Raden Arya Wangsakara.

Kepala Desa Lengkong Kulon M Faiz

Makam Raden Arya Wangsakara ini kerap dikunjungi peziarah dari Banten dan Jawa Barat. Asal peziarah ini masih terkait dengan asal-usul Raden Arya Wangsakara, yang merupakan keturunan campuran dari Kesultanan Banten dan Kerajaan Sumedang Larang. ”Ini merupakan potensi wisata religi yang akan terus kita kembangkan,” kata Kepala Desa Lengkong Kulon M Faiz kepada Radar Banten.  

Potensi pariwisata lainnya, lanjut Faiz, tidak jauh dari lokasi makam Raden Arya Wangsakara. Adalah Singai Cisadane, yang menjadi batas wilayah Kabupaten Tangerang dengan Kota Tangerang Selatan. 

Pemerintah Desa Lengkong Kulon akan membangun beberapa wahana wisata air di bantaran Sungai Cisadane. Rencananya, fasilitas outbond. 

    Sekretaris Desa Lengkong Kulon Mulyadi Setiawan menambahkan, di bantaran Sungai Cisadane juga ada komunitas kaligrafi bernama Sanggar Saung Kalijaga. Ini juga potensi lain di Desa Lengkong Kulon. ”Pemuda-pemuda di sini (Desa Lengkong Kulon-red) cukup kreatif. Selain pandai membuat kaligrafi yang punya nilai jual, ada juga yang pandai membuat jaring untuk menangkap ikan di sungai,” jelas Mulyadi. 

Ia menyatakan, pengembangan potensi pariwisata tengah diupayakan oleh Pemerintah Desa Lengkong Kulon dan BUMDes Sehati. Sayangnya, masih terkendala biaya. ”Itu kan Sungai Cisadane kalau sudah direvitalisasi bakal bagus itu. Sudah ada grand design-nya. Hanya memang, sampai hari ini, belum berjalan karena banyak hal,” tukas Mulyadi. 

Desa Lengkong Kulon juga ditetapkan sebagai Kampung Berseri Astra (KBA), yakni Kampung Sawah di RW 03. Di kampung ini ada kebun tematik dan pengrajin kayu. 

Duta KBA Yuli Sulastri mengatakan, di kebun tematik yang ia urus bersama ibu-ibu lain Desa Lengkong Kulon itu banyak ditanami sayur dan buah. KBA dikunjungi oleh banyak siswa PUD atau TK. Anak-anak usia dini ini berwisata sambil bermain.

”Di sini (KBA-red) ada pepaya, pisang, kangkung, cabai, tomat, timun suri, dan masih banyak lagi. Kita juga punya gerobak baca yang menyediakan buku-buku untuk anak-anak jika bermain ke sini,” pungkas Yuli. (pem/rb/sub)