Kepala Desa Rajegmulya, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang Sobri Baehaki memantau kinerja aparturnya.

TANGERANG – Kepala Desa Rajegmulya, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang Sobri Baehaki menyatakan, pemerintahannya akan membantu mengembangkan perajin kursi dari drum bekas. Para perajin kursi perlu dukungan pemerintah. Ia menilai, kursi dari drum bekas itu cukup kreatif.

        Sobri mengakui, tidak banyak potensi di desanya yang bisa dikembangkan. Karena itulah, perajin kursi drum bekas yang diprakarsai oleh Dadang Lesmana bisa menjadi potensi yang bisa mendongkrak perekonomian dan pendapatan masyarakat setempat. ”Ini bagus ya kursinya. Cukup kereatif. Kalau kita lihat di kafe-kafe kan cuma kursi drum bekas yang kecil dan untuk satu orang. Kalau ini kan bisa untuk kursi sofa. Modelnya juga bagus. Cuma memang, pemasarannya yang kurang,” ujar Sobri kepada Radar Banten.

        Salah satu cara mengembangkan kerajinan kursi ini, Sobri akan memesannya. Kursi-kursi dari drum bekas karya Dadang Lesmana akan menambah fasilitas Kantor Desa Rajegmulya. Rencananya ini sekaligus menjadi strategi promosi penjualan dari Pemerintah Desa Rajegmulya.

        ”Di kantor desa kan sering dikunjungi banyak tamu, banyak juga yang berasal dari luar Kecamatan Rajeg. Bisa saja kan jika dipajang kursi drum bekas yang bagus ini, mereka (pengunjung Kantor Desa Rajegmulya-red) jadi tertarik,” kata Sobri sambil tersenyum.

        Sobri melanjutkan, Pemerintah Desa Rajegmulya juga akan membantu perajin kursi drum bekas itu dari segi permodalan. Sehingga, perajin bisa menambah produksinya dan menambah karyawan dari masyarakat desa. 

        Sementara itu, Dadang Lesmana mengatakan, bahwa saat ini, memiliki lima karyawan. Kelimanya merupakan saudara dan tetangga kampung. ”Karyawan baru lima. Pengennya sih nambah, biar produksi lebih banyak kursi lagi,” tuturnya.

        Pria kelahiran 18 Februari 1976 ini mengakui kesulitan memasarkan kerajinannya. ”Selama ini, pembelinya masih rekanan kami. Belum bisa menjangkau ke luar daerah,” lanjut Dadang.

        Dalam sebulan, kursi drum bekas yang dihasilkan hanya mencapai dua sampai tiga unit sofa. ”Karena itu tadi, pemasarannya masih terbatas. Semua tergantung pesanan konsumen,” tambahnya.  

        Dadang menuturkan, harga satu set sofa beserta mejanya, dipatok mulai Rp4,5 juta sampai Rp9 juta. Ia pun berharap agar pemerintah segera membantu permodalannya. ”Kalau bisa, orang-orang di kampung ini semuanya bisa diberdayakan. Berharap Pak Lurah (menyebut Sobri Baehaki-red) bisa segera bantu lah,” pungkasnya tersenyum.

        Desa Rajegmulya berpenduduk 8.373 jiwa. Desa ini berbatasan dengan Desa Mekarsari di sebelah Selatan, lalu DesaTanjakan Mekar di sebelah Utara, kemudian Desa Gintung di sebelah Timur, dan Desa Rajeg di sebelah Barat. (pem/rb/sub)