Desmond dan Andika Bersaing Ketat

0
2095

Sururi: Polling Online hanya Entertainment Demokrasi

SERANG – Situs penyedia polling atau survei online memasukan enam nama bakal calon Gubernur Banten, untuk dipilih pengunjung website Pollingkita.com.

Enam nama bakal calon gubernur yang bisa dipilih pengunjung situs tersebut ialah Wahidin Halim, Andika Hazrumy, Dimyati Natakusumah, Desmond Mahesa, Rano Karno, dan Iti Octavia Jayabaya.

Polling yang dibuat sejak Kamis (27/5) telah diikuti 2.092 responden yang telah memilih salah satu dari enam nama bakal calon gubernur yang disajikan penyedia situs. Polling tersebut juga mendapat 20 komentar dari pengunjung website tersebut.

Hingga Rabu (2/6) sekira pukul 21.00 WIB, hasil polling sementara menempatkan Desmond Mahesa (Ketua DPD Gerindra Banten) sebagai peraih suara terbanyak dengan mengantongi 1.055 suara atau 50,4 persen, disusul Andika Hazrumy (Wakil Gubernur saat ini) 409 suara atau 19,6 persen. Sementara Wahidin Halim (Gubernur Banten saat ini) hanya meraih 350 suara atau 16,7 persen.

Berikutnya Iti Octavia (Bupati Lebak) meraih 134 suara atau 6,4 persen, disusul Rano Karno (mantan Gubernur Banten) dengan 73 suara atau 3,5 persen. Sedangkan Dimyati Natakusumah (mantan Bupati Pandeglang) hanya meraih 71 suara atau 3,4 persen.

Menyikapi polling tersebut, Pengamat politik Unsera, Ahmad Sururi menilai polling online tersebut tidak bisa dijadikan rujukan karena tidak memenuhi persyaratan layaknya lembaga survei.
“Pemilihan nama bakal calon gubernur tidak didasarkan instrumen pengukuran yang valid. Jadi polling ini
hanya entertaintment demokrasi, untuk menghangatkan kondisi perpolitikan di Banten jelang Pilgub 2024,” kata Sururi kepada Radar Banten, kemarin.

Ia melanjutkan, polling yang hanya memberikan pilihan dan hanya sebatas mencocok-cocokan menurut pilihan netizen, bisa dibuat siapa saja di medsos.
“Dari sisi substansi tidak ada, bahkan semua pihak bisa memperdebatkan dasar pemilihan nama-nama yang masuk pollling tersebut,” jelasnya.

Kendati hanya hiburan di medsos, namun polling tersebut bisa saja memberikan keuntungan bagi nama-nama yang disajikan.
“Apakah nantinya diuntungkan dari sisi popularitas di medsos? jawabannya saya kira tidak sepenuhnya diuntungkan. Ya namanya hiburan, akan berlalu begitu saja,” pungkas Sururi.

Senada, pengamat politik Untirta, Leo Agustino mengatakan, polling online semacam ini bukan fenomena baru di medsos. Setiap jelang pemilu atau pilkada selalu bertebaran di lini massa website yang menyediakan polling calon kepala daerah atau calon presiden.
“Bagi saya tentu yang dilakukan pollingkita.com dianggap hiburan. Kenapa? Karena polling tersebut tidak memenuhi kaidah ilmiah yang ketat. Sehingga dianggap hiburan belaka,” ujarnya.

Kendati demikian, lanjut Leo, hasil polling online tersebut menjadi menarik karena nama-nama yang diprediksi dominan menunjukkan kedominannya di polling tersebut. Sehingga hal ini seolah-oleh menunjukkan realita sebenarnya. Yang boleh jadi keliru karena tidak mengindahkan kaidah akademik yang ketat dan benar.
“Sebenarnya kita, selaku warga Banten ingin tahu seberapa tinggi elektabilitas beberapa calon potensial yang ada. Oleh karena itu, polling dibuat untuk mengetahui itu. Tapi bukan polling online seperti ini yang dibutuhkan warga Banten,” tegasnya.

Saat dikonfirmasi wartawan, Desmond Mahesa mengaku tak mempersoalkan pollingkita.com meskipun dirinya tak mengetahui siapa yang membuat poling tersebut.
“Yang terpenting adalah bagaimana menjadi pemimpin yang diharapkan masyarakat Banten, dan yang bisa membawa perubahan serta dapat membangun Provinsi Banten ke arah yang lebih baik,” katanya. (Deni S)