CILEGON – Sepanjang tahun 2018 terdapat 828 janda/duda baru di Kota Cilegon. Banyaknya pasangan suami istri yang berpisah mengalami peningkatan sekira lima persen bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, pada 2017 terdapat 791 kasus perceraian.

Panitera Pengadilan Agama Kota Cilegon Baihaqi mengatakan, di antara banyaknya kasus perceraian tersebut, ada beberapa faktor yang menjadi pemicu. Di antaranya perselisihan terkait mengurus anak hingga perselingkuhan. Bahkan yang menjadi tren saat ini perselisihan disebabkan media sosial seperti Facebook.

“Perselisihan media sosial lagi ngetren di mana-mana,” ujarnya kepada Radar Banten saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (11/1).

Meski demikian, Baihaqi mengungkapkan, dari beberapa faktor penyebab tersebut, ada pemicu lama yang masih dominan. Antara lain faktor ekonomi, meninggalkan salah satu pasangan, serta perzinahan atau perselingkuhan.

“Jika dirata-rata per bulan dari 50 perkara perceraian, hampir 30 perkara disebabkan perselisihan dan bertengkar. Biasanya bermula dari nyimpen handphone suami atau istri. Di situlah terjadi perselisihan,” terangnya.

Saat ditanya lebih lanjut terkait jenis pekerjaan yang mendominasi perkara perceraian, Baihaqi mengaku, tidak melakukan pencatatan secara detail. Namun, kata dia, perceraian terjadi hampir di semua profesi baik aparatur sipil negara (ASN) maupun wiraswasta.

Kepala Kantor Kemenag Kota Cilegon Mahfudin menilai, angka perceraian di Kota Cilegon terbilang cukup tinggi. Sehingga, pihaknya terus berupaya untuk menekan angka perceraian dengan berbagai penyuluhan. “Angkanya terus meningkat. Tapi, secara detail ada di Pengadilan Agama,” katanya.

    Untuk menekan angka perceraian, Kemenag Kota Cilegon akan terus membangun koordinasi dengan sejumlah lembaga, misalnya Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ), Forum Silaturahim Pondok Pesantren (FSPP), penyuluh agama, dan penghulu.  

   “Dengan pemahaman agama, kita harapkan masyarakat menyadari pentingnya madrasatul ula (keluarga). Kita juga ada program pembinaan catin atau calon pengantin,” pungkasnya. (Fauzan/ibm/ira)