Ilustrasi

Mungkin Ini kisah layaknya cerita di sinetron yang sering kita tonton. Tapi, percaya tidak percaya, ini benar adanya. Hikayat perjuangan Tile (22), bukan nama sebenarnya, dalam merebut kembali cinta sejati yang sudah dipinang lelaki, sebut saja Mimin (21), istri sah Rokim (23), nama samaran.

Mimin dan Tile bertemu sejak awal masuk SMA, waktu itu sedang ada kegiatan MOS (masa orientasi siswa), ya semacam ospek gitu kalau di perkuliahan. Nah, tak sengaja, mereka berdua datang telat secara bersamaan, akhirnya, berkat kejahilan panitia, mereka dihukum jalan berdua mengitari sekolah dengan papan nama bertuliskan, ‘kami pasangan mesra, telat saja berdua’. Ciyee, romantisnya! Sejak kejadian itulah, kedekatan mereka berlangsung sampai akhirnya pacaran. Sungguh masa remaja memang luar biasa.

Tanpa disangka keduanya memang saling mencinta. Setiap hari berangkat dan pulang sekolah bersama, jalan-jalan dan terkadang juga bolos bareng. Wah-wah, nakal juga ternyata.
“Ya namanya juga remaja Kang. Maklumlah!” ucap Mimin.

Pribadi Mimin yang tidak pernah ambil pusing, membuat Tile nyaman saat bersamanya. Selain itu, meski wajah Mimin biasa saja, tapi penampilannya di sekolah patut menjadi perhatian. Ya, bagaimana tidak, seragam SMA yang ia kenakan memang sedikit ketat, meski berkerudung, tapi modelnya ala-ala jilbob gitu. Itulah yang membuat Tile betah berboncengan motor, menghabiskan waktu di jalanan bersama Mimin. Waduh, ini sih cinta pada lekukan pertama.

Tile bukanlah lelaki kaya, meski hanya bermodalkan motor Supra modifikasi yang ia rakit sendiri, membuat Mimin lengket di hati. Wajah biasa saja, uang pas-pasan, motor Supra, tapi kok Teh Mimin mau aja?

“Cinta itu enggak kenal materi, Kang. Asal sayang dan bikin nyaman, itu jadi fondasi utama!” sanggah Mimin. Fondasi? Sudah kayak rumah saja, Teh, hehe.

Setelah lulus SMA, Mimin ingin segera menikah. Bersama Tile, ia memegang erat kepercayaan untuk selalu bersama. Namun ternyata, Tuhan berkehendak lain. Tingkah laku Mimin yang selama ini dinilai buruk oleh orangtua membuat mereka mengambil tindakan tegas dengan menjodohkan Mimin dengan lelaki pilihan ayahnya.

Seperti diceritakan Mimin, sang ayah selama ini diam saja ketika melihat tingkah lakunya. Mulai dari pulang terlambat, pergi naik motor bareng Tile, bahkan dipanggil guru ke sekolah lantaran bolos dan kenakalan lainnya, ayahnya tak pernah marah. Ternyata, dari diamnya selama itu, sang ayah menyimpan kejutan yang membuat Mimin belingsatan.

Apa yang ditakutkan pun terjadi, datanglah seorang lelaki bersama keluarganya ke rumah. Setelah mengobrol sana-sini, sang ayah langsung menyatakan tujuan dari pertemuan dadakan malam itu. Mimin akan dijodohkan dengan Rokim. Lelaki gagah pilihan ayah yang dipercaya akan membawa Mimin menjadi wanita salihah. Sontak Mimin pun langsung gegana alias gelisah, galau, merana. Haha.

Meski sempat mengajukan penolakan, Mimin tak bisa berbuat banyak, ketika ia berbicara, ayahnya langsung membentak. Tak hanya itu, ponselnya pun disita. Wah galak juga yah. Mimin hanya bisa menangis. Bukan cuma karena akan dinikahkan oleh lelaki yang baru dikenalnya, tapi juga ia tak bisa mengabari Tile terkait apa yang dialaminya.

Dua minggu kemudian, undangan mulai disebar. Perlahan, Mimin mencoba menerima kenyataan. Ia berusaha sekuat tenaga melupakan kenangan bersama Tile dan menerima Rokim apa adanya. Satu hal yang ia percaya yang bisa menenangkan hatinya, yaitu saat neneknya memberi nasihat atas apa yang ia alami saat itu. Wuih, memang nasihat apa, Teh?

“Ya, katanya orang-orang zaman dahulu saja banyak yang menikah dengan pasangan pilihan orangtua yang baru dikenal dan mereka langgeng-langgeng saja sampai kakek-nenek. Begitulah katanya,” curhat Mimin

Pernikahan pun berlangsung tanpa kendala. Mimin Resmi jadi istri sah Rokim, lelaki gagah dengan kulit sawo matang yang baru saja lulus kuliah. Mimin terlihat bahagia, meski ada raut risau di matanya, tapi dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk tersenyum kepada setiap tamu yang datang.
Namun bukannya pasrah dengan keadaan, Tile justru berontak dan mendobrak larangan yang seharusnya tidak ia langgar. Tile mencaci maki Mimin yang telah mengkhianati cinta suci mereka. Ujung-ujungnya, adu pukul deh dengan Rokim, sang suami yang sok jadi pahlawan kesorean.

“Iya, waktu itu memang kejadiannya sore hari,” kata Mimin.

Ingin terlihat mesra, Rokim dan Mimin jalan-jalan keliling kampung naik motor berdua. Apalah daya, di tengah jalan tak sengaja bertemu Tile. Bagai orang melihat maling, Tile langsung naik pitam. Dicegatlah Rokim di tengah jalan, meski awalnya hanya terjadi adu mulut biasa, tapi tampaknya Rokim naik darah dan memukul Tile terlebih dahulu.

Beruntung ada beberapa warga yang melihat keributan itu. Mimin hanya bisa berteriak ketakutan. Kedua lelaki yang memiliki perasaan sama pada Mimin itu saling mempertaruhkan harga diri dengan cara lelaki. Sampai akhirnya, warga pun berhasil memisahkan keributan. Rokim dan Tile dibawa ke rumah Mimin.

Peristiwa itu sontak mengundang perhatian warga kampung. Ibu-ibu, bapak-bapak, semuanya riuh mengerubungi rumah Mimin. Ujung-ujungnya, orangtua deh yang kena batunya, menanggung malu setengah mati dan harus berurusan dengan aparat desa. Sedangkan Tile, merasa puas lantaran amarahya sudah terkuras, terlampiaskan melalui cacian dan beberapa pukulan di wajah Rokim.

Ya meski keduanya sama-sama bonyok, tapi yang jadi korban sebenarnya adalah Mimin. Sudah sakit hati, malu, dimarahi orangtua, jengkel, kesal, pokoknya campur aduk. Duh, ada-ada saja ya anak-anak muda itu.

Semoga Kang Tile bisa bersabar, Kang Rokim dan Teh Mimin juga bisa rukun sampai mati. Amin.(daru-zetizen/zee/ira)