Digenitin Pembantu, Suami Mati Kutu

Ibarat duri di dalam daging, kelakuan pembantu rumah tangga, sebut saja Odah (32), merusak kebahagian Noni (46) dan Eko (52), keduanya nama samaran. Rumah tangga mereka terganggu oleh tingkah Odah yang genit pada majikan, waduh.

Noni mengaku tidak bisa bersikap tegas lantaran berutang budi pada orangtua Odah yang sudah merawatnya saat kecil. Bahkan, orangtua Odah sudah dianggap orangtuanya juga. Tapi, setiap hari menanggung derita, Noni akhirnya mengamuk juga. Ya iyalah, mana tahan suami digodain pembantu. Sabar ya, Teh Noni.

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Mancak, siang itu Noni sedang memesan makan siang di warung nasi. Iseng-iseng diajak mengobrol, Noni tidak canggung menceritakan pengalaman rumah tangga.

Katanya, meski sekarang hubungannya dengan Odah jadi rusak, tapi setidaknya ia masih dianggap anak oleh bapak dan ibu Odah yang berjasa besar pada hidupnya. “Kalau enggak ada orangtua Odah, mungkin saya sudah jadi gembel,” aku Noni.

Soalnya, waktu umur tujuh tahun, ayah Noni meninggal dunia. Waktu itu ia hidup berdua dengan ibu kandungnya. Karena tidak punya uang untuk mencukupi kebutuhan makan dan sekolah Noni, ibunya pun kerja ke Arab Saudi. “Awalnya tinggal sama saudara, tapi karena keganggu dan nambah biaya hidup, saya sering disindir. Akhirnya diasuh sama orangtua Odah yang cuma teman biasa ibu saya,” katanya.

Padahal, waktu itu orangtua Odah juga cuma petani biasa. Tapi, bisa merawat Odah dan Noni sampai dewasa. Ibu Noni juga waktu itu sering mengirim uang, jadi mereka saling membantu. Sampai akhirnya, Noni bertemu dengan Eko di lapangan kampung waktu acara hiburan malam.

Eko waktu itu bekerja sebagai karyawan pabrik produk makanan. Sejak pertemuan itu, Eko yang tinggal di Serang, sering datang ke Mancak untuk menemui Noni. Mereka pun pacaran selama setahun dan akhirnya menikah. “Pas menikah, alhamdulillah ibu pulang dan bawa banyak uang,” akunya.

Rumah tangga keduanya berlangsung bahagia. Apalagi mereka langsung dibangunkan rumah oleh ibunda Noni. Mereka hidup harmonis, ditambah kehadiran buah hati di tahun kedua pernikahan. “Nah, pas saya punya anak, Odah menikah sama lelaki dari Tangerang,” katanya.

Tapi, pernikahan Odah hanya bertahan dua bulan, Odah diceraikan suaminya tanpa alasan jelas. Padahal waktu itu Odah sedang mengandung. Mungkin lantaran stres, sikap dan kelakuan Odah berubah. Sering marah-marah sendiri, kadang juga senyum-senyum sendiri. Duh, kasihannya ya, Teh Odah. “Tapi kalau diajak ngobrol mah nyambung sih, disuruh-suruh juga nurut dan benar,” akunya.

Iba pada Odah yang hidup tanpa suami, Noni pun mempekerjakan Odah sebagai pembantu di rumahnya. Tapi, setelah satu bulan bekerja, Odah malah kesemsem pada Eko. “Parahnya dia tuh enggak mandang saya, suka ngerayu Kang Eko di depan mata saya,” akunya.

Bahkan, saat Eko hendak ke pasar naik motor, Odah memaksa ikut dan ingin dibonceng. Noni yang melihat suaminya dipaksa-paksa sambil dipegang pinggangnya, cuma bisa menggerutu di belakang. “Saya tahu suami juga sebenarnya mah ogah, dia menolak enggak enak gitu,” katanya.

Sejak itu, rumah tangga mereka tidak pernah tenang. Setiap malam pasti gelisah karena sikap Odah yang semakin tidak terkendali. Noni jadi sering emosian, Eko pun salah tingkah dan kikuk. “Pokoknya tidur juga enggak nyenyak, mau dipecat enggak enak, didiemkan saja juga bikin kesal,” keluhnya.

Enam bulan kemudian, Noni pun menceritakan masalah itu kepada orangtua Odah. Beruntung mereka bisa mengerti dan memaksa Odah pulang dan berhenti kerja. “Waktu itu dia ngamuk enggak mau keluar rumah, terus dia jadi benci juga ke saya. Tapi, bodo amatlah, yang penting rumah tangga aman,” pungkasnya.

Oalah, ada-ada saja ya cerita Teh Noni. Semoga enggak dapat pembantu kayak Odah lagi ya, Teh. Hehe. (mg06/zee/ira)