Dikekang Istri, Diam-diam Menikah Lagi

Ada istilah suami takut istri, hal itu tak berlaku bagi Jali
(39), nama samaran, dalam menjalani rumah tangganya. Selama tiga tahun
menjalani rumah tangga diatur-atur istri, sebut saja Leli (38), Jali dengan
jurus berpura-pura sabar dan meladeni tingkah istri, diam-diam mempunyai
selingkuhan, sampai akhirnya menikah lagi. Oalah.

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Cikeusal, Jali siang itu sambil menenteng ayam jago cengar-cengir keluar dari pasar. Jali pun langsung mengarah ke warung kopi. Disitulah kami berbincang tentang kisah rumah tangganya yang cukup menggelitik.

Dengan semangat 45, Jali mencurahkan isi hatinya. Pengakuan Jali, ia tak pernah menyesal menceraikan Leli. Soalnya, baru kali ini Jali merasakan kebahagiaan berumah tangga, yaitu dengan istri barunya, sebut saja Sumi. Meski ekonominya terbilang pas-pasan, Jali tak pernah terbebani dan merasa merdeka.

“Sama istri yang sekarang, saya bisa lakuin apa aja sesuka hati, enggak ada yang larang-larang,” ujarnya. Awas Bang Jali nanti kebablasan.

Jali saat ini mengandalkan usaha jual ayam aduan untuk menghidupi anak istrinya. Kisah pahit rumah tangga Jali dengan mantan istrinya terjadi enam tahun lalu. Leli dulunya pujaan hati Jali. Wajar, Leli dianugerahi wajah cantik, tubuhnya juga ideal yang bisa membuat lelaki mana pun kesemsem.

Jali pun awalnya merasa jemawa bisa mencuri hati Leli. Saat itu, Jali belum sadar kalau sifat Leli ternyata tak seperti yang diharapkan. Pertemuan keduanya terjadi saat hendak berobat ke puskesmas. Lama menunggu giliran pemeriksaan, keduanya spontan mengobrol ke sana ke mari, membawa alamat. Lah, kok jadi lagunya Ayu Ting-ting ‘Alamat Palsu’. Dari obrolan berlanjut ke curhat-curhatan sampai akhirnya bertukar nomor telepon. Jali memang sengaja mendekati Leli karena kagum dengan kecantikannya.

“Leli tuh enak dipandang, orangnya imut, matanya juga indah,” akunya. Iya sih. Dasar mata keranjang aja.  

Tapi, sosok Jali juga tak kalah dengan Leli. Jali juga lumayan tampan, kulitnya sawo matang, macho, postur tubuhnya juga atletis. Pasca pertemuan itu, keduanya menjadi sering berkirim pesan di ponsel dan saling memberikan perhatian. Jali menujukkan sikap yang lembut selembut sutera.

Awalnya Leli tak terlalu menanggapi bualan Jali. Lama-lama, setelah keduanya sering bertemu, Leli luluh juga dan jatuh ke pelukan sang jantan. Selama tiga bulan Jali pedekate, akhirnya mereka jadian. Sejak mempunyai hubungan, keduanya tak pernah absen apel malam Minggu di rumah Leli. “Keluarganya asyik, setiap saya main pasti pada mengerti. Kalau udah duduk berdua di ruang tengah, mereka pindah ke bagian dalam,” katanya. Dasar omes alias otak mesum.

Nasib Jali beruntung. Meski hanya seorang anak tukang kebun dan usaha warungan, keluarga Leli menerima kehadiran Jali dan tak melarang untuk berhubungan dengan anaknya. Lain dengan Leli yang merupakan anak pengusaha dan paling dihormati di kampung. Orangtua Leli dikenal sebagai juragan sawah.

Semakin hari keduanya semakin lengket. Sampai akhirnya, orangtua sang dara mempertanyakan keseriusan Jali. Dewi fortuna tampaknya berpihak kepada Jali yang langsung diterimanya sebagai pendamping Leli, meski statusnya saat itu masih pengangguran.

Sudah seperti mimpi durian runtuh, lagi-lagi Jali beruntung, Leli berhasil membujuk ayahnya untuk memberikan pekerjaan kepada Jali. Orangtua Leli pun  menempatkan Jali di pabrik penggilingan miliknya sebagai pengangkut beras. “Alhamdulillah, nasib saya baik. Udah istri cakep, kaya, kerjaan dikasih pula,” ujarnya. Parasit benar ya.

Sebulan bekerja, Jali pun melamar Leli. Keduanya menikah dengan pesta meriah. Jabatan Jali di pabrik penggilingan pun meningkat. Jali diangkat mertua untuk mengisi posisi bagian administrasi di pabrik. “Dulu saya cuma hitung-hitung pemasukan, kerjanya enak,” katanya. Nasibmu baik benar, Bang Jali.

Setahun berumah tangga, Jali dan Leli dikaruniai anak pertama hingga terpancar rona kebahagiaan pada keduanya. Kehidupan ekonomi Jali pun seiring waktu terus meningkat. Mobil bisa terbeli hingga sering belanja ke mal, Jali pun mulai dihormati orang-orang sekitarnya.

Namun, kebahagiaan yang dirasakan Jali seiring waktu mulai luntur. Sejak punya anak, sikap Leli berubah. Merasa semua hal yang dimiliki suami dianggap pemberian dia. Leli mulai bertingkah semena-mena dan mengatur-ngatur suami. Sejak itu, Jali merasa tertekan. “Awalnya saya maklumi, tapi lama-kelamaan semakin ngelunjak,” keluhnya. Ya segala sesuatu pasti ada konsekuensinya, Bang Jali.

Selain suka mengatur, Leli juga sering menyuruhnya mencuci pakaian, piring, hingga beres-beres rumah. Dengan alasan sibuk mengurus anak, Leli membebankan semua pekerjaannya kepada Jali. Sudah kayak pembantulah.

Kondisi itu menimbulkan gosip miring tentang Jali yang dianggap sebagai suami takut istri sampai terdengar ke telinga orangtuanya. Merasa tidak lagi dihargai istri, Jali pun berontak. Meski tidak secara langsung mengadu ke istri, Jali diam-diam mencari pelampiasan dengan wanita lain. Jali mulai berselingkuh dengan Sumi. Setiap malam Jumat, ia selalu pergi keluar rumah pergi dengan selingkuhan dengan dalih izin pengajian.

“Setahun lebih saya pura-pura sabar. Sampai ada waktu yang tepat, saya ceraikan dia,” ungkapnya.

Ternyata, selama berpura-pura menuruti perintah istri, Jali mengumpulkan modal dari tempatnya bekerja di keluarga Leli. Sampai akhirnya setelah tiga tahun berumah tangga, Jali berani menceraikan Leli. “Lumayan, ada modal buat bangun ternak ayam,” akunya. Buset dah, bisa saja ya.

Saat ini, Jali dan Leli sudah mempunyai pasangan masing-masing. “Walaupun hidup pas-pasan, saya lebih bahagia punya istri bebasin suaminya,” ucapnya. Semoga langgeng ya, Kang. (mg06/zai/ira)