Dilema Bersuami Penjaga Pantai

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

1. Pisah Karena Masalah Ekonomi

Siang itu, Debi (34), nama samaran, melamun di sudut rumah. Banyak yang ia pikirkan, mulai dari stok makanan yang semakin menipis, juga jatah jajan anak yang sudah tidak ada lagi. Tidak hanya itu, ia pun tertekan dengan tagihan-tagihan utang yang semakin menumpuk. Lantaran tidak punya uang, Debi beberapa kali meminjam kepada tetangga namun belum ia lunasi.

Telah bertahun-tahun ia berupaya bertahan dengan kondisi ekonomi murat-marit. Namun siang itu ia memutuskan untuk menyerah. Bendera putih ia kibarkan kepada suaminya, sebut saja Madi (45). Ia angkat kaki dari rumah tersebut dan untuk kembali ke pelukan ibu bapaknya.

“Saya menyerah, ternyata hidup berumah tangga itu enggak cukup pakai cinta. Materi juga perlu, kalau hidup melarat terus saya tidak sanggup,” kata Debi berlinang air mata.

Ia berat hati meninggalkan Madi yang sangat ia cintai. Debi membawa anak semata wayangnya untuk tinggal bersama orangtua. “Saya minta orangtua biayai anak saya sekolah untuk sementara. Sampai saya mendapatkan kerja agar bisa mandiri,” tuturnya.

Di rumah orangtua, Debi pun terpaksa harus mendengarkan ocehan mereka terlebih dahulu. Maklum, pernikahan Debi dan Madi memang sejak awal tidak disetujui kedua orangtuanya. Mereka sejak awal meragukan kemampuan Madi untuk menjadi kepala keluarga baik. Sebab Madi hanyalah lulusan SMA, sehingga akan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. “Kami sejak awal memang tidak direstui. Saya yang memaksa menikah dengan Mas Madi. Tapi karena memaksa, jadinya seperti ini,” terangnya.

Perpecahan rumah tangga memang tidak melulu terjadi karena kehadiran pihak ketiga. Kondisi ekonomi pun lumayan populer sebagai penyebab perceraian pasangan suami istri. Hal tersebut pernah dijelaskan kepada Debi oleh orangtuanya. Namun lantaran kepalang mabuk cinta, nasihat orangtua tidak didengarkannya. “Saya masih muda, tidak tahu tentang hal lain selain cinta. Namanya terlalu sayang sama pacar, akhirnya tidak mau pisah. Padahal orangtua sudah bilang, kalau Mas Madi bukan pria yang tepat jadi suami saya,” tuturnya.

2. Berawal Kenal di Pantai

Hmmm, memang seperti apa jalan cerita pasangan Debi dan Madi ini? Ini diawali ketika mereka bertemu di sebuah tempat wisata pantai di Pandeglang. Kebetulan Madi adalah salah satu penjaga pantai atau lifeguard di pantai tersebut. Debi saat berenang, tergulung ombak dan hampir tertarik ke arah palung. Untungnya Madi yang sedang bertugas langsung merespons, ia berhasil menyelamatkan Debi.

Debi berhasil ditarik ke tepi pantai, paru-parunya terendam air laut saat tergulung ombak. Melihat korban tidak bernapas, Madi melakukan penyelamatan pertama yakni Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) atau bantuan pernapasan.

Huffff.. huffff.., Madi meniupkan udara sebanyak-banyaknya ke mulut Debi. Setelah itu dada Debi ia tekan agar air keluar dari paru-parunya. Uhuk uhuk uhuk…, tidak lama kemudian Debi muntah air cukup banyak. Alhamdulillah, bantuan pernapasan Madi sukses menyelamatkan Debi.

Satu nyawa telah berhasil diselamatkan, tidak hanya nyawa namun hati korban tenggelam pun jatuh ke pelukan Madi. Sejak kejadian itu Debi jatuh cinta kepada Madi, apalagi sang penyelamat memang ganteng dan berotot. “Kejadian itu saat saya masih SMA, kami lalu berpacaran setelah insiden tenggelam itu,” katanya.

Awalnya Madi disambut hangat oleh orangtua Debi. Apalagi Madi yang asal-usulnya dari keluarga nelayan Pandeglang ini telah menyelamatkan nyawa anak mereka. Namun setelah mengetahui mereka berpacaran, sambutan hangat orangtua Debi lambat laun menjadi dingin. “Saya sempat kesal, kenapa mama papa jadi sinis kepada Mas Madi?” tutur Debi.

Setelah lulus SMA, orangtua Debi meminta agar sang anak menjauhi Madi. Awalnya, kedua orangtua beralasan agar Debi lebih fokus pada kuliah. Namun pada akhirnya, kedua orangtua Debi terbuka jika mereka tidak suka Madi karena profesinya yang hanya seorang lifeguard. “Mas Madi kan hanya lulusan SMA, pekerjaannya juga tidak jelas. Kalau bukan lifeguard, ya nelayan. Tidak mungkin bisa menghidupi saya jika dipinang sebagai istri,” terangnya.

3. Menikah Sirih

Namun penolakan orangtua ditanggapi ekstrim oleh Debi. Ia kabur dari rumah dan meminta Madi menyembunyikannya dari kejaran orangtua. Sang pacar menuruti, dia membawa Debi ke rumah saudaranya di Pelabuhan Ratu, Sukabumi.

Di sana, Debi dan Madi menikah sirih. Hasil pernikahan sirih mereka adalah seorang bayi laki-laki mungil yang lahir satu tahun kemudian. “Saya kabur satu tahun lebih, agar tidak menimbulkan dosa, saya nikah sirih dengan Mas Madi,” jelas Debi.

Saat usia sang anak enam bulan, Debi pulang ke rumah orangtua. Ia berharap kehadiran cucu membuat orangtuanya luluh dan mau menerima Madi. Upaya lobi-lobi dengan membawa cucu ternyata sukses. Kedua orangtua Debi menikahkan sang anak dengan Madi secara resmi.

Tidak hanya itu, mereka bahkan membuatkan rumah untuk Debi dan Madi bernaung. Namun bantuan orangtua Debi hanya sebatas pada rumah. “Orangtua saya menegaskan tidak akan membantu secara keuangan. Ini agar kami bisa mandiri,” terangnya.

Hidup mandiri kemudian dijalankan pasangan ini. Ternyata hal tersebut cukup berat, sebab Madi memang kurang ahli dalam mencari uang lebih. “Beberapa tahun terakhir, Mas Madi fokus jadi nelayan. Dia pergi ke laut beberapa hari, meninggalkan saya dan anak di rumah. Ketika pulang, baru bawa uang,” katanya.

Nah, penderitaan Debi terjadi setiap kali Madi pergi berlayar. Sering kali uang yang ditinggalkan untuk Debi terlalu sedikit. Hal ini memaksanya berhutang ke sejumlah tetangga. “Dulu, saya mau apa saja pasti dibelikan ayah. Tapi sekarang mau makan saja susah, saya jadi sedih,” tuturnya.

Empat tahun berlalu, kondisi keuangan mereka tidak pernah berubah. Karenanya Debi memutuskan untuk angkat kaki dan melayangkan gugatan cerai. “Saya tidak bisa hidup melarat, sebab saya bukan dari keluarga melarat. Makanya dengan terpaksa saya menggugat cerai. Mas Madi mengerti akan hal itu. Dia pun sepakat agar kami berpisah,” katanya. (RB/quy/zee)