Dinilai Kurang Layak, Kondisi Jembatan Dikeluhkan Masyarakat

Jembatan Ciujung, Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang, merupakan salah satu jembatan penting di Banten yang menghubungkan antarwilayah. Namun, jembatan ini dikeluhkan warga karena sempit.

SERANG – Banten memiliki puluhan jembatan yang melintasi sungai. Jembatan-jembatan ini sebagai penghubung antarwilayah yang berada di jalur nasional. Kondisi jembatan yang kurang layak dikeluhkan masyarakat karena khawatir ambruk.

Salah satunya jembatan Ciujung di Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang. Jembatan yang menghubungkan Kecamatan Kragilan dan Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang, ini dikeluhkan karena terlalu sempit dan macet. Warga waswas, jembatan ambruk bila tidak mampu menampung bobot berat di atasnya.

Tiap hari jembatan Ciujung ini dilewati kendaraan berat dari berbagai industri di kawasan Kragilan, Kibin, Cikande, dan Jawilan. Kendaraan-kendaraan berat itu bebas melintas di atas jembatan di tengah kerumunan pengendara lain yang menyebabkan kemacetan.

Salah satu warga Kecamatan Kragilan Juhdi mengatakan, Jembatan Ciujung dibangun sudah lama. Ia memperkirakan jembatan dibangun pada 1989 oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui jasa konstruksi PT Sinar Ciomas. “Sudah lama sekali itu, masih zaman Provinsi Jawa Barat,” katanya kepada Radar Banten, Sabtu (21/4).

Juhdi menceritakan, Jembatan Ciujung merupakan jembatan pengganti dari jembatan sebelumnya yang dibangun pada zaman Kolonial Belanda. Jembatan Ciujung sebagai salah satu proyek nasional yang dikerjakan oleh pengusaha asal Banten. Panjang jembatan 120 meter dengan lebar 10 meter. “Cuma muat untuk dua mobil saja,” ujarnya.

Menurut Juhdi, kondisi jembatan sejauh ini masih terlihat baik. Namun, ia menilai jembatan itu perlu dilakukan pelebaran karena saat ini kondisinya sangat sempit. “Kalau mobil lewat kan harus pelan-pelan, sementara ini kan jalan nasional yang juga dijadikan akses industri,” terangnya.

Selain itu, kata Juhdi, kondisi jalan di atas jembatan memprihatinkan. Jalan berlubang lantaran saluran pembuang air tidak lancar. “Airnya mampet, jadi bikin aspal rusak. Tidak pernah ada perbaikan serius, paling cuma ditambal saja, enggak lama lagi rusak lagi,” ucapnya.

Para pengendara dihantui waswas saat terjebak kemacetan di atas jembatan karena khawatir ambruk. Apalagi, beberapa hari lalu, jembatan di Tuban ambruk yang menelan korban jiwa karena tidak kuat menahan bebas di atasnya.

Hal senada disampaikan Kepala Desa Kragilan, Cecep Jumroni. Menurutnya, kemacetan selalu terjadi di waktu pagi dan sore hari. “Saat berangkat dan pulang kerja pasti macet, karena jembatannya sempit,” katanya.

Dikatakan Cecep, kemacetan semakin menjadi-jadi jika sedang ramai-ramainya aktivitas jual beli di Pasar Kragilan. Para pedagang banyak yang berjualan di pinggir jalan sehingga arus lalu lintas semakin macet. “Apalagi kalau ada mobil yang mogok, sudah pasti macet itu,” ucapnya.

Menurut Cecep, pemerintah harus segera melakukan pelebaran di jembatan Ciujung dan perawatan rutin. “Kalau mau awet, harus rajin perawatan, pengecekan. Saya tidak begitu memerhatikan apakah pengecekan dilakukan secara rutin atau tidak,” pungkasnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Seksi Perencanaan Teknis Jalan dan Jembatan pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Serang Yadi Priyadi mengatakan, sudah mengajukan pelebaran jembatan Ciujung ke pemerintah pusat. “Sudah pernah diajukan, dari Ibu Bupati (Bupati Ratu Tatu Chasanah-red) juga sudah mengajukan,” katanya.

Namun, kata Yadi, pengajuan itu belum ada tanggapan dari Kementerian PUPR. Yadi mengaku mengajukan untuk dibuatkan jembatan lagi di samping jembatan yang sudah ada untuk pembagian jalur. “Tapi, kalau teknisnya terserah pemerintah pusat, yang pasti kita inginkan agar tidak ada lagi kemacetan, nanti kita coba tanyakan lagi bagaimana progres pengajuan kita,” ucapnya.

Dikatakan Yadi, Jembatan Ciujung masih sanggup menampung bobot lebih dari delapan ton. Namun, jika kondisi kemacetan terjadi tepat di atas jembatan menjadi kekhawatiran jembatan tidak sanggup menampung berat berlebih. “Saya juga khawatir jembatan ambruk seperti yang di Tuban itu,” ungkapnya.

Menurut Yadi, jembatan ambruk bukan saja karena kondisi konstruksi jembatan yang sudah tua. Namun, bisa saja karena ada beberapa baut jembatan yang terlepas. “Ini juga perlu pengecekan yang rutin dari pemerintah pusat, apakah bautnya masih kencang atau tidak, khawatir ada yang lepas,” pungkasnya.

Kondisi yang sama seperti terjadi di jembatan Ciracas, Kota Serang. Di jembatan ini, aspalnya juga kerap terkelupas. Selain itu, warga juga waswas karena jembatan bergoyang bila dilalui kendaraan berat. “Kalau ada kendaraan berat lewat, jembatan bergoyang-goyang, ngeri juga sih. Ngeri ambruk,” ujar salah satu warga.

Kata dia, jembatan Ciracas setiap hari dilalui kendaraan umum. Ia juga sering melihat kendaraan dengan tonase besar melintasi jembatan ini. “Mungkin yang harus diperhatikan adalah perawatan, agar tidak terjadi hal-hal buruk,” tegasnya.

Sementara itu, berdasarkan data Satuan Kerja (Satker) Pelaksana Jalan Nasional Banten I ada 52 jembatan yang melintas di jalur nasional di wilayah Banten. Sebanyak 52 jembatan itu terbagi atas PJN 2 sebanyak 20 dan PPN 2 sebanyak 32.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) PPN 1 Banten pada Satker Pelaksana Jalan Nasional (PJN) Banten I Rozatul Farid mengatakan, dari 20 jembatan yang ada tahun ini baru melakukan pemeliharaan rutin di lima jembatan saja. “Jumlah jembatan yang kita tangani di sepanjang jalan Kota Serang, Kragilan, Cikande, dan Rangkasbitung.  Ada 20-an jembatan,” ujarnya kepada Radar Banten, Minggu (22/4).

ia  mengungkapkan, lima jembatan yang saat ini dilakukan pemeliharaan adalah Jembatan Ciujung, Ciawi/Cikambuy, Ciawi II, Citamiyang, dan Greunyang. Pemeliharaan dilakukan seperti pengecatan, ekspassing join, prapet yang sudah rusak, termasuk membersihkan lubang-lubang jembatan yang tertutup sampah. “Kalau anggarannya Rp1,5 miliar itu untuk dua PPK 1 dan 2,” katanya.

Mengenai kondisi jembatan Ciujung yang dikeluhkan warga, Farid menjelaskan, secara keseluruhan semua jembatan yang menjadi kewenangan Satker kondisinya baik. Sedangkan, untuk jembatan Ciujung diusulkan duplikasi karena ada penyempitan. “Tahun depan (APBN 2019) kami usulkan menjadi empat line. Karena terjadi penyempinan di situ. Sering terjadi kemacetan,” katanya.

Staf PPK PPN 2 Banten pada Satker PJN Banten I yang menangani jalan Kota Serang-Pandeglang-Cilegon dan Merak Heri Sutana mengatakan, pemeliharan rutin dilakukan sepanjang tahun. Ada 32 jembatan yang dilakukan pemeliharaan. “Untuk awal tahun ini kita lakukan pemeliharaan di jembatan Lebak Gede 1 dan 2, Karundang dan Cilokan,” katanya.

Untuk jembatan Ciracas, Kota Serang, kata dia, terus melakukan perawatan. Termasuk membersihkan tumpukan sampah yang berada di sekitar jembatan bersama dengan pemerintah setempat. (Rozak-Fauzan D/RBG)