Dinkes Banten Bagikan Vitamin Nyaris Kedaluwarsa

Pegawai SMAN 2 Kota Serang menunjukkan vitamin penambah darah bantuan Dinkes Banten melalui puskemas, Kamis (12/9).

SERANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten membagikan vitamin berbentuk tablet penambah darah yang nyaris kedaluwarsa kepada 60 SMA SMK di Kabupaten Lebak, Senin (9/9). Pembagian vitamin itu merupakan program Kementerian Kesehatan pusat untuk penambah darah bagi remaja putri satu butir seminggu.

Dari temuan Radar Banten di SMAN 2 Malingping, masa kedaluwarsa vitamin berakhir pada September 2019, tetapi tidak mencantumkan tanggal. “Kalau kedaluwarsa atau tidak, kami kurang tahu, tapi dalam kemasannya disebutkan expired-nya tercantum bulan September 2019,” kata Wakil Kepala SMAN 2 Malingping Bidang Humas Aep kepada Radar Banten, Kamis (12/9).

Lantaran tidak tercantum tanggal kedaluwarsa, pihak sekolah berkoordinasi dengan sekolah lain dan puskesmas. “Penjelasan dari puskesmas, obat itu masih bisa digunakan. Tapi, kami menunggu arahan pemerintah dulu. Jadi, belum dibagikan ke siswa,” tutur Aep.

Dihubungi terpisah, Plt Kepala Dinkes Banten M Yusuf menyatakan, vitamin yang dibagikan merupakan droping dari pusat dan hanya untuk persediaan selama dua minggu. “Sebelum dibagikan, orang farmasinya bilang tidak masalah (mendekati kedaluwarsa-red). Makanya, harus dihabiskan dalam dua minggu,” ujarnya saat dikonfirmasi, kemarin.

Kata dia, pemberian vitamin itu untuk menekan anemia pada anak remaja dan ibu hamil yang cenderung meningkat. “Untuk itu, pemerintah mempunyai program dan diteruskan ke kami, yakni pemberian tablet tambah darah,” ujarnya. Untuk ibu hamil, tambah Yusuf, tablet penambah darah itu diminum satu butir per hari. Program itu juga sudah lama berjalan.

Saat ini, dengan banyak usia kehamilan di bawah 20 tahun, yakni 15 sampai 19 tahun, maka pihaknya memberikan tablet ke remaja putri sebagai calon ibu. Kasus anemia di tingkat remaja meningkat karena pola makan anak kurang baik, maka diberikan program pemberian tablet penambah darah.

Ia mengatakan, Dinkes hanya meneruskan program nasional, yakni pemberian tablet penambah darah untuk remaja putri satu butir seminggu sekali. “Itu juga sudah berjalan dan sudah tercapai target,” terangnya.

Kata dia, Pemprov mempunyai kewajiban melakukan pembinaan ke tingkat SMA SMK. Pada 2017, pihaknya mengundang guru-guru UKS untuk program peningkatan kesehatan. Salah satu hal yang disampaikan mengenai pentingnya tablet penambah darah. “Di Lebak kami kumpulkan, sambil sosialisasi sekaligus membawa Fe (tablet penambah darah-red),” ungkapnya.

Ia membantah tablet itu kedaluwarsa lantaran informasi yang ia terima dari BPOM RI bahwa batas waktu maksimal obat yang dapat dikonsumsi sesuai dengan kedaluwarsa yang tercantum dalam kemasan. Apabila pada kemasan tercantum ED Agustus 2019, maka obat masih boleh dikonsumsi pada 31 Agustus 2019. “Saat sosialisasi kami juga sampaikan, harus dihabiskan paling lambat minggu ketiga bulan ini,” terang Yusuf. 

Kata dia, Dinkes juga sudah mendistribusikan stok tablet baru untuk bulan Oktober ke puskesmas-puskesmas seluruh Banten.

Pada bagian lain, Kepala BPOM Serang Sukriadi Darma menyatakan vitamin yang dibagikan pada 60 SMA SMK di Lebak belum disebut kedaluwarsa. Kepastian itu setelah pihaknya meng-cross check ke lapangan.

Hanya saja, karena batas waktu vitamin berakhir pada akhir September 2019, harus diperhatikan unsur kehati-hatian. “Batas maksimal (kedaluwarsa-red) 30 September untuk dikonsumsi, itu pun harus disimpan di suhu dan tempat yang benar dan menjamin mutu tidak berkurang,” katanya.

Ia meminta vitamin yang belum dibagikan kepada siswa untuk distop. Sedangkan vitamin yang sudah dibagikan harus dipastikan langsung dikonsumsi atau tidak dibawa pulang. “Kami sudah minta Persatuan Apoteker Cabang Lebak dengan Dinkes di sana untuk menyaksikan langsung vitamin tersebut di tempat,” katanya. (den-nna-ken/air/ira)