Dipandang Rendah Mertua, Suami Angkat Wibawa

Berbagai rintangan dan cobaan dihadapi Encih (45), nama samaran, dalam mengarungi bahtera rumah tangga bersama suami, sebut saja Tole (36). Kualitas cinta Encih terhadap suami dipertaruhkan, yakni tetap bertahan meski badai datang dari usaha suami yang semakin terpuruk hingga didesak orangtua agar menikah lagi dengan lelaki mapan karena dianggap suaminya sudah tidak bisa menafkahi. Yassalam.

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Baros, Encih siang itu sedang sibuk memilih bahan makanan berbuka puasa di Pasar Baros. Sambil menunggu pesanan yang masih dikemas, Encih pun bersedia menceritakan pengalaman rumah tangganya. Encih termasuk sosok perempuan idaman semua pria. Cantik, baik, ramah, solehah, dan terutama kesetiaannya jangan ditanya. Terbukti, Encih sampai saat ini mampu menjaga keutuhan rumah tangga. Begitu sih pengakuan dari Encih, aslinya entah ya!.

Jika sepintas melihat sosok Encih dengan wajahnya yang rupawan, tak sulit bagi Encih mempunyai suami kaya. Namun, kenyataannya lain, suami Encih hanya berprofesi sebagai pedagang sembako di pasar. Dialah Tole, pria yang dianggap beruntung oleh rekan-rekannya di pasar karena mampu meluluhkan hati Encih yang dikenal sebagai primadona desa. “Jangan salah, gini-gini yang naksir dulu ngantri,” candanya. Iya sih percaya Mbak.

Perjumpaannya dengan Tole bermula ketika Encih diajak almarhum kakeknya berkunjung ke rumah teman masa muda. Tole adalah cucu dari teman masa muda si kakek. Encih pun langsung dikenalkan dengan Tole yang perawakannya tinggi, wajahnya lumayan ganteng, penampilannya juga okehlah, serta terlihat dewasa. Di depan kakeknya, Tole tak sungkan mengajak Encih berkenalan. Dari pertemuan itu, tak butuh lama bagi keduanya untuk jatuh cinta pada pandang pertama. Tole juga bagaimana tidak tertarik kepada Encih, selain cantik, penampilan Encih juga sopan tapi modis. Sejak itu, keduanya semakin intens ketemu hingga akhirnya menjalin hubungan. Seminggu kemudian, giliran Tole bersama kakeknya berkunjung ke rumah Encih untuk melakukan pendekatan sebelum menuju pelaminan. “Tapi waktu itu ayah yang belum merestui hubungan saya dengan Mas Tole,” akunya. Nanti juga restu, sabar aja.

Ayah Encih dikenal sosok orangtua yang tegas. Berbeda dengan kakeknya yang cenderung memberikan kebebasan terhadap cucunya. Namun, situasi itu tak menciutkan hati Tole untuk melamar Encih, meski jarang bertemu ayahnya setiap datang untuk apel ke rumah. Setahun berpacaran, Tole dengan modal pas-pasan dari hasil usaha berdagang nekat melamar Encih. Awalnya terjadi penolakan dari pihak keluarga Encih. Beruntung ada kakek Encih yang mendukung penuh hubungan mereka hingga akhirnya mereka menikah dan resmi menjadi sepasang suami istri, meski ayah Encih memberi restu setengah hati. Kendati demikian, pernikahan mereka berjalan lancar. Tole menjadi sosok suami yang perhatian dan memperlakukan Encih penuh kelembutan. “Apalagi pas malam pertama, wah indah rasanya,” kenang Encih. Dih puas kayaknya.

Mengawali rumah tangga Tole diajak tinggal di rumah keluarga Encih. Namun, selama berumah tangga, Tole tak banyak berinteraksi dengan keluarga Encih karena sibuk berjualan di pasar dari pagi hingga sore hari. Malamnya, waktu dihabiskan untuk mengajar mengaji anak-anak tetangga. Maklum, Tole jebolan pesantren. Setahun kemudian Encih dianugerahi anak pertama. Sejak itu, usaha Tole maju pesat sampai akhirnya mereka mampu membangun rumah sederhana. Meskipun sudah membahagiakan Encih dengan memiliki rumah, sikap mertua tak berubah. Tiga tahun kemudian, mulai bermunculan waralaba atau pasar modern. Kondisi itu membuat pelanggan Tole pada kabur dan menurunkan usahanya.

“Usaha suami bangkrut sampai menjual rukonya. Sejak itu, Mas Tole nganggur dan banyak menghabiskan waktu di rumah. Bukan berarti enggak ada kegiatan, ia tetap sibuk menggarap kebun milik keluarga dan mengajar mengaji,” ungkapnya. Dijalani aja.

Ternyata situasi itu menurunkan wibawa Tole di hadapan mertua. Encih bahkan didesak agar menikah lagi dengan lelaki kaya, anak rekan ayahnya karena dianggap Tole sudah tidak mampu menafkahi anaknya. Tentu saja Encih kaget dan langsung menepis kemauan ayahnya karena sudah terlalu sayang terhadap Tole. “Ya saya enggak mau. Orang suami enggak salah apa-apa, masa mau ditinggalin,” belanya. Subhanallah.

Kini Tole merintis usaha kembali dengan berjualan bahan makanan di Pasar Baros. Rumah tangga mereka pun berjalan harmonis. Perlahan keluarga Encih membuka diri dan mulai menerima Tole apa adanya. “Alhamdulillah, orangtua saya sekarang baik kepada suami,” ucapnya. Semoga langgeng ya Mbak. Amin. (mg06/zai/ags)