Diperbaiki Warga, Pemilik Rumah Malah Ngamuk

0
56
Sejumlah warga bergotong royong membongkar rumah tidak layak huni yang nyaris roboh milik warga untuk diperbaiki di Kampung Cijeruk, Desa Sindangsari, Kecamatan Petir, Senin (11/12). FOTO: JUMRI

PETIR – Tak terima rumahnya diperbaiki warga, pemilik rumah tidak layak huni (RTLH) di Kampung Cijeruk, Desa Sindangsari, Kecamatan Petir, bernama Rohim mengamuk. Pria paruh baya itu pun langsung diamankan pihak kepolisian.

Pantauan Radar Banten, Senin (11/12), puluhan warga bergotong royong memperbaiki RTLH milik Rohim yang tinggal bersama istri dan enam anaknya itu, nyaris roboh. Rumah Rohim berbentuk semipermanen berukuran sekira 4×6 meter. Proses perbaikan memasuki pembangunan fondasi. Selama proses perbaikan, warga dikabarkan dihantui kekhawatiran akan amukan Rohim yang tidak terima rumahnya diperbaiki. Soalnya, acap kali Rohim membawa senjata tajam setiap rumahnya hendak diperbaiki warga. Sebelum akhirnya, Rohim berhasil diamankan pihak kepolisian setempat.

Ujum, Ketua RT di Kampung Jeruk menjelaskan, upaya perbaikan rumah milik Rohim merupakan inisiatif warga sebagai bentuk kepedulian. Soalnya, kata Ujum, rumah yang dihuni Rohim dan keluarganya nyaris roboh sehingga dikhawatirkan terjadi hal yang tidak diinginkan. Perbaikan rumah, kata Ujum, dibantu aparat kepolisian, koramil setempat. “Ya, pemilik rumah bernama Rohim sempat ngamuk-ngamuk bawa senjata tajam neror warga karena enggak mau rumahnya diperbaiki. Rohim memang mengalami sedikit gangguan mental,” terangnya.

Lantaran itu, pihaknya meminta aparat kepolisian dan koramil setempat untuk mendampingi selama renovasi rumah. Gotong royong perbaikan rumah, kata Ujum, sebagai bentuk kepedulian sesama warga karena melihat kondisi perekonomian keluarga Rohim yang kurang mampu. “Rohim sebelum gangguan mental tidak mempunyai pekerjaan tetap. Sementara istrinya hanya petani, itu pun kalau ada yang memintanya bekerja,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Bendahara Desa Sindangsari Ega membenarkan, kondisi kejiwaan Rohim yang sedikit terganggu. Pada 2015 juga, kata Ega, Rohim pernah mendapatkan bantuan RTLH tetapi ditolaknya dengan dalih bukan kalangan tidak mampu. “Jadi, kita swadaya masyarakat berinisiatif membantu mereka karena khawatir rumahnya keburu roboh. Setiap dibantu, Rohim selalu marah dan mengancam warga dengan golok. Makanya warga ketakutan merehab rumahnya. Mediasi juga gagal. Padahal, kondisi rumahnya 99 persen rusak parah” pungkasnya. (Jumri/RBG)