Dirut Bank Banten: Merger Tidak Tiba-tiba

Kepanikan para nasabah Bank Banten yang beramai-ramai ingin menarik uang di ATM.

SERANG = Keputusan untuk melakukan merger antara Bank Banten dan Bank bjb oleh Pemprov Banten, dianggap bukan merupakan langkah tiba-tiba. Menurut Direktur Utama Bank Banten, Fahmi Bagus Mahesa, merger sudah dikomunikasikan dengan kedua belah pihak sejak lama. “Skema kerja sama ini sudah dibicarakan sehingga tidak ujug-ujug,” kata Fahmi Bagus Mahesa dalam Press Conference Online via aplikasi Zoom pada Kamis (30/4).

Ia menyakini, Gubernur Banten memiliki komitmen untuk melakukan penambahan modal pada Bank Banten. Namun, dalam perkembangannya, keputusan merger dipilih berkaitan dengan langkah penambahan modal tersebut. Kebijakan merger dengan Bank bjb merupakan inisiatif pemegang saham.

“Dengan merger, kepercayaan masyarakat akan tumbuh kembali,” katanya.

Bank Banten menegaskan, merger ini ini tidak berkaitan dengan Perppu Nomor 1 Tahun 2020 yang mengatur tentang kebijakan keuangan negara dan stabilitas keuangan untuk penanganan pandemi Covid-19 atau dalam rangka menghadapi ancaman yang membahayakan perekonomian nasional atau stabilitas sistem keuangan. Dalam perppu tersebut mengatur kebijakan merger yang dilakukan pada bank bermasalah.

Ia menambahkan, terkait pemindahan rekening umum kas daerah (RKUD) yang dilakukan oleh Pemprov Banten merupakan keputusan dari Gubernur Banten. Bank Banten mengaku tidak mengetahui komunikasi yang terjadi antara Gubernur Banten dengan Bank bjb terkait pemindahan RKUD tersebut. “Kami kan manajemen hanya sebagai pengurus,” katanya.

Ia tidak menampik, kondisi likuiditas Bank Banten semakin tertekan di tengah pandemi virus Corona yang mengakibatkan penerimaan pajak daerah terganggu, seperti pengurusan Samsat. Hal ini berdampak terhadap likuiditas Bank Banten yang menampung arus kas keuangan daerah.

“Likuditas tertekan saat pandemi bukan hanya dirasakan Bank Banten, tetapi juga perbankan nasional lainnya,” katanya.

Di tengah kondisi pandemi dan keterbatasan modal, pada kuartal I- 2020, Bank Banten berhasil menekan kerugian hingga 42,9 persen dibandingkan periode sama tahun lalu menjadi Rp31,866 miliar.

“Kami bisa melakukan efisiensi di berbagai bidang operasional maupun non-operasional. Kami bisa tekan kerugian di tiga bulan pertama cukup baik di tengah kondisi ini,” katanya.

Ia optimistis setelah pandemi Covid-19 berakhir, Bank Banten akan bisa mencetak laba. Namun, Bank Banten harus melakukan penambahan permodalan terlebih dahulu pada semester I-2020.

“Bank Banten bisa hasilkan laba, kami menilai awal tahun 2020, dengan catatan kinerja keuangan yang jauh membaik,” katanya.

Adapun, pada kuartal I- 2020, Bank Banten membukukan kerugian senilai Rp31,86 miliar atau turun Rp23,929 miliar dibandingkan dengan posisi periode sama tahun lalu yang senilai Rp55,79 miliar.

Ia memaparkan, kerugian Bank Banten pada posisi akhir 2016 tercatat senilai Rp414,940 miliar. Kemudian jumlah kerugian bisa ditekan menjadi Rp76,22 miliar pada akhir 2017. Namun, pada akhir 2018, jumlah kerugian kembali meningkat menjadi Rp94,960 miliar. Pada posisi akhir 2019, nilai kerugian Bank Banten adalah Rp143,865 miliar.

Ia menuturkan, secara garis besar kondisi keuangan perusahaan mulai membaik. Bahkan, aset tercatat bertumbuh dari senilai Rp5,251 triliun pada 2016 menjadi Rp8,097 triliun pada akhir 2019. Sementara aset Bank Banten pada kuartal I-2020 adalah senilai Rp8,1 triliun atau tumbuh 0,1 persen dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu. Secara tahunan, aset tercatat turun 3,1 persen (yoy).

Sedangkan, dana pihak ketiga tercatat turun hingga 15,4 persen yoy menjadi Rp5,431 triliun. Penurunan terjadi semua jenis simpanan kecuali tabungan yang tetap naik 15,1 persen. Penyaluran kredit tercatat tumbuh tipis pada kuartal I- 2020 sebesar 1,5 persen yoy.

Penyumbang pertumbuhan kredit dari kredit konsumer dan UMKM yang masing-masing tumbuh 12,5 persen dan 29,2 persen (yoy).

Sementara kredit komersial dan ex. Bank Pundi dan Bank Eksekutif masing-masing turun 15,2 persen yoy dan 9,3 persen yoy.

Bank Banten mencatat penurunan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) pada kuartal I-2020 menjadi 5,04 persen (gross) dan 4,15 persen (net).

Salah satu skenario yang disiapkan Bank Banten adalah mengurangi biaya operasional rata-rata menjadi 10,6 persen pada 2021 dari posisi akhir 2019 yang sebesar 14,79 persen. Skenario tersebut akan tercapai dengan melakukan ekspansi kredit hingga Rp2,028 triliun sebagai break even point perusahaan.

“Ekspansi tersebut dapat dicapai apabila Bank Banten mendapatkan permodalan senilai Rp500 miliar,” katanya.

Direktur Operasional dan Kepatuhan Bank Banten Kemal Idris mengungkapkan, kebijakan merger merupakan itikad baik dari perusahaan. Bahkan, perseroan telah melakukan presentasi ke OJK dan Bank bjb. Kebijakan merger merupakan strategi investor dan itikad baik ini disampaikan ke OJK. “Baru gubernur mendatangani letter of intent,” ungkapnya.

Komisaris Independen Bank Banten Titi Khoiriah mengatakan, terkait merger, perseroan tetap melakukan operasional secara normal selama proses merger. Keputusan melakukan merger dengan Bank bjb tentu akan memberikan sisi positif berupa nilai tambah bagi keduanya.

Ini akan memperkuat bisnis yang ada, dan juga memperkuat perbankan secara nasional. “Sampai saat ini, Bank Banten tetap berjalan normal sampai tahapan merger dilakukan,” katanya. (skn/air)