Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, senang-senang kemudian, mungkin begitulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan perasaan Bakri (37) nama samaran. Ditinggal pergi sang istri, sebut saja Wiwi (35), ayah satu anak itu mendapat wanita pengganti yang lebih cantik dan seksi. Wih… ini sih namanya rezeki suami soleh. Hehe.

    “Ya alhamdulillah, Kang. Ternyata masih ada yang mau sama saya, hehe,” kata Bakri. Memang rahasianya apa sih, Kang?

    “Enggak ada rahasia-rahasia sih, semua berjalan begitu saja. Soalnya begini, Kang, yang namanya lelaki mah asal punya kerjaan dan bisa sedikit tebar pesona, pasti langsung dapat wanita,” kata Bakri bangga.

    Meski ia berbicara seperti itu, tapi kalau melihat langsung orangnya, Bakri tampak seperti lelaki baik-baik. Tak ada kesan playboy atau kejelekan lainnya. Senyum ramah serta sikap hambel, membuat pria bertubuh ideal itu asyik saat diwawancara. Bahkan, seolah ingin menunjukkan keakraban, ia memesan kopi dan makanan ringan. Nuhun ya, Kang.  

Sebelum jauh membahas rumah tangga, Bakri bercerita tentang dirinya. Dahulu, meski hidup dengan penuh tekanan, ia tidak pernah menyerah untuk memperjuangkan pendidikan. Hingga akhirnya berhasil lulus SMA, ia pun sempat bekerja sebagai karyawan di perusahaan ternama di Cilegon. Namun, tidak lama kemudian, sekira setahun bekerja, Bakri sudah kena PHK. Duh, apesnya.

Setelah itu Bakri mencoba berbagai pekerjaan mulai dari menjadi pelayan di sebuah rumah makan sampai usaha berjualan gorengan. Namun, ia tidak menemukan kecocokan. Di kondisinya yang menganggur, jodoh justru datang tak terduga. Ia bertemu dengan Wiwi yang saat itu memang sudah ngebet ingin segera menikah. Jadilah keduanya berkenalan dan saling membicarakan pernikahan.

    Berdasarkan pengakuan Bakri, Wiwi memang termasuk wanita impian sewaktu muda. Meski tidak terlalu cantik, cara berpakaian dan pengetahuan agamanya yang baik membuat Bakri tak berkutik dibuatnya. Dengan segenap kemampuan yang dimiliki, ia menyatakan cinta kepada Wiwi.

“Dia waktu itu memang curhat ingin nikah. Biasalah, cewek kalau banyak teman-temannya sudah nikah, pasti ingin juga cepat-cepat, ya saya sih ayo saja!” ungkap Bakri.

Tak menunggu waktu lama, setelah kurang lebih lima bulan menjalani proses pendekatan, mereka memutuskan untuk menuju pelaminan. Dengan jujur dan apa adanya, Bakri mengaku tidak punya banyak uang untuk modal nikah, akhirnya keluarga Wiwi-lah yang banyak mengeluarkan dana untuk biaya pernikahan. Wih, beruntung banget ya Kang Bakri.

Di awal pernikahan, mereka menjalani hari-hari penuh keindahan. Biasalah pengantin baru. Saling menjaga perasaan satu sama lain, menjadi kekuatan cinta Bakri dan Wiwi. Hingga setahun kemudian lahirlah anak pertama membuat hubungan mereka semakin mesra. Karena masih tinggal bersama keluarga, kehadiran anak pertama mereka menjadi penambah kehangatan di keluarga besar sang istri. Pokoknya, rumah tangga mereka serasa diselimuti kebahagiaan.

    Semula hubungan mereka berjalan tak ada hambatan, baik suami maupun istri menjalani perannya dengan sempurna. Namun, apa mau dikata, seiring berjalannya waktu status sosial kedua keluarga memberi pengaruh luar biasa bagi keberlangsungan hubungan keduanya. Maksudnya bagaimana, Kang?

    “Ya begitulah, dia mulai ungkit-ungkit keluarga dia yang kasih modal lebih banyak buat nikahan dulu, terus masalah tempat tinggal, pokoknya banyaklah,” kata Bakri kepada Radar Banten.

    Sejak saat itu Bakri mulai merasa tak nyaman hidup di tengah keluarga sang istri. Anehnya, di depan sang ibu dan saudara Wiwi selalu menunjukkan kebaikan, tapi di hadapan suaminya sendiri, Wiwi justru memberi sikap berbeda. Ia bertingkah semau hatinya. Weleh-weleh, ini kok malah jadi kebalik ya.

Bakri pun menyadari suatu hal, apa yang terlihat indah tidak selamanya baik. Bagai sungai mengalir yang tampak tenang, tetapi menghanyutkan, Wiwi yang ia kira wanita sempurna dengan sikap bersahaja, ternyata tidak seperti apa yang diduga. Dengan penampilan bak wanita solehah, Wiwi menutupi keburukannya. Ah masa sih, Kang?

“Ya, ini sih pengalaman saya saja, penampilannya sih solehah, aslinya mah enggak!” ungkap Bakri.

Dengan sikap Wiwi yang tak pernah mau mematuhi kemauan suami membuat suasana rumah menjadi tak harmonis lagi. Meski Bakri sempat menahan emosi dan mencoba memahami sifat sang istri, seperti yang kita ketahui tingkat kesabaran manusia ada batasnya. Entah karena sudah tidak cinta atau memang ingin mengakhiri, Wiwi seolah bersikap mati segan hidup tak mau. Ia jadi malas melayani Bakri dan tidak menuruti lagi apa yang memang seharusnya ia kerjakan sebagai istri.

Saat malam datang, selepas melaksanakan salat Isa, sang istri pergi keluar rumah. Padahal, Bakri sedang asyik menonton televisi, tetapi seolah tak menghargai suami, Wiwi keluar tanpa permisi. Ditariknya napas panjang, sambil menyeruput kopi yang dibuat sendiri, Bakri beberapa kali mengelus dada, meredam amarah yang sebenarnya sudah membara.

Sepuluh menit kemudian sang istri datang sambil menenteng bungkus makanan. Parahnya, Wiwi tak sedikit pun berbasa-basi menawarkan pada suami. Bagai hidup seorang diri, ia menghabiskan makanannya sendiri. Weleh-weleh, ini kok Teh Wiwi diam-diam begini, belum ngopi kali itu, Kang?

“Jujur waktu itu saya kesal. Dia enggak ngehargain saya banget, makan sendirian enggak ngajak-ngajak suami,” tukas Bakri. Astaga, parah amat nih Teh Wiwi.

Keributan pun tak dapat dihindari. Parahnya, berdasarkan pengakuan Bakri, Wiwi bahkan dengan berani menantang suami tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Wuih, memang Teh Wiwi ngomong apa, Kang?

    “Dia ngomong, kita lihat saja nanti siapa yang bakal hidup bahagia dan siapa yang bakal menderita!” kata Bakri meniru ucapan Wiwi. Wuih, sombong amat ya Teh Wiwi.   

Tak kuat akan semua keributan yang terjadi, mereka pun resmi bercerai, Wiwi pulang ke rumah orangtua, sedangkan Bakri terus berjuang mengurus dua anaknya. Dua tahun setelah perceraian, Bakri mendapat pengganti wanita yang bersedia menjadi ibu dari anaknya. Sementara, Wiwi masih menikmati kesendiriannya.

Katanya sih, wanita yang baru ini lebih cantik dan seksi. Wih… hebat juga nih Kang Bakri. Ya sudah, selamat ya, Kang. Semoga sama yang ini bisa langgeng sampai mati. Amin. (daru-zetizen/zee/dwi/RBG)