Diusir Mertua Malah Dapat Berkah

Rumah tangga Nano (38) dan Nani (36), keduanya nama samaran, sebenarnya harmonis. Namun, sikap mertua yang selalu menuntut Nano agar memberikan kesejahteraan bagi anaknya, membuat Nano tertekan hingga mencari pelarian dengan mabuk-mabukan. Beruntung, rumah tangga keduanya tetap bertahan.

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Bojonegara, siang itu Nano sedang menjaga usaha miliknya, yakni warung mi ayam yang terletak di pinggir jalan. Sambil melayani pesanan, Nano bercerita panjang lebar mengenai suka dukanya berumah tangga.

Nano mengaku, sangat mencintai Nani yang dikenalnya pada acara pernikahan teman dulu. Bagimana tidak, wajah istrinya sangat cantik, begitu pengakuan Nano. Belum lagi ditopang lesung pipit di pipi yang merah merona, membuat Nano semakin tidak tahan dibuatnya.

Meski postur tubuh Nani mini, tetapi terbilang sosok perempuan yang aktif dan energik. Lain dengan Nano yang memiliki tubuh jangkung dan doyannya tidur. Bahkan, kalau sudah matanya merem, durasinya lama. Kebiasaannya tidur lama sudah menjadi bawaan sejak masih mengenyam pendidikan di pesantren. Nano bisa menghabiskan waktu seharian hanya untuk menikmati tidur.

“Kalau dulu suka tidur karena malamnya bergadang terus, mengaji,” akunya. Sekarang? “Sekarang pelor alias nempel molor,” guyonnya.

Nano mengaku, sempat langsung bekerja sebagai penjaga minimarket milik ustaznya di yayasan. Merasa sudah mempunyai penghasilan, Nano begitu percaya diri untuk menyatakan keseriusannya kepada Nani. “Saya ke Nani itu enggak ngajak pacaran, langsung ngajak serius,” ucapnya.

Tak disangka, Nani menerima ajakan Nano untuk menjalani hubungan ke arah lebih serius. Keduanya sempat melakukan prosesi taaruf, saling dipertemukan dengan kedua orangtua masing-masing. Enam bulan kemudian, Nano yang sudah tidak tahan, mengajak Nani untuk segera duduk di pelaminan meski dengan modal seadanya. “Waktu itu punya modal cuma lima juta rupiah,” akunya. Cukuplah buat dokumentasi.

Beruntung bagi Nano karena mahar yang dimiliki Nano tidak dipermasalahkan oleh keluarga mempelai wanita. Nano pun diterima apa adanya dan disayang mertua. Singkat cerita, mereka menikah, Mengawali rumah tangga, keduanya tinggal sementara di rumah orangtua Nani. Meski masih numpang, tak mengurangi sensasi malam pertama mereka. Bagaimana tuh? “Soal ranjang jangan diceritainlah, takut yang baca terangsang,” guyon Nano. Hmm Yummi.

Mengawali hari-hari sebagai sosok suami, Nano setiap pagi bekerja menjaga minimarket, sementara Nani mengurus rumah dan memasak untuk suami dan orangtuanya. Setahun menjalani rumah tangga, kemesraan keduanya tetap terjaga.

“Nikmatnya tuh kalau pulang kerja, istri selalu nyambut dan nyiapin makan,” kenangnya. Hmm, so sweet.

Dua tahun berlalu, akhirnya Nano dikaruniai anak. Di tengah kebahagiaan menikmati rumah tangga, semakin bertambah pula kebutuhan mereka. Kondisi Nano semakin terpuruk ketika minimarket tempatnya bekerja dibongkar dan dijadikan ruang kelas di pesantren. “Saya sempat ngajar, tapi enggak lama, akhirnya menganggur,” keluhnya. Sabar, Kang.

Selama menjalani masa sebagai seorang pengangguran, rumah tangga mereka mulai kekurangan. Untungnya, Nani tidak begitu mempermasalahkan karena pendapatan yang ada dirasa masih cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari, belum lagi dibantu keluarga. Sayangnya, kesabaran Nani tidak diikuti ibu mertua. “Awalnya ngomong baik-baik, ujungnya mertua nyuruh saya cari kerja lagi,” kesalnya. Ya bagus dong.

Namun begitu, Nano tahu diri dan berusaha mencari pekerjaan baru. Tetapi, usaha Nano sia-sia, ia tak kunjung dapat kerja. Sampai akhirnya, ia menyerah.

Merasa kebingungan karena tidak punya pekerjaan, Nano mulai sering nongkrong kumpul bareng teman-temannya, bahkan hingga larut malam. Sementara pagi sampai siang, ia tertidur lelap. Situasi itu membuat ibu mertuanya murka. “Saya sampai disiram pakai air seember,” keluhnya. Masih mending seember, coba kalau ditumpahin sama sumurnya.

Meski sikap mertua tidak sampai mencaci maki ke mana-mana, tetapi Nano merasa tertekan dan mulai curhat dengan teman nongkrongnya setiap malam. Nano yang mengaku saat itu masih polos, ditawari minuman keras yang dikemas dalam bungkus plastik hitam yang diberikan sedotan. “Mereka bilang, daripada pusing, mending minum dulu biar tenang,” katanya. Terus-terus?

“Ya mabok deh. enggak tahu kalau itu miras,” kelitnya. Sudah minum baru sadar gitu.

Nano akhirnya meminumnya dan merasakan sensasi yang tidak biasa. Kepala pening, bibir pecah-pecah, ngomong mulai enggak karuan. Merasa setelah minum rasa sakit hatinya terhadap mertua hilang, Nano ketagihan dan terus meminumnya setiap malam. Nani dan orangtuanya yang tahu Nano sering mabuk naik pitam. Nano diusir dari rumah oleh mertua. “Waktu itu saya merasa jadi orang paling berdosa,” sesalnya.

Sampai akhirnya, Nano terpaksa tidur di masjid. Kemudian bertemu dengan seorang ustaz dan menceritakan persoalan yang dihadapinya. Merasa iba, ustaz itu memberikan semangat baru bagi Nano, yakni meminjamkan modal kepada Nano untuk membuka warung mi ayam di depan yayasan. Nano pun kembali ke rumah untuk meminta maaf dan menceritakan kejadian setelah diusir dari rumah.

Kini, Nano mulai menatap masa depan dengan usaha barunya itu. Nano dan Nani pun kembali rujuk dan tinggal bersama di rumah kontrakan. “Alhamdulillah, walaupun penghasilan enggak seberapa, tapi enggak ngerepotin mertua,” ucapnya. Syukur deh, Kang. Semangat ya. (mg06/zai/ira)