Doa Tolak Bala di Tengah Pandemi Covid-19

0
311 views
Ibu-ibu dan anak-anak menyerbu tong berisi air dicampur kembang usai salat Rebo Wekasan. Tradisi ini disebut dudusan di Lingkungan Karundang Tengah, Kelurahan Karundang, Kecamatan Cipocokjaya, Kota Serang, Rabu (14/10). (AAS ARBI FOR RADAR BANTEN)

Merawat Tradisi Rebo Wekasan di Serang

Rebo Wekasan atau salat sunah berjamaah pada Rabu akhir bulan Shafar dilakukan warga Banten, Rabu (14/10). Salat tolak bala yang dilaksanakan di waktu fajar (pukul 07.00 WIB) 4 rakaat dengan 2 salam  menjadi ajang silaturahim sekaligus memanjatkan doa dari wabah Covid-19.

Haidar – Serang

Matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya namun, ajakan untuk salat sunah Rebo Wekasan dari toa masjid sudah lantang terdengar. Bapak-bapak dan remaja bergegas melangkah kaki menuju masjid. Sarung dan peci tak lupa mereka kenakan lengkap dengan baju koko.

Setelah salat dilaksanakan, ibu-ibu di rumah sudah menyiapkan makanan berupa ketupat, nasi, ayam, lengkap dengan lauk kulit tangkil dan lainnya untuk dibagikan. Tradisi pembagian makanan secara bersama-sama ini merupakan bentuk sedekah para jamaah.

Ada pula warga yang merayakan dengan bacakan atau makan bersama. Seperti di Kampung Eurih, Desa Kramatlaban dan Kampung Pasirceuri, Desa Kadubeureum, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang. Seusai salat, warga satu kampung itu makan bersama di halaman masjid.

Dengan membawa makanan masing-masing dari rumah, dengan jenis lauk berbeda-beda yang ditebar di atas daun pisang, warga saling duduk bersila, menikmati santapan pagi dengan penuh kenikmatan. “Jadi tradisi ini selalu kita jaga sebagai ajang silaturahim warga,” kata Sekretaris Desa Kadubeureum, Apipudin.

Sementara itu di Lingkungan Karundang Tengah, Kelurahan Karundang, Kecamatan Cipocokjaya, Kota Serang, seusai salat tolak bala dan ngariung (makan bersama) di musala, warga terutama ibu-ibu dan anak-anak menyerbu tong berisi air dicampur kembang.

Mereka membasuh muka dan membasahi kepala serta sekujur tubuhnya sebagai simbol membersihkan diri agar terhindar dari bencana. Hal ini dinamakan warga setempat sebagai tradisi dudusan. “Setiap tahun, pas Rebo Wekasan, kita selalu melakukan hal ini,” kata Ibu Misnah, salah satu warga setempat kepada Radar Banten.

Dihubungi terpisah, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Serang KH Amas Tadjudin mengatakan, berdasarkan isi dari kitab Kanzunnajah, sebagian orang ahli ma’rifat termasuk orang yang ahli mukasyafah menyebutkan, setiap tahun Allah menurunkan bala (bencana) yang berjumlah 320.000. Kesemuanya diturunkan pada hari Rabu yang terakhir di bulan Shafar.

“Maka dianjurkan hari itu salat 4 rakaat agar Allah SWT menjaga kita semua dari bala yang turun pada hari itu,” kata Amas usai salat Rebo Wekasan di Masjid Al-Muhajirin, Lingkungan Kavling Brimob, Kelurahan Lontarbaru, Kota Serang.

Berdasarkan pengalaman spiritual tersebut, para ulama mengimbau warga untuk berdoa dijauhkan dari penyakit dan segala macam kesusahan. Kemudian niat ikhlas untuk sedekah kepada sesama warga dengan berbagai cara, ada yang bacakan atau bertukar makanan. “Hal ini dilakukan sebagai wasilah untuk menjauhkan diri dari bala atau musibah,” tegasnya.

Para ulama di pondok pesantren (ponpes) terutama ponpes salafi di Pulau Jawa termasuk di Provinsi Banten, kata Amas, selalu melaksanakan salat Rebo Wekasan. Di antaranya ponpes Athahiriyah di Kelurahan Lontarbaru, Kota Serang, Ponpes Al Marjan, Kabupaten Pandeglang dan banyak yang lainnya.

Sekretaris Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Banten itu berharap, dengan dipanjatkannya doa-doa tolak bala di hari Rebo Wekasan bisa menyingkirkan segala macam penyakit termasuk Covid-19 yang saat ini sedang mewabah di Indonesia. (*)