Dokter Gigi Teladan Kota Cilegon Ini Rajin Periksa Gigi Siswa SD

Ani Sri Sumarni bersama siswa SD.

Mungkin tidak banyak yang mengetahui apa itu gigi molar atau graham dan apa dampaknya bila kita mengabaikan perawatannya. Ini yang menjadi konsentrasi drg Ani Sri Sumarni (37) di Puskesmas Purwakarta.

Berawal dari keprihatinan minimnya kesadaran warga merawat gigi molar. Ani melakukan pemeriksaan kepada 60 siswa kelas satu SDN Sumampir. Hasilnya, ditemukan banyak kerusakan gigi pada puluhan anak yang ia periksa.

“Gigi molarnya memang masih ada yang bagus, tapi kalau gigi susunya lebih dari 50 persen sudah rusak,” katanya kepada Radar Banten, Jumat (21/4).

Percobaan yang dilakukan di SDN I Sumampir bukanlah sebuah kebetulan. Hal tesebut dilakukan karena sebelumnya ia melakukan pemeriksaan gigi selektif pada siswa kelas V dan VI di SDN Sumampir. “Hasilnya, banyak ditemukan gigi molarnya sudah rusak. Karenanya, kami menjadikan acuan itu dan SD Sumampir bisa dibilang paling tinggi potensi kerusakan giginya,” ungkap wanita yang tinggal di Kramatwatu itu.

Ani mengatakan, banyak orantua siswa yang tidak mengetahui gigi molar merupakan gigi tetap. Kata dia orangtua siswa menganggap gigi molar merupakan gigi susu yang bisa tumbuh kembali kalaupun rusak. “Karenanya, tidak sedikit orangtua yang kurang memperhatikannya,” ujar perempuan yang memiliki satu anak itu.

Dari praktik dokter yang ia lakukan di Puskesmas Purwakarta, Ani banyak menemukan pasien anak usia tujuh hingga delapan tahun yang gigi molar sudah mengalami kerusakan. Padahal, gigi molar sangat berpengaruh pada susunan gigi anak hingga ia tumbuh dewasa kelak. “Kalau gigi molarnya rusak bisa mengakibatkan susunan gigi menjadi tidak bagus, lalu sakit gigi dan berdampak pada anak tidak mau makan sehingga pertumbuhannya bisa saja terganggu,” ungkapnya.

Melakukan percobaan awalnya dengan memeriksa puluhan gigi siswa kelas I, upayanya juga berlanjut pada perawatan gigi yang rusak. Kata dia, gigi siswa yang rusak langsung diperbaiki menggunakan anggaran dari Puskesmas Purwaarta.

“Kami lakukan penambalan pada gigi yang berlubang, dan perawatan gigi lainnya dengan mengoleskan vitamin gigi yang mengandung floor tinggi untuk mencegah kerusakan gigi,” tutur dokter lulusan Tri Sakti pada 2005 itu.
Kata Ani, upaya perawatan gigi tersebut juga berlanjut dengan dukungan orangtua siswa. 60 siswa yang terdiri atas 30 siswa kelas I A dan 30 siswa kelas B hingga kini rutin menyikat gigi disekolah.

“Untuk kelas A dilakukan sebelum jam masuk sekolah, sedangkan untuk kelas B dilakukan saat istirahat. Kami juga memberikan vitamin gigi yang dibeli dari hasil sumbangan orangtua murid,” ungkap dokter yang pernah menjadi juara III dokter gigi berprestasi tingkat Kota Cilegon itu.

Lebih lanjut, upaya tersebut tidak akan berhasil jika tidak mendapat dukungan pihak sekolah dan orangtua murid. Ia berencana untuk mencanangkan satu sekolah percontohan yang melakukan perawatan gigi dengan baik. “Memang dampaknya tidak langsung terasa, Nanti bisa dilihat empat hingga lima tahun ke depan. Kami akan bedakan dengan siswa kelas V dan VI yang telah kami periksa,” pungkasnya.

Sementara itu, salah satu orangtua murid Yeni mengatakan, ia melihat perubahan yang positif pada anaknya. Semenjak percobaan yang dilakukan, anaknya lebih mengurangi makanan-makanan yang merusak gigi. “Dulu saat sikat gigi terkadang dia tidak mau kalau sekarang dia selalu sikat gigi rutin. Gigi-gigi yang rusaknya juga sudah tidak ada,” ujarnya. (Hairul Alwan/Radar Banten)