Dominasi Kasus DBD Bergeser

Nyamuk penyebar demam berdarah

SERANG – Tahun ini wilayah temuan kasus demam berdarah dengue (DBD) terbanyak di Kota Serang bergeser. Kecamatan Cipocokjaya yang biasa mendominasi temuan kasus DBD, kini beralih ke Kecamatan Walantaka.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang M Ikbal mengatakan, tahun ini temuan kasus DBD terbanyak berada di Kecamatan Walantaka. Disusul, Kecamatan Taktakan, dan Kecamatan Serang. Berbeda dari tahun sebelumnya, Kecamatan Cipocokjaya adalah wilayah dengan temuan terbanyak kasus DBD. “Iya sekarang Cipocok tidak termasuk paling banyak lagi, yang ramai itu di tiga kecamatan tadi,” kata Ikbal kepada wartawan, Jumat (10/7).

Berdasarkan data Dinkes Kota Serang pada semester pertama atau periode Januari hingga Juni 2020, terdapat 226 kasus DBD dan tiga kasus di antaranya meninggal dunia. Data tersebut dihimpun Dinkes Kota Serang dari 16 Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM).

“Trennya kemungkinan akan meningkat dibandingkan tahun 2019. Yakni, dalam satu tahun mencapai 249 kasus,” ungkap Ikbal.

Ikbal menyebutkan ada sejumlah faktor penyebab tren peningkatan kasus DBD di Kota Serang. Di antaranya, minimnya kesadaran masyarakat dan bergesernya fokus penanggulangan penyakit ke Covid-19. “Sekarang masyarakat kurang memperhatikan datangnya nyamuk dari mana, yang mereka fokuskan adalah bagaimana agar mereka tidak terkena Covid-19,” jelas Ikbal.

Ikbal mengimbau agar masyarakat berhati-hati dan mengantisipasi munculnya nyamuk Aedes aegypti.

Antisipasi munculnya nyamuk pembawa virus DBD itu dapat dilakukan melalui menguras, menutup, dan mengubur potensi sumber jentik nyamuk atau yang dikenal dengan sebutan 3 M.

“Salah satunya kan adanya genangan air, makanya masyarakat harus paham 3M itu. Saya yakin kalau itu dilakukan pasti tidak akan ada nyamuk,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kota Serang Muhammad Affan mengatakan, tiga kasus kematian akibat DBD itu berada di Banjaragung, Taktakan, dan Banten Girang. “Kalau sebaran (kasus terbesar-red) kecamatan ada di Kecamatan Walantaka,” katanya.

Namun, kata Affan, pihaknya telah melaksanakan program untuk mencegah berkembangnya kasus DBD tersebut.

“Kami sudah sosialisasikan pencegahan DBD di enam kecamatan, kami membentuk 1 rumah satu jumantik (juru pemantau jentik-red) di tingkat RW di 16 Puskesmas, lalu meminotoring dan evaluasi,” ungkapnya. (fdr/nda)