Dover Terancam Dipidana

0
1.580 views
Pegawai Disnakertrans Provinsi Banten memeriksa pegawai PT Dover Chemical (kiri) terkait dengan ledakan yang terjadi pada 22 Desember 2020. Pemeriksaan berlangsung di kantor Disnakertrans Banten, Selasa (12/1). Dugaan sementara ada pelanggaran yang dilakukan oleh manajemen perusahaan.

CILEGON – Ledakan yang terjadi di salah satu bagian pabrik pada 22 Desember 2020 lalu membuat PT Dover Chemical terancam kena sanksi pidana.

Hal itu seiring dengan ditemukan indikasi pelanggaran setelah Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Banten melakukan serangkaian pemeriksaan untuk menyelidiki dugaan penyebab ledakan.

Penyidik Tenaga Kerja pada Disnakertrans Banten Rachmatullah menjelaskan, pemerintah telah memanggil empat pegawai PT Dover Chemical untuk diminta keterangan seputar peristiwa yang sempat membuat geger masyarakat.

Dari serangkaian pemeriksaan itu didapati indikasi pelanggaran aturan Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) Nomor 37 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bejana Tekanan dan Tangki Timbun.

“Ada prasyarat yang diwajibkan perundang-undangan yang dilanggar. Yaitu manajemen atau pengurus telah melakukan pelanggaran dengan mengoperasikan peralatan pada resin dan emulsion plants serta memperkerjakan pekerja pada tempat berbahaya dengan mengabaikan syarat-syarat keselamatan kerja,” ujar Rachmatullah kepada wartawan, Selasa (12/1).

Namun, lanjut Rachmatullah, pihaknya masih perlu menggali keterangan dari sejumlah pihak. Untuk itu rencananya Rabu (13/1) Disnakertrans akan kembali memeriksa dua pegawai PT Dover Chemical.

Disnakertrans Provinsi Banten memastikan penyelidikan serta pemeriksaan ikhwal ledakan akan dilakukan hingga tuntas.

“Bukti serius Disnakertrans untuk membawa persoalan itu ke ranah hukum,” ujarnya.

Sementara itu, dikonfirmasi terpisah, General Manager PT Dover Chemical Dade Suparna enggan mengomentari ancaman pidana. Ia mengaku menunggu hasil periksaan yang dilakukan oleh Disnakertrans Provinsi Banten dan kepolisian sambil melakukan penyelidikan oleh tim dari internal perusahaan.

“Nanti hasilnya (pemeriksaan) kita combine,” ujarnya.

Dade mengaku tidak ingin berandai-andai, untuk itu pihak manajemen lebih memilih untuk menunggu hasil pemeriksaan. “Gimana nanti aja,” ujarnya.

Sebelumnya, Dade menduga penyebab ledakan akibat kelalaian pegawai atau human error. Menurutnya, perlu investigasi untuk mengetahui penyebab peristiwa tersebut.

“Harus dicek satu persatu, (human error) itu baru dugaan. Tapi gak tau sebenarnya apa, perlu pendalaman dulu,” ujar Dade.

Menurut Dade kelalaian yang dimaksud yaitu tahapan kontrol yang terlewat sehingga mesin alami overheating. “Tapi itu baru dugaan,” ujar Dade kembali menegaskan.  (bam/alt)