Doyan Mabuk, Jono Tega Sakiti Istrinya yang Cantik dan Salehah

Ilustrasi (JPNN).

Hidup kekurangan tak membuat Marni (46)  nama samaran, lupa akan kewajiban mendidik sang anak dengan ilmu agama. Janda yang ditinggal mati suaminya itu merasakan manfaat tak terduga. Sang anak yang masih balita disegani banyak orang lantaran kemampuannya menghafal surat-surat pendek dan doa-doa sehari-hari.

Namun, sayang seribu sayang. Dengan anak yang sudah membanggakan itu, Marni malah tergoda perjaka yang hidupnya banyak masalah, sebut saja Jono (27). Mengaku cinta dan ingin membahagiakan, Jono mantap memboyong sang janda beranak satu itu ke pelaminan. Mendapat berondong muda, Marni tentu bahagia. Ya iyalah.

Sebenarnya, selepas kepergian sang suami tercinta, Marni bertekad hidup menjanda selamanya. Namun, apa mau dikata, Jono yang mengaku cinta mati dengan taktik jitu saat mendekati, mampu membuat Marni jatuh hati. Wajarlah ya, meski janda satu anak, Marni pandai merawat penampilan. Tubuh sintalnya begitu memesona dibalut gamis dan kerudung sebahu. Uh, pokoknya bikin jantung dag-dig-dug kalau lagi dekat dengannya.

Marni memang dianugerahi kulit putih merona, membuat lelaki mudah terpana oleh keanggunannya. Meski wajahnya tidak terlalu cantik, tapi dengan tubuh dan penampilan yang aduhai, ia menjadi janda yang diincar banyak pria. Widih, primadona desa juga nih Teh Marni rupanya.

“Ah, enggak juga, Kang. Saya sih merasa biasa saja. Tapim dari dulu memang banyak yang datang bilang ingin jadi bapaknya anak saya. Tapi enggak tahu kenapa, dulu tuh belum ingin gitu, masih belum move on sama yang lama,” curhatnya.

Hingga suatu siang, ketika Marni sedang melayani pembeli di warung gorengan dan jajanan anak-anak depan rumah, seorang lelaki dengan jeans hitam dan kaus oblong datang memesan kopi. Lelaki itu tak lain ialah Jono. Tak lama setelah menyeruput kopi, terdengarlah azan zuhur dari masjid yang tak jauh dari rumah.

“Enggak salat dulu, Kang?” tanya Marni pada Jono.

Bukannya menjawab, Jono malah menundukkan wajah. Seolah ada sesuatu yang menyerang secara tiba-tiba, tatapannya berlinang air mata. Sontak Marni pun merasa bersalah. Didekatinya Jono seraya meminta maaf. Sampai akhirnya ia angkat bicara, terjadilah sesi curahan hati kepada sang janda yang mulai terkena bius air mata buaya. Widih, keren amat sih nih Kang Jono, mau pendekatan saja pakai nangis bombai segala.

“Ya, waktu itu dia curhat, katanya dulu juga dia rajin salat. Setelah bapaknya meninggal dan ibunya sering sakit-sakitan, Kang Jono frustrasi dan sering mabuk-mabukan,” terang Marni.

Berawal dari nasihat-nasihat Marni tentang pentingnya salat lima waktu, semakin hari Jono semakin dekat dengan sang pujaan hati. Seperti diceritakan Marni, saat itu Jono memang kerap menjalani segala hal yang diperintahkannya terkait niat untuk bertobat. Mulai dari salat di masjid sampai memakai pakaian koko, Jono melakukan semuanya setulus hati, membuat Marni berbunga-bunga merasa dihargai.

Seolah targetnya sudah terpenuhi, Jono mulai berani mengungkapkan perasaan, mengaku cinta dan mengajak menikah. Awalnya Marni sempat ragu, ia menimbang-nimbang baik dan buruknya jika pernikahan itu terjadi. Hingga keputusan itu pun bulat di hati. Marni merasa dengan menikah dengan Jono, akan menjadi ladang ibadah baginya karena telah mengajak seorang untuk bertobat. Atas dasar itulah, kemudian mereka pun menikah. Membangun bahtera rumah tangga.

Di awal pernikahan, Jono menjadi suami yang baik dan mengayomi istri setulus hati. Selain rajin beribadah, ia juga mulai belajar mencari nafkah. Meski hanya bekerja sebagai karyawan di warung tetangga, itu sudah membuat Marni bahagia. Mereka saling menjaga perasaan satu sama lain, menjadi orangtua yang baik untuk anaknya. Pokoknya, rumah tangga mereka diselimuti kebahagiaan.

Lantaran kondisi ekonomi yang kian hari kian mencekik, Jono yang awalnya baik dan menyayangi istri, berubah kembali ke dunia masa lalunya. Suka keluar malam dan mabuk-mabukkan. Marni pun kecewa. Rumah tangga mereka hancur berantakan. Lagian Teh Marni kok mau sih sama Kang Jono yang sudah jelas-jelas enggak benar itu?

“Dulu dia bilangnya mau tobat, malah sudah janji bakal mengubah tingkah lakunya jadi orang baik. Ternyata tobatnya enggak serius, awalnya doang baik, lama-kelamaan balik lagi kayak dulu,” keluh Marni.

Hal ini juga sebenarnya sangat disayangkan para tetangga dan orang-orang terdekat Marni, mereka kesal dengan keputusan Marni menikah dengan Jono. Sudah bagus dapat anak yang dibanggakan banyak orang, Marni malah meruntuhkan semua image baik tentang dirinya. Di antara omongan miring dari tetangga, Marni hanya bisa berdoa untuk masa depan rumah tangga.

“Saya juga enggak pernah menyangka semuanya bisa kayak begini. Kang Jono yang saya percaya jadi imam yang baik, ternyata tidak bisa menepati janjinya,” kata Marni.

Hingga dua tahun kemudian, Marni tak dapat menahan amarah kepada Jono lantaran masalah sepele terkait keuangan mereka. Mendengar Marni membentak, Jono naik pitam. Ia tidak terima dengan perlakuan Marni dan merasa tidak dihargai, keributan pun terjadi, membuat rumah tangga mereka berantakan.

Selepas kejadian itu, Jono jadi sering uring-uringan, pulang malam dan semakin terikat dengan kenikmatan minuman haram. Apalagi, setelah ia tidak lagi bekerja lantaran dipecat oleh bosnya, Jono semakin tidak bisa mengendalikan diri. Rumah hanya menjadi tempat untuk melepas lelah. Setelah sadar, ia pergi lagi. Tak ada interaksi. Jika pun ada, itu pasti hanya untuk mengeluarkan emosi.

Atas saran saudara dan keluarga, Marni diminta untuk mengakhiri rumah tangga. Tanpa sadar, sang anak yang dahulu ia banggakan perlahan mengikuti kelakuan Jono. Ia yang dahulu penurut dan rajin mengaji, kini lebih banyak bermain dengan teman-temannya. Parahnya, mungkin karena sering melihat Marni bertengkar dengan Jono, sang anak mulai berani membentak. Seolah tak bisa menampik kenyataan kalau Jono membawa pengaruh buruk pada sang buah hati, Marni berpasrah diri.

Dengan berat hati, ia pun memutuskan perpisahan. Rumah tangga yang awalnya dibangun dengan cinta, kini hanya tinggal kenangan pahit yang tak bermakna. Marni kembali menjalani hidupnya sebagai janda.

Sabar ya Teh Marni, semoga dapat suami yang lebih baik lagi. Amin! (daru/zetizen/zee/dwi/RBG)