Vihara Avalokitesvara di Banten Lama, Kasemen.

SERANG – Ditulisan sebelumnya, meski tidak secara mendetil, dituliskan terkait jejak awal persentuhan antara masyarakat keturunan Tionghoa dengan tanah Banten. Masyarakat Tionghoa, seperti keterangan dari sejarahwan Banten, Mufti Ali, memiliki kemampuan berdagang yang sangat baik, sehingga dilirik loh kesultanan Banten.

Menurut Mufti Ali, dari sekian banyak masyarakat Tionghoa yang tinggal dan berdagang di Banten, terdapat dua orang yang berhasil merebut perhatian Sultan, khususnya Sultan Ageng Triyasa. Kedua masyarakat Tionghoa tersebut yaitu Kaitsu dan Cakra Dana.

“Pada masa kesultanan, saudagar Tionghoa terbaik yaitu, Kaitsu dipercaya oleh Sultan untukbmenjadi seorang Syah Bandar, Kaitsu seorang Syah Bandar yang sangat  luar biasa, beliau sangat berjasa dalam mengembangkan perekonomian masyarakat Banten,” kata Mufti Ali kepada Radar Banten Online, Minggu (7/2/2016).

Setelah Kaitsu, Sultan Ageng Tirtayasa, menunjuk orang Tionghoa lainnya untuk menggantikan Kaitsu sebagai Syah Bandar Banten, orang Tionghoa tersebut disebut oleh Sulta Angeng Tirtayasa dengan nama Cakra dana. Masih menurut keterangan Mufti Ali, Cakra Dana pun seperti Kaitsu, memiliki peranan besar terhadap perekonomian Banten.

Dari penulusuran sejarah yang dilakukannya, menurut Mufti, dua keturunan Tionghoa ini yang berhasil membantu Para Sultan membuat Banten dikenal oleh dunia. Khusus nya pada sektor perdagangan.

“Benteng yang mengelilingi Kota Banten, khususnya yang benteng yang berada di garis paling luar yang menghadap pantai, buatan Cakra Dana. Cakra Dana pun merupakan Syahbandar paling menonjol diseluruh kerajaan atau kota pelabuhan di Asia tenggara. Cakar dana ini juga yang menghubungkan perdagangan kota Banten dengan kota-kota lain di seluruh dunia,” papar Mufti Ali.

Kaitsu dan Cakra Dana datang ke Banten, pada awal abad ke 17. Baik Kaitsu maupun Cakradana menurut penjelasan Mufti Ali pada awalnya datang ke Banten, murni sebagai seorang pedagang. Karena dinilai mempunyai konsep dan pemikiran yang bagus, akhirnya Kedua masyarakat Tionghoa tersebut diberikan posisi oleh Sultan.

“Memang karena dikenal oleh bangsa yang ulet, dan mereka tradisinya juga tradisi berdagang. Awalnya syah bandar dipegang oleh keturunan India, namun karena sejumlah masalah diganti oleh keturunan Tionghoa,” tambah Mufti Ali.

Kaitsu dan Cakra Dana masing-masing menjabat sebagai Syah Bandar selama tiga puluh tahun. Cakra Dana mengakhiri jabatannya saat terjadi perlawanan Sultan Haji kepada  sang ayah yang tak lain adalah Sultan Ageng Tirtaysa. “Karena merasa apa yang dibuatnya sejak masa Sultan Ageng Tirtayasa hancur, Cakra Dana pindah dan menjadi Syah Bandar di Cirebon,” ujarnya.

Kedekatan Kaitsu dan Cakra Dana dengan Sultan Ageng Tirtayasa bukan hanya sebatas di wilayah perekonomian saja, menurut Mufti, kedua orang Tionghoa tersebut mempunyai kedekatan dengan Sultan Ageng Tirtayasa dibidang politik. Kaitsu dan Cakradana banyak memberikan masukan kepada Sultan terkait perpolitikan di Banten. (Bayu)