Dua Pekan di Musim Penghujan, DBD Serang 22 Penderita

Dwi Oktaviani, salah satu warga Cilodan yang mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Kurnia akibat menderita DBD, kemarin.

CILEGON – Memasuki musim hujan, penyakit demam berdarah dengue (DBD) mulai menjangkit. Selama dua pekan terakhir, sudah 22 orang warga yang tercatat menderita penyakit tersebut.

Berdasarkan data yang dihimpun Radar Banten dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon, 22 orang yang menderita penyakit berasal dari nyamuk Aedes aegypti tersebut tersebar di delapan kecamatan di Kota Cilegon. Mayoritas terjadi di Kecamatan Citangkil dan Purwakarta.

Belum lama ini, penyakit itu kembali menghebohkan Kota Cilegon, di mana salah satu warga Kelurahan Gunungsugih, Kecamatan Ciwandan, dikabarkan meninggal akibat penyakit tersebut. Kemudian, sejumlah warga pun dikabarkan menderita dalam waktu yang relatif bersamaan.

Ditemui di ruang kerjanya, Kepala Dinkes Kota Cilegon dr Arriadna menjelaskan, sejak awal 2020, kasus penderita DBD sudah terjadi di Kota Cilegon. Namun, belum ada yang sampai menyebabkan warga meninggal dunia.

Terkait informasi adanya warga Kecamatan Ciwandan yang meninggal akibat DBD, menurut Arriadna, pihaknya telah melakukan pengecekan dan hasilnya belum bisa dipastikan jika warga berusia lima tahun itu meninggal karena DBD. “Memang ada orang demam tapi bukan DBD, yang meninggal kemarin juga bukan DBD,” tutur Arriadna, Kamis (16/1).

Untuk mengantisipasi penyebaran penyakit itu, Arriadna mengajak masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan melalui upaya pemberantasan sarang nyamuk, terlebih saat ini sedang memasuki musim hujan.

Dijelaskan Arriadna, upaya efektif untuk mencegah penyakit DBD adalah dengan memastikan tidak ada tempat berkembang biaknya nyamuk. Diketahui, nyamuk Aedes aegypti berkembang biak di air bersih sehingga masyarakat diharapkan untuk bisa memastikan tidak ada jentik nyamuk atau cekungan-cekungan yang bisa menampung air.

“Apalagi ini lagi hujan, air hujan kan bersih, kalau itunya (tempat berkembang biak nyamuk) enggak dihilangkan susah geh, itu saja masalahnya,” kata Arriadna.

Di awal tahun, Walikota Cilegon Edi Ariadi telah melayangkan surat edaran kepada seluruh kelurahan dan kecamatan untuk waspada penyakit DBD. Dia berharap jajaran di kelurahan dan kecamatan bersama warga sudah melakukan upaya pemberantasan sarang nyamuk guna mengantisipasi penyakit tersebut.

Di bagian lain, Ketua RT 18 Lingkungan Cilodan, Kelurahan Gunungsugih, Saipul menuturkan, pada tahun ini ada sekira enam warga di Lingkungan Cilodan yang menderita DBD, salah satunya adalah yang meninggal belum lama ini.

Menurutnya, DBD sudah menyerang warga di RT 16 dan RT 18 Lingkungan Cilodan sejak November 2019 lalu. Hingga kemarin, total sebanyak 12 warga yang terjangkit penyakit tersebut. “Sekarang satu orang masih di rawat di Rumah Sakit Kurnia,” ujarnya.

Meski Dinkes maupun puskesmas menilai yang meninggal maupun yang saat ini sakit bukan menderita DBD, tetapi ia menganggap sebaliknya. “Yang sudah berobat ke rumah sakit, ditanya kena DBD, masa dia memvonis sendiri, enggak mungkin kalau enggak ada info dari rumah sakit,” ujarnya.

Ketua RT 16 Lingkungan Cilodan Bram Junaidi mengaku, sudah mendapat penyuluhan dari Puskesmas Ciwandan. Untuk membersihkan lingkungan, rencananya hari ini (17/1) akan diadakan gotong royong. “Semua yang ada di rumah membersihkan area rumah, jalan-jalan, biar enggak ada nyamuk,” tuturnya.

Sementara itu, anggota DPRD Kota Cilegon Ibrahim Aswadi menuturkan, pemerintah harus gencar melakukan langkah antisipasi, dengan cara menyosialisasikan pentingnya kebersihan lingkungan dan memberantas jentik nyamuk.

“Yang penting pemerintah mendorong agar tidak terjadi sampai KLB demam berdarah karena kita tahu sekarang bulannya bulan hujan, jangan berdebat itu penyakit demam berdarah atau bukan, pemerintah harus bergerak cepat,” ujarnya. (bam/ibm/ira)