Dua Penadah Motor Curian Dihukum Sembilan Bulan

SERANG – Yaya alias Boya dan Sarifudin dihukum sembilan bulan penjara pada
sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Serang, Kamis (19/9). Hukuman tersebut dijatukan kedua pemuda tersebut telah terbukti melakukan penadahan motor curian.

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa berupa pidana penjara selama sembilan
bulan dikurangkan selama terdakwa berada di dalam tahanan,” ujar Ketua
Majelis Hakim Slamet Widodo saat membacakan amar putusan.

Pada sidang tersebut, kedua pemuda tersebut diadili secara bergantian oleh majelis hakim. Yaya diadili terlebih dahulu. Perbuatan Yaya dinilai majelis hakim telah memenuhi unsur dalam Pasal 480 ayat (1) KUHP tentang Penadahan. Warga Nambo Udik, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang tersebut dinilai majelis hakim telah meresahkan masyarakat sebagai pertimbangan yang memberatkan dalam amar putusan.

Sementara pertimbangan yang meringankan, Yaya belum pernah dihukum, bersikap sopan selama persidangan. “Terdakwa menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya,” kata Slamet dalam sidang yang dihadiri JPU Kejari Cilegon Wandy Batubara.

Usai pembacaan terhadap Yaya, majelis hakim langsung melanjutkan pembacaan vonis terhadap Sarifudin. Dalam uraian vonis, pertimbangan dan hukuman yang dijatuhkan majelis hakim terhadap Sarifudin sama dengan vonis yang dijatuhkan terhadap Yaya.

Kasus penadahan tersebut berawal dari pencurian sepeda motor oleh Edi Kurniawan dan Febrian (penuntutan terpisah). Kurniawan dan Febrian
mengasak sebuah motor jenis Honda Beat nopol A 6232 SN pada Sabtu 30 Maret 2019. Motor milik Robinsar tersebut sebelum dicuri sedang diparkir di halaman parkiran sebuaj rumah kos di Graha 22, Lingkungan Temu Putih, Kelurahan Jombang Wetan, Kota Cilegon.

Kondisi sekitar yang sepi membuat kedua pelaku merangsek masuk ke dalam parkiran. Edi yang sudah menyiapkan kunci leter T lalu merusak stop kontak motor. Setelah berhasil dirusak, motor tersebut didorong Edi dan dibawa kabur. Oleh keduanya, motor curian itu ditawarkan kepada Sarifudin seharga Rp2 juta.

Sarifudin yang tergiur dengan motor murah tersebut setuju untuk membelinya. Selang beberapa hari kemudian, Sarifudin menghubungi Yaya melalui ponsel. Dia menawarkan motor curian harga Rp2 juta. Yaya yang tertarik dengan motor tersebut lalu menemui Sarifudin dan membelinya.
“Terdakwa (Yaya-red) membeli motor tersebut tanpa dilengkapi surat-surat yang sah,” kata Slamet.

Atas vonis tersebut Sarifudin dan Yaya menyatakan menerima. Sikap yang sama diambil JPU Kejari Cilegon kendati vonis lebih rendah dua bulan dari tuntutan. “Kami menerima yang mulia (menyebut hakim-red),” tutur Wandy. (Fahmi Sai)