Dua Tahun Ambruk, Jembatan Belum Diperbaiki

Seorang warga berjalan di atas jembatan bambu yang berada di Lingkungan Langon II, Kelurahan Mekarsari, dan Lingkungan Langon Indah, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, Jumat (30/11).

PULOMERAK – Sudah dua tahun warga di Lingkungan Langon II, Kelurahan Mekarsari, dan Lingkungan Langon Indah, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, harus melewati jembatan darurat yang terbuat dari bambu. Awalnya, pada 2016 lalu, dua lingkungan yang terpisah oleh sungai itu melewati jembatan yang terbuat dari beton. Tetapi, akibat terjangan banjir, jembatan ambruk dan memutuskan akses masyarakat. Agar aktivitas tidak terganggu, jembatan bambu menjadi solusi sambil menunggu bantuan dari pemerintah.

Salamah, warga setempat menuturkan, jembatan sepanjang 12 meter itu menjadi tumpuan bagi masyarakat. Aktivitas sosial, pendidikan, maupun perekonomian dipengaruhi keberadaan jembatan itu.

Jembatan itu tidak hanya dibutuhkan oleh warga Langon II dan Langon Indah saja. Warga dari lingkungan lain seperti Kedungingas, Ciporong, Tanjung, dan Kedunggua, Kecamatan Bojonegara, juga kerap menggunakan jembatan tersebut.

“Sering lewat sini jika akses jalan utama menuju kampung mereka ditutup,” ujarnya kepada Radar Banten, Jumat (30/11).

Jembatan itu menjadi penting karena tidak ada akses lain bagi masyarakat. Warga secara swadaya berinisiatif membangun jembatan bambu itu. “Jembatan (bambu) sudah sering roboh, tapi dibangun lagi sama warga. Intinya, nggak kuat. Kalau ada banjir besar pasti roboh,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah segera memperbaiki jembatan itu dengan membuat jembatan beton agar masyarakat merasa nyaman dan aman dalam beraktivitas.

Anggota DPRD Kota Cilegon Rahmatullah menyayangkan jembatan yang telah ambruk selama dua tahun tak kunjung diperbaiki oleh Pemerintah Kota Cilegon. Ia menyayangkan di kota industri seperti Cilegon masih ada jembatan bambu.

“Saya berharap kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang ( DPUTR)  Kota Cilegon agar segera membangun jembatan ini,” ujarnya, saat meninjau jembatan tersebut.

Ia melanjutkan, jembatan merupakan infrastruktur yang sangat vital bagi masyarakat. Sama halnya seperti jalan, dampak dari infrastruktur itu ke segala sektor, mulai dari sosial hingga perekonomian.

Lurah Tamansari Edi Sugara saat dikonfirmasi Radar Banten mengungkapkan, jembatan itu adalah penghubung antara Kelurahan Tamansari dan Kelurahan Mekarsari. Di acara musyawarah perencanaan pembangunan kelurahan (musrenbangkel), pembangunan jembatan itu akan menjadi prioritas. “Mudah-mudahan bisa direalisasikan. Kita juga akan koordinasi dengan Kelurahan Mekarsari,” ujar Edi.

Menurut Edi, komunikasi dan koordinasi perlu dilakukan dengan Lurah Mekarsari mengingat jembatan itu sebagai akses penghubung dua kelurahan. Disinggung terkait sudah dua tahun jembatan beton ambruk akibat bajir, menurutnya, setiap tahun pembangunan jembatan sudah diusulkan, tapi karena terkendala anggaran, pembangunan belum bisa dilakukan. (Bayu M/RBG)