Dua Tahun Nelayan di Perairan Terate Paceklik

TIDAK MELAUT: Dua nelayan sedang duduk santai sambil menganyam jaring penangkap ikan di perahu yang bersandar di tambatan nelayan Desa Terate, Kecamatan Kramatwatu, Rabu (19/7). FOTO: ROZAK/RADAR BANTEN

KRAMATWATU – Para nelayan di Kabupaten Serang, terutama di perairan Terate, Kecamatan Kramatwatu, sudah dua tahun paceklik tangkapan ikan, terhitung sejak 2015. Selain faktor cuaca yang tidak menentu, aktivitas industri cukup memengaruhi penurunan habitat ikan.

Pantauan Radar Banten, Rabu (19/7), di Desa Terate, Kecamatan Kramatwatu, puluhan perahu nelayan berjajar rapi bersandar di tambatan. Di lokasi tambatan minim aktivitas nelayan, hanya dua nelayan yang terlihat sedang bersantai sambil menganyam jaring penangkap ikan.

Ditemui di sekitar tambatan, Ketua Kelompok Nelayan Desa Terate, Robani mengungkapkan, banyak nelayan yang tidak melaut akhir-akhir ini. Pemicunya, menurut Robani, hasil tangkapan ikan minim. “Kita juga enggak tahu penyebabnya kenapa ikan bisa langka,” keluhnya kepada Radar Banten di tambatan.

Padahal, menurut Robani, kondisi cuaca di perairan Teluk Terate tidak menjadi penghambat. Tinggi gelombang ombak dan curah hujan, dinilainya masih bersahabat dengan para nelayan. “Hanya itu saja kendalanya, ikannya langka,” ujarnya.

Dikatakan Robani, kondisi paceklik tangkapan ikan sudah berlangsung lebih dari satu tahun. Biasanya, kata pria paruh baya itu, nelayan dapat menangkap ikan sampai 500 kilogram sekali melaut. Sekali melaut bisa sampai tiga hari perjalanan. “Tapi, sekarang paling dapat 100 kilogram,” tukasnya.

Padahal, kata Robani, modal yang dikeluarkan nelayan sekali melaut cukup tinggi, bisa menghabiskan bahan bakar 50 sampai 100 liter solar. “Kalau ikannya enggak ada, berarti enggak balik modal. Nelayan rugilah,” keluhnya.

Lantaran itu, kata Robani, sebagian besar nelayan sekarang memutuskan untuk beralih profesi, mayoritas menjadi buruh pabrik. “Biasa, proyek pabrik musiman. Selama di laut tidak ada penghasilan, nelayan memilih ikut proyek pabrik,” ungkapnya.

Di Desa Terate, Robani mencatat lebih dari 280 warga berprofesi sebagai nelayan. Meski demikian, Robani tidak mengetahui pasti jumlah nelayan yang beralih profesi. “Tapi yang melaut tetap saja ada, sebagian,” tandasnya.

Kepala Seksi Pemberdayaan Nelayan Kecil pada Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Serang, Frans Santoso membenarkan, sudah dua tahun ini nelayan di perairan Kabupaten Serang menghadapi musim paceklik. Dampaknya, hasil tangkapan ikan nelayan anjlok. Biasanya, diungkapkan Frans, nelayan sekali berlayar bisa menangkap ikan satu sampai dua ton. “Sekarang anjlok, kurang dari lima kuintal ikan yang ditangkap sekali berlayar,” terangnya.

Di Kabupaten Serang, kata Frans, seluruhnya ada sekira 4.200 nelayan. Terbanyak di perairan Lontar, Kecamatan Tirtayasa. Di Terate nelayan mencapai ratusan. Menurut Frans, aktivitas nelayan terhambat karena angin kencang dan cuaca tidak menentu. “Pokoknya, nelayan sudah dua tahun ini pada pusing, lagi paceklik. Makanya, di Terate banyak yang pindah kerja ke pabrik,” ungkapnya.

Kondisi paceklik, kata Frans, membuat kapal nelayan di wilayah Terate, Kramatwatu, Bojonegara, dan Pulaompel hampir 60 persen mangkrak di tambatan. Kapalnya disewakan untuk kegiatan industri antar-jemput karyawan. Di Terate, lanjutnya, ada 30 kapal nelayan yang biasanya berlayar mencari ikan. “Sekarang sudah jarang nelayan yang berlayar, takut rugi. Iklimnya berubah, terus pengaruh aktivitas pabrik,” jelasnya.

Frans menambahkan, ketika nelayan menghadapi musim paceklik tangkapan ikan bisa mengajukan bantuan sembako kepada Pemkab melalui pemerintah kecamatan setempat. Setelah itu, lanjutnya, dari pemerintah kecamatan mengajukan kepada pemkab. “Selama ini belum pernah ada yang minta bantuan. Padahal, di kita dari Dinsos (Dinas Sosial-red) dan DKPPP masih punya cadangan beras,” pungkasnya. (Rozak/RBG)