Dugaan Penjualan 735 Ton Scrap, Direktur Keuangan PT KWT Diperiksa

0
2.063 views
DIGARIS POLISI: Aparat memasang garis polisi di sebuah truk pengangkut besi scrap yang terparkir di PT Pratama Galuh Perkasa di Kecamatan Grogol, Kota Cilegon, Rabu (26/7). Meski belum diketahui jumlah kerugian negara karena masih dalam penyelidikan, sebanyak 750 ton besi scrap ini rencananya akan dibawa ke Tangerang. FOTO: DONI KURNIAWAN/BANTEN RAYA

SERANG – Penyelidikan dugaan penyimpangan 735 ton limbah besi atau scrap PT Krakatau Steel (KS) terus bergulir. Kemarin (28/7), penyidik Subdit III Tipikor Ditreskrimsus Polda Banten meminta keterangan Bendahara PT Krakatau Wajatama (KWT) dan Direktur Keuangan PT KWT.

“Hari ini ada dua orang sedang dimintai keterangan. Bendahara dan Direktur Keuangan PT KWT,” kata Kanit II Subdit III Tipikor Komisaris Polisi (Kompol) Djafar NH kepada Radar Banten.

Dua petinggi PT KWT itu dimintai keterangan terkait dugaan pelanggaran prosedur pembelian scrap dari PT KS. “Kemarin Dirut PT KWT sudah diperiksa. Total semua yang diperiksa ada 4 orang dari PT KWT dan 3 orang dari PT KS,” kata Djafar.

Penjualan scrap dari PT KS ke PT KWT sudah selesai dengan menggunakan pembayaran surat kredit berdokumen dalam negeri (SKBDN). Penjualan limbah hasil produksi PT KS itu mengacu Permen BUMN Nomor 15 Tahun 2012 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara. “Kita akan lihat apakah dibenarkan atau tidak transaksi tersebut,” kata Djafar.

Penyidik juga akan mendalami alasan PT KWT menggunakan jasa PT Interwood untuk mengubah scrap menjadi bilet. Hal itu termasuk ada tidaknya selisih harga antara membeli bilet jadi atau mengubah scrap menjadi bilet. “Alasan mereka, kenapa harus membeli (jasa-red) scrap PT Interwood karena lebih cepat. Sedangkan, kalau import dari luar negeri bisa tiga bulan sampai gudang,” jelas Djafar.

Penyidik, sambung Djafar, berencana memanggil pihak PT Interwood dan saksi lain terkait kasus yang sedang diselidiki. “Tentu saja saksi yang berhubungan dengan peristiwa tersebut kita akan panggil,” kata Djafar.

Sebelumnya, Direktur Utama PT KS Mas Wirgiantoro Roes Setyadi memastikan scrap dari PT KS ke PT KWT merupakan kebijakan ia dan direksi KS. Kata dia, scrap itu juga tidak dijual melainkan diberikan ke PT KWT untuk tambahan modal sebagai anak perusahaan dari PT KS. “Itu keputusan dari direksi, bahkan saya yang menandatanganinya langsung. Jadi, tidak ada SKBDN ataupun pembayaran,” jelasnya.

Perihal pengiriman scrap dari PT KWT ke Interwood, Mas Wig menjelaskan, merupakan urusan antara kedua perusahaan itu. Namun, ia menuturkan, scrap itu dikirim ke PT Interwood untuk dijadikan bilet dan dikembalikan lagi ke PT KWT. “Saya pastikan barang itu legal dan disetujui direksi, karena plant pengolah scrap untuk menjadi bilet di KS sedang tidak berfungsi maka dikirim ke luar,” pungkasnya. (Merwanda/RBG)