Tiga belas tahun menjalani rumah tangga, pasutri Jono (58) dan Jeni (57), keduanya nama samaran hidup bahagia dengan dikaruniai empat anak. Namun apalah daya, semakin lama pernikahan bukannya semakin mesra, hubungan mereka malah tak seperti apa yang dibayangkan.

Tak bisa dipungkiri, faktor ekonomi menjadi penyebab utama munculnya berbagai masalah. Hingga akhirnya, lantaran tak mampu menahan kesabaran,

“Awalnya saya pikir dengan empat anak dia bakal mikir dan sadar, tapi ternyata susah. Di usia saya ke-42 tahun dan Jono 43 tahun, rumah tangga tak mampu lagi menahan terjangan gelombang kehidupan,” kata Jeni kepada Radar Banten.

Seperti diceritakan Jeni, dahulu Jono sebenarnya terlahir dari keluarga berada. Dengan aset tanah dan sawah di mana-mana, keluarganya memiliki perekonomian yang bagus. Namun lantaran ia anak terakhir dari tujuh bersaudara, sejak remaja sudah terbiasa hidup manja dan bergantung pada kakak-kakaknya.

Masa remaja dilalui penuh warna, dengan status sebagai anak orang kaya, ia punya banyak teman dan diterima di banyak kalangan. Tak hanya itu, dengan wajah tampan dan sikap diam bikin penasaran, ia sering ganti-ganti pasangan. Widih playboy juga ya Kang Jono.

“Ya begitulah, Kang. Tapi tetap saja, waktu itu dia yang ngejar-ngejar saya. Sayanya cuek sok jual mahal gitu,” aku Jenii. Hmm, ya terserah Teh Jeni sajalah.

Cerita berlanjut ketika Jono dan Jeni lulus SMA. Bak perahu yang terbalik di tengah dahsyatnya gelombang ombak, kehidupan Jono berubah 180 derajat. Katanya, bisnis ayahnya mengalami kebangkrutan karena ditipu orang. Mungkin karena stres berat menghadapi kejamnya kehidupan, takdir tak bisa dihindari duka pun menghampiri. Sang ayah meninggal dunia. Astaga.

Akhirnya, bersama sang ibu tercinta dan saudara lainnya, Jono menjalani hidup tanpa kehadiran kepala keluarga. Apalah daya, lantaran tak melanjutkan pendidikan, terbersitlah keinginan menuju jenjang pernikahan. Kebetulan, waktu itu ia sudah memiliki kekasih hati yang sudah terjalin sejak SMA, wanita itu adalah Jeni.

Berbeda dengan Jono, Jeni berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Ayah tak memiliki pekerjaan pasti, saudara-saudara Jeni dan semua kakak-kakaknya juga orang tak mampu. Meski begitu, lantaran cinta Jono yang sudah sangat dalam, bagaimana pun kondisinya, tak membuatnya mengurungkan niat meminang sang kekasih.

Singkat cerita, dengan keadaan keluarga yang masih dianggap sebagai orang terpandang di masyarakat, Jono meminang Jeni dengan pesta pernikahan meriah. Mengundang banyak tamu undangan, keduanya tampak bahagia bak raja dan ratu. Mengikat janji sehidup semati, Jono dan Jeni resmi menjadi sepasang suami istri.

Di awal pernikahan, mereka tampak menikmati lembaran baru kisah kehidupan. Duka ditinggal sang ayah seolah hilang begitu saja. Menjalani hidup bersama sang istri tercinta, Jono bekerja membantu usaha keluarga berupa kebun dan sawah. Setahun kemudian, lahirlah anak pertama. Membuat rumah tangga semakin berwarna.

Seiring berjalannya hari, Jono membangun rumah pribadinya bersama Jeni. Mereka pun dikaruniai dua anak. Namun apalah daya, lantaran tak ada yang benar-benar mampu mengelola bisnis keluarga, satu persatu aset yang dimiliki musnah. Bagai menunggu bom waktu, perekonomian rumah tangga pun ikut surut.

Hari demi hari dilalui Jeni tak secerah seperti awal menjalani pernikahan. Ia sadar, sang suami mengalami banyak perubahan. Mulai dari tak perhatian, sampai sering adu mulut hanya karena masalah sepele. Meski ia mencoba untuk melupakan, namun perlahan tapi pasti Jeni larut dalam keterpurukan. Aih, kenapa sih, Teh?

“Saya rasa sih, dia kayak enggak punya pegangan gitu. Apa-apa larinya ke kakak-kakaknya. Jadi kalau ada masalah, apalagi ekonomi, enggak bisa menyelesaikan sendiri,” terang Jeni.

Dan hari yang ditakutkan pun terjadi. Anehnya, tahu ekonomi sedang manurun, tapi produktivitas mengahasilkan keturunan tak pernah surut. Mereka kembali dikaruniai anak ketiga dan keempat. Di sisi lain, ekonomi keluarga dan rumah tangga benar-benar mengalami kehancuran. Habis sudah masa kejayaan, Jono tak berdaya menghadapi kenyataan. Aih, itu benar-benar bangkrut Teh?

“Iya, Kang. Semua simpanan seperti sawah, kebun, dan toko bangkrut. Bahkan rumah orangtua juga hampir-hampir mau dijual,” curhat Mimi.

Hidup sebagai seorang penganggur membuat Jono semakin tak karuan. Parahnya, ia terjerumus ke dunia kelam penuh tekanan. Setiap malam yang dilakukannya hanya berjudi dan mabuk-mabukan. Frustasi yang dialami semakin tak karuan, barang-barang elektronik yang dimilikinya sedikit demi sedikit terkuras untuk menutupi hutang-hutangnya karena kalah berjudi. Astaga.

“Waktu itu saya sudah coba kasih dorongan semangat dan nasihat, tapi ya dia enggak mau denger ucapan saya lagi,” kata Jeni.

Di sisi lain, Jono yang saat itu tenggelam dalam kubangan kehancuran, hanya pulang seminggu sekali. Parahnya, setiap pulang kerjaannya hanya marah-marah dan membentak anak istri. Terlalu lama menahan sabar di hati, membuat Jeni emosi dan merasa tak lagi dibutuhkan. Hingga akhirnya, puncak dari kehancuran itu di terjadi. Aih, sabar atuh, Teh.

“Kalau saja ada wanita yang bisa sabar ngadepin kelakuan dia, pasti saya acungin jempol, Kang. Gimana bisa terima ngeliat anak digebukin, dibentak-bentak, perih hati saya,” curhat Jeni.

Seolah tak pernah berhenti, kejadian itu terus terulang. Jeni yang tak sanggup melindungi diri dan anaknya, kerap meminta pertolongan pada RT setempat dan tetangga. Meski awalnya sempat diadakan musyawarah dan Jono berjanji tak mengulangi lagi, namun itu hanya bualan belaka.

Hingga suatu hari, seolah sudah lama menantikan kata-kata itu keluar dari mulut suami. Jeni berontak dan melawan. Ketika Jono hendak memukuli sang buah hati yang mulai tumbuh remaja, dengan lantang ia menjawab pernyataan suaminya. Aih, memang dia ngomong apa sih, Teh?

“Dia ngancem, kalau melawan bakal dicerai talak tiga. Nah, ya langsung saya teriak iya dan bilang ceraikan sekarang juga,” tukas Jeni emosi.

Apalah daya, mereka pun berpisah untuk selamanya. Jono sibuk dengan dunianya, sedangkan Jeni pergi ke Jawa membawa serta anak-anaknya dan memulai hidup baru di sana. Setahun sekali ia pulang ke Serang untuk menenemui orangtua dan keluarga. Dan saat ini ia sudah mempunyai suami baru dan usaha berjualan bakso.

Ya ampun, semangat ya Teh Jeni. Semoga langgeng terus dengan suami barunya. Amin. (daru-zetizen/zee/ags)