Duh! Enam RT Tak Resik

CIPOCOK JAYA – Dua tim juri Lomba Resik Lan Aman (LRLA) Kota Serang 2020 kecewa. Dari enam RT yang ditunjuk oleh Pemerintah Kelurahan Panancangan, Kecamatan Cipocok Jaya, untuk ikut lomba kebersihan dan keamanan antar-RT se-Kota Serang itu, nyaris tak ada yang memenuhi kriteria penilaian lomba. Masih kumuh.

Awalnya, tim 6 yang diterjunkan Dewan Juri LRLA ke RT 01 RW 08, Lingkungan Susukan; RT 01 RW 010, Lingkungan Lebak Gempol; dan RT 02 RW 010, Lingkungan Lebak Gempol; mengira ketiga perkampungan ini mengalami perubahan dibandingkan hasil penilaian tahap pertama pada awal Mei lalu. Tapi nyatanya, lingkungan ketiga RT tetap tidak resik.

Sampah plastik masih mudah ditemukan di jalanan, di tanah kosong, dan di selokan. Dari kondisi ini saja, kategori partisipasi masyarakat terbaik yang menjadi sasaran utama LRLA digulirkan, gagal dipenuhi.

Ketiga RT ini pun nyaris tidak ada penghijauan dan penanaman tanaman bunga atau tanaman hias. Kalau pun ada, hanya beberapa tanaman hias di dalam pot di pinggir jalan. Itupun tidak subur. Tidak dirawat.

Soal pembentukan kelompok pemuda penggerak lingkungan dan kelompok penggerak sadar hukum, berikut legalitas pembentukannya, juga tidak ada. “Sebenarnya, tak lama setelah penilaian tahap pertama, kami sudah mengajukan nama-nama pengurus kedua kelompok ke kelurahan, tapi sampai sekarang (kemarin-red), SK (surat keputusan-red)-nya belum kami terima,” kata Ketua RT 01 RW 08, Lingkungan Susukan, Syahroni, Senin (7/9). Pernyataan Syahroni diamini Ketua RT 01 RW 010, Lingkungan Lebak Gempol, Nahri.

Syahroni mengaku tidak menerima utuh dana stimulan dari Pemkot Serang untuk menata kampungnya. Dari uang bantuan senilai Rp5 juta per RT itu, ia menyebutkan, menerima Rp1 juta lebih.

“Sisanya diberi barang sama Pak Lurah (menyebut Lurah Panancangan Syarif-red). Bambu untuk pemagaran, tanaman, pot, dan cat,” ungkapnya.

Di RT 01 RW 010, Lingkungan Lebak Gempol, tim juri menilai, poin untuk perkampungan ini justru turun. Pasalnya, sedikit hiasan yang sudah terpasang saat penilaian tahap pertama, kemarin tidak ditemukan lagi. 

“Pada pegat (putus-red) talinya,” ujar Nahri.

Kriteria penilaian keamanan lingkungan, ketiga RT tersebut juga tidak bisa memenuhinya. Kondisi pos rondanya memprihatinkan. “Beberapa waktu lalu juga ada kejadian (kriminalitas-red),” ungkap Iptu Sriyanto, juri perwakilan dari Polres Serang Kota.

Sementara, tim 7 yang diutus menilai RT 01 dan RT 02 di RW 011, Lingkungan Turus; serta RT 02 RW 08, Lingkungan Susukan; juga tidak puas. Dari tiga RT ini, cuma RT 01 dan RT 02 di Lingkungan Turus yang ada sedikit penambahan. Yakni, pemagaran dan penghijauan. 

“SK kelompok penggerak lingkungan dan kelompok sadar hukum untuk ketiga RT belum ada,” tandas M Widodo, juri perwakilan Radar Banten.

Di ruang kerjanya, Lurah Panancangan Syarif, tidak menampik jika lingkungan enam RT yang dia daftarkan untuk mengikuti LRLA tidak bisa berkompetisi. “Memang tidak ada yang diandalkan. Uang stimulan itu sudah saya belikan bambu, cat dan tanaman berikut potnya, tapi susah masyarakatnya,” tukas Syarif.

Mengenai kelompok pemuda penggerak lingkungan dan kelompok penggerak sadar hukum di enam RT itu, Syarif membenarkan jika belum mengesahkannya. “Saya bingung SK-nya seperti apa. Saya cari-cari referensi SK untuk kedua kelompok itu, tidak ketemu,” jelasnya. (don-mg06)