Duh, kok Diintip sih! Pindah yuk

Tinggal di rumah mertua yang sederhana, Ecih (35) nama samaran, tak nyaman karena sering merasa ada orang yang mengintip dari jendela luar. Ia pun meminta pindah rumah kepada suaminya, sebut saja Tono (36). Namun, Tono tidak mau karena tidak punya biaya untuk bayar kosan. Mereka pun akhirnya pisah ranjang.

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Pontang, Ecih siang itu terlihat rapi. Soalnya, mau berkunjung ke rumah saudara di Kecamatan Ciruas. Tapi, berhubung terik matahari sedang menyengat, Ecih pun bersedia duduk sejenak dan menceritakan kisahnya.

Diceritakan Ecih, perjumpaannya dengan Tono bermula saat mereka mengikuti pelatihan jahit di rumah warga yang aktif membuat produk kerajinan kaus. Tono yang lebih dulu suka dengan Ecih, sering cari perhatian dengan mengajak bercanda. “Awalnya benci banget sama dia, orangnya pengin dialem gitu,” kata Ecih.

Terlebih, jika dilihat dari penampilan, kata Ecih, Tono tidak terlalu tampan. Kulitnya hitam dan posturnya kurus tinggi. Berbeda dengan Ecih yang ngakunya sih cewek paling cantik di kampung. Kalau dari penampilan sih, Ecih memang menarik. Bercelana jeans dan kaus ketat, Ecih terlihat seksi dan menggoda.

Dengan bentuk tubuh seksinya, wajarlah kalau Ecih tidak menyukai Tono yang biasa saja. Ditambah lagi Tono juga bukan lelaki kaya, orangtuanya hanya buruh tani. Tapi, mungkin memang sudah berjodoh, setelah saling mengenal dekat, akhirnya Ecih jatuh cinta juga. “Saya juga enggak tahu kenapa, dipelet kali ya,” guyon Ecih.

Ecih mengaku, nyaman dengan perlakuan Tono yang sangat perhatian. Berbeda dengan lelaki yang pernah dekat dengannya, yang cenderung cuek dan hanya mencintai Ecih karena lekuk tubuhnya saja. Setahun pacaran, mereka pun menikah.

Ecih merasa bahagia bisa menikah dengan Tono. Meski harus tinggal di rumah mertua, tetapi Ecih menerima Tono apa adanya. Tono yang waktu itu hanya bekerja serabutan, mampu membuat Ecih bahagia dengan kesederhanaannya. “Dia orangnya jujur, punya uang atau enggak punya dia selalu bilang,” katanya.

Hari ketiga pernikahan, Ecih merasa ada yang mengintip dari luar jendela kamar mereka. Rumah Tono berada di pojokan dan dekat sawah, situasinya sangat sepi ketika malam. “Kayak ada suara orang bisik-bisik gitu dari luar,” kata Ecih.

Besok paginya Ecih mengadu kepada suami. Tapi, Tono malah menyepelekan ketakutan istrinya. Dengan seenaknya Tono bilang kalau apa yang dirasakan Ecih cuma halusinasi saja karena baru tinggal di rumahnya. “Saya takutnya pas lagi begituan ada yang ngintip, kan bahaya,” katanya.

Tono yang setiap pulang dengan kondisi lelah, bisa langsung tidur nyenyak. Tapi, tidak dengan Ecih yang terus menerus merasakan ada orang yang mengintip dari luar. Karena masalah itu, mereka pun sering ribut. “Kang Tono enggak pernah mau percaya sama saya,” tukas Ecih.

Namun, akhirnya Tono dan keluarganya merespons ketakutan Ecih, mereka sampai meronda berjaga di luar rumah setiap malam selama seminggu. Hasilnya tidak pernah ada orang lewat apalagi mengintip. Hal itu membuat Tono semakin tidak percaya kepada istrinya.

Tapi, setelah ronda itu, Ecih kembali merasakan ada yang mengintip dan berusaha membuktikan ketakutannya dengan keluar rumah dan memergoki si pengintip. Ketakutan Ecih benar, ia melihat beberapa pemuda yang berlari ke tengah sawah setelah ketahuan oleh Ecih. “Tapi, suami dan keluarga tetap enggak percaya,” keluhnya.

Akhirnya Ecih mengamuk dan pergi pulang ke rumah orangtuanya. Selama tiga bulan mereka pisah ranjang. Beruntung, waktu itu Ecih ternyata sedang hamil, hal itu membuat amarah Ecih kepada Tono luntur. Tono pun ikut bahagia mendengar kabar akan mempunyai anak. Tono akhirnya tinggal di rumah Ecih, menemani istrinya hingga melahirkan. “Alhamdulillah sekarang masih harmonis,” katanya.

Semoga Kang Tono dapat rezeki banyak ya, Teh. Biar bisa beli rumah yang bagus dan enggak bisa diintipin orang. Amin. (mg06/zee/ira)